Tanpa Restu 

April 2015, kuutarakan niat menikahi wanita yang kutemukan di pinggir situ . Miska, janda dewa beranak dua, namun kecantikannya bak gadis belia. Aku bersungguh-sungguh. 

Tanpa restu orangtuaku, kakak, dan adik-adikku, aku akan tetap menikah. 

Mereka cukup tahu. Keputusan mutlak berada di tanganku.

**

Miska tampak begitu cantik dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya.

 Pernikahan secara sederhana itu akhirnya terlaksana.

Kulewati malam pertama dengan canggung, Miska sigap membimbingku. Kupatuhi semua intruksinya. Kami bercinta di pinggir situ, tempat pertama kali aku menemukannya. Di bawah temaram bulan purnama, aku mencumbui tubuh Miska, masih lengkap dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya. Pantang baginya melepas kain putih saat kami bercinta. Aku manut saja. Gairahnya luar biasa. Hingga klimaks-ku yang ketiga, Miska belum ingin menyudahinya. Kain putihnya lepek dibuatnya. Tapi Miska enggan lepas. Dia balas menciumi aroma tubuhku dengan lahap. 

**

Setahun berlalu, kami rutin bersenggama setiap bulan purnama dengan durasi yang luar biasa.

Masalah selalu muncul setiap kali kutanyakan perihal kebijakan Miska, membalut kain putih sekujur tubuhnya.

“Demi Dewa, ini janjiku jikalau kita ingin terus hidup bersama, jangan banyak bertanya!” Miska selalu memberiku jawaban yang sama.

“Tapi, aku ingin menyentuh tubuhmu, tanpa terhalang sehelai benangpun!” bisikku. 

“Demi Dewa, aku tak boleh mengingkari janjiku, Seno!” 

“Tapi kenapa?”

“Balutan kain putih ini, adalah kehormatanku.” katanya “sejujurnya, itu karena kita belum mendapat restu dari orangtua, dan saudara-saudaramu.” lanjutnya. 

“Tapi, mereka tak akan pernah merestui hubungan kita, karena mereka tak pernah bisa melihat wujudmu.”

“Bersabarlah, Seno!”

“Persetan, dengan janjimu. Kau adalah istriku, aku ingin menyentuhmu, itu hakku. Dan mematuhiku, adalah kewajibanmu. ” 

Aku kalap. Raja Iblis telah menguasaiku. Kurenggut kain putih yang membalut wajahnya. Seberkas cahaya berkilauan. Cantik sempurna. 

“Kumohon, cukup!  Hentikan ini, Seno!” 

Kutarik kain putih ditubuhnya, berbelit-belit. Tak kunjung habis.

Hidup. Kain putih itu menggeliat-liat. Perlahan melilit tangan, kaki, hingga tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu. 
—-

Untuk Prompt #127 @mondayff

 

(Reduced) Memperkecil Ukuran file pdf via Whatsapp 

Langsung saja, Gaes, setelah reduced -memperkecil ukuran file pdf via online di situs smallpdf.com tidak berhasil (ukurannya masih terlalu besar untuk diupload ke situs rekrut.kereta-api.co.id, dari originalnya 1.5Mb hanya berhasil menjadi 378kb, syarat maksimal upload ke situs rekrut.kereta-api.co.id adalah 200kb) 
Tidak menyerah, saya bereksperimen ini-itu, tapi belum berhasil. Akhirnya bohlam di kepala saya menyala terang, dan hei,  kenapa tidak kucoba via Whatsapp?

Begini langkahnya,

1. Pastikan kamu punya target eksperimen (halah), minta izin teman kamu, iya teman kamu. 

2. Kirim dokumen pdf kamu 

3. Setelah terikirim, klik menu pojok kanan atas pada Whatsapp.
4. Pilih  menu paling bawah “Save as…”(Lihat gambar)

5.Pilih menu “Reduced File Size Copy”

6. Pilih “Smaller File Size” kemudian OK

7. Pilih direktori:terserah kamu, internal boleh, eksternal boleh, pastikan kamu tidak lupa file direktorinya, biar gampang saat upload. (Dalam kasus ini, saya memilih direktori default Internal/whatsapp/dokumen.) jadi saat upload langsung cari folder Whatsapp deh.
8. Selesai. File kamu tersimpan. 
*Note: Dalam eksperimen saya, file yang saya kirim via Whatsapp, beresolusi 378kb, menjadi 178kb, berhasil masuk kriteria ukuran maksimal website rekrut.kereta-api.co.id. Semoga berhasil ya, Gaes!

Pesan Untuk Anak Orang Miskin 

​”Pegangin tangan Arif, Rul!”

“Siap, San!” 

“Gue, Bantu!” kata Azis
“Mampus, Lu! Macem-macem, sama gue! Belagu! ”

Buk! Buk! Hasan meninju perutku tanpa ampun.

Setelah mereka melihatku melemah, penyiksaan itu berakhir.

Meninggalkanku sendirian. Dalam jarak sepuluh meter, mereka berhenti. Memaki-maki. 

Badanku panas, jantungku berdetak-detak kencang. Aku ingin balas, tapi tak bisa. Dongkol. Secepatnya kuraih batu-batu di jalan, kulempar ke arah mereka, kemudian lari tunggang langgang. 

Dalam debar ketakutan, kutengok mereka, alih-alih mengejarku, mereka jongkok, berkerumun. 

***

Sesampaiku di rumah, Ibu langsung curiga mendapatiku kucel, berpeluh keringat. 

“Kenapa, kamu?” tanya ibuku, menyelidik.

“Gak apa,Bu!”

Ibu kembali sibuk menyulam pada temaram lampu minyak. 

“Tidur, sana! Besok hari Senin, upacara!” kata ibuku.

***

Tepat saat aku hendak memejamkan mata, kudengar suara bapak-bapak berteriak 

“Mana, anakmu, lempar batu kena muka anakku berdarah! Kurang ajar!”

“Anakku, nggak bakal berulah kalau nggak diganggu duluan!” kata ibu. 

“Alah, mana anak sialan itu?”

“Mau apa kamu?” 

“Pokoknya, awas kalau kejadian seperti ini terulang, aku akan tuntut! Camkan itu, dasar orang miskin!” 

“Ya! Apa urusannya kalau anakku orang miskin?  Yang penting anakku nggak miskin akhlak!” 

Gegas lelaki itu pergi, mengayuh sepedanya. 

Ibuku tak menyadari aku yang sedari tadi mengintip dari lubang pintu. 

Jika aku tak salah, sosok bapak yang meneriaki ibuku adalah bapaknya Hasan.

Malam itu aku tak jadi tidur cepat, ibu menginterogasiku, menanyakan kronologis yang sesungguhnya. Sepulang mengaji tadi, aku disergap oleh Hasan, Azis, dan Haerul,  alasannya mereka mungkin tersinggung saat Pak Kyai memilihku untuk memberi contoh pada yang lain, padahal biasanya itu jatah si Hasan. Entahlah, mungkin ada masalah lain. Ibuku tahu aku berkata jujur. 
Aku ingat pesan ibuku sebelum menyuruhku tidur malam itu, “…jangan marah jika orang lain mengejek kita miskin, jangan jadi patah semangat, terus belajar, dengan ilmu kelak kita akan menjadi kaya. Jangan pendendam.”

Maafkan aku, Bu, aku masih penasaran bagaimana nikmatnya menonjok perut Hasan berkali-kali. 

*

Putih-Putih

​Kakak Denis, tetanggaku punya kelinci. Aku iri padanya. Karena itu, aku minta Ayahku membelikanku kelinci juga. 
“Yah, Nanda mau kelinci kayak punya Kak Denis, boleh, Yah?”
“Hmmmmm.” 

“Dua, Yah?” 
“Hmmmm.”
“Warna putih, Yah!”
“Hmmm. Besok, Ayah belikan.” Ayah mengelus kepalaku. 

“Horeeeee! AYAH, terbaik sedunia!” 
“Mana sayangnya Nanda, buat Ayah?”

Aku sangat senang. Aku cium Ayah. Ayah balas menciumku.
***

Benar saja, esoknya,  sepulang sekolah, dua ekor kelinci putih, lengkap dengan kandangnya, ada di halaman rumahku. Lucu sekali. Kelincinya sibuk menggaruk-garuk hidung. Samar kudengar, ada yang panggil namaku… 
“Nanda…”

Aku celingukan. Heran.

“Non Nanda…”

Ternyata Mbok Yem, pengasuhku. 

“Ayo, ganti baju dulu, nanti dimarahin Ayah loh, kalau seragamnya kotor!”
“Siap, Mbok! Jagain Putih-Putih ya, Mbok!”
“Jangan lupa, makan dulu ya,  Non!” 

Bergegas, aku mengganti baju, cuci tangan, dan makan. Aku tak sabar bermain dengan Putih-Putih. Cepat-cepat aku habiskan makan siangku. Hehehe, kukira nama itu cocok untuk kuberikan pada dua kelinci baruku.
Sejak kecil, Mbok Yem-lah yang mengasuhku, aku kesepian. Mbok Yem tak bisa sepenuhnya bermain denganku, Mbok Yem sibuk ini itu di rumahku. Begitu juga dengan Ayahku,  aku bertemunya saat pagi berangkat sekolah,  dan terkadang malam, itupun kalau aku belum tidur.
Kata Ayah, Ibuku di Surga, aku tak tahu Surga itu di mana. Kata Ayah, Surga itu jauh banget. Entahlah. Dulu, aku sering menangis kalau lihat Kak Denis digendong Ibunya, aku iri. Tapi kata Ayah juga, itu tidak baik. Berdoa jauh lebih baik. 
“Ayo, Putih-Putih, makan wortelnya ya!”

Seharian ini, aku senang sekali bermain dengan Putih-Putih. Mereka lucu, apalagi saat menggaruk-garuk hidung. 

“Non Nanda, kenapa senyum-senyum sendiri?” 
“Ngga, Mbok! Putih-Putih lucu deh!”

“Udah ya, Non Nanda, tidur dulu, sudah larut, nanti Ayah marah kalau Non tidurnya terlalu malam.”
“Siap grak!”
***

Hah? Kututup bibirku dengan kedua tanganku. Aku kaget, satu Putih tiba-tiba saja sudah duduk  di tempat tidurku.

“Sssst! Kuelus punggung putih. Dan tiba-tiba tubuhnya bercahaya, menyilaukan. Seisi kamarku menjadi putih-putih.

Kulihat kanan-kiri. Semuanya putih. 

Putih meloncat-loncat ke arah pintu, aku mengikuti Putih. Pintunya tiba-tiba membuka sendiri. Kulihat sosok bidadari cantik bergaun putih-putih. Putih berhenti di depannya, kemudian Bidadari menggendong Putih. Di tangannya, Bidadari memegang kembang api, berkilauan.

“Nanda, kau sudah besar sekarang, sini Nak!”

Cerita Orangtua Tentang Sumur Tua

Di pekarangan kosong, persis di depan rumahku ada sumur tua. Konon sumur itu adalah tempat mandi keluarga Ibu Darto yang kini telah lama pindah entah ke mana. Ibu Darto memiliki dua anak laki-laki. Sepeninggal Pak Darto, Ibu Darto membawa serta kedua anaknya yang masih kecil merantau ke kota. Rumahnya ditinggalkan begitu saja. Tanah bekas berdiri rumahnya kini jadi sengketa saudaranya. Tapi porsi cerita ini bukan untuk membahas keluarga mereka. Ya, ini tentang sumur tuanya. Selayaknya sumur tua, dinding batu-batanya telah runtuh satu-satu, bahkan setengah dindingnya telah hilang. Lumut-ganggang melekat di sekujur bibir sumur itu.

Kata bapakku, dulu, sebenarnya sumur itu sempat akan di-urug, tapi urung. Hanya rumahnya yang dirobohkan. Pantas saja, kini aku hanya dapat melihat petakan-petakan bekas pondasinya, tak jauh dari sumur tua itu.

“Kenapa tak jadi di-urug, Pak?”tanyaku.

“Karena sumber airnya bagus, bening terus.” Bapakku melanjutkan, “Bahkan air di sumur itu tak pernah kering, meski kemarau panjang.”

Juga kata ibuku, dulu sebelum dindingnya rontok, kami sekeluarga numpang mandi di situ setiap pagi dan sore.  Masalah bercokol dari situ, Pak Sudar, saudara tertua dari almarhum Pak Darto tak suka jika keluarga kami memanfaatkan sumur itu. Hanya karena kami pendatang baru, miskin, dan sok akrab. Semakin ke sini kami baru tahu yang sebenarnya, bahwa Pak Sudar memang membenci keluarga kami, yang tak tahu balas budi.

Tragedi terjadi, pada suatu pagi saat ibuku hendak mandi,”Astaghfirullah….” batin ibuku, saat ia melihat gumpalan kuning ditimba air pertamanya. Gegas ibuku menceritakannya pada bapakku, ada orang jahil buang hajat ke sumur itu. Beruntung hari itu hari minggu, bapak-ibuku punya waktu untuk menguras air di sumur itu. Sampai tengah hari. Satu-satu tetangga menanyakan perihal apa yang terjadi, sambil terus menguras, ibuku hanya menjawab dengan senyum “Ada yang jahil, buang hajat di sini.”

Sore harinya, saat ibuku hendak memandikanku, tiba-tiba Pak Sudar muncul membawa palu, dan marah-marah. “Minggat kowe, dari sini, Pergi sana! Jangan pakai sumur ini lagi, mau aku urug!” Kalap. Pak Sudar memukuli dinding batu-bata satu-satu, sembari terus memaki,“Dasar ora ngerti balas budi, nggak tahu terima kasih, numpang tapi nggak sadar diri!” Aku menangis, gegas ibu menggendongku pulang.

Semiggu ibuku tak memakai sumur itu lagi. Takut, namun ibuku masih menggunakannya sembunyi-sembunyi. Mengambil airnya pada malam hari, menyimpan di bak penampungan rumah kami.

Minggu kedua, ibuku sadar, Pak Sudar tak pernah tampak batang hidungnya.

Malam harinya, sehabis isya, pintu rumah kami diketok.

Tok tok…

“Siapa?” teriak ibuku dari kamar karena sambil menyusui adikku.

Hening.

TOK TOK…

Gegas ibuku membukakan pintu. Ibu Sudar nyelonong sebelum ibuku mempersilakan.

“Ngapunten, Bu! Saya mohon maaf.”

“Punapa, Bu?”

“Saestu! Saya minta maaf, atas kelakuan suami saya kemarin, sekarang suami saya sakit, seperti orang bingung,baru mimpi, ditegur sama penunggu sumur itu. Sumur itu boleh dimanfaatkan oleh siapa saja, jangan sampai tidak. Ngapunten, kemarin suami saya sembrono, buang hajat di situ.”

Dan semenjak kejadian itu hingga sekarang, sudah berkali-kali saudara almarhum Pak Darto yang lain coba mengurug sumur tua itu. Selalu urung, berakhir sakit, semacam orang linglung.

Dongeng Kelam

Dia hidup di negeri dongeng

Di suatu tempat yang sangat jauh dari kita

Dia telah lupa…

Aku sungguh tak ada ide untuk menceritakan dongeng  ini padamu,tapi tetap akan kucoba ceritakan.

Dia hidup di negeri dongeng

Di suatu tempat yang sangat jauh dari kita, tentu saja!

Pada suatu musim hujan kelopak mawar merah yang berguguran dari langit, dia asyik masyuk bermain dengan bonekanya, menjejaki padang rumput yang luas, sesekali mengepakkan sayap rama-ramanya, riang gembira. Menelusuri taman bunga bakung yang gemerlapan seperti lampu bohlam warna-warni, bukan, bukan bohlam, tapi ada kunang-kunang di dalamnya, kemudian ia membebaskan kawanan kunang-kunang dari sana. SEKETIKA langit gemerlap oleh kerlipan cahaya kunang-kunang. Dia berjingkrak gembira. Masih di padang rumput belaka, ia menyaksikan KSATRIA sedang berlatih dengan panahnya, kemudian Sang PUTRI yang sedang sibuk merangkai bunga.

Jauh di sana. Di ujung sana, ia melihat kastil istana yang megah jumawa, berlarilah ia ke sana mengikuti nalurinya. Sesampainya ia, pintu kastil itu seketika terbuka seolah menyambut kedatangannya, tanpa curiga ia memasukinya, tanpa sadar dengan peringatan yang terpampang di sana, “AREA TERLARANG” ia telah jauh memasuki altarnya. Puluhan, mungkin ratusan, cermin terpasang, oh bukan terpasang namun melayang-layang tersusun sedemikian rupa.

“Selamat datang, anak manis, aku sudah lama menunggu kedatanganmu.”

“Si… siapa di sana?” katanya terbata, sambil menebar pandangan sekitarnya.

“Jangan takut anak manis, aku Cermin Ajaib. Lihatlah bayangan cermin di depanmu, anak manis!”

“Memangnya kenapa? Itu hanya pantulan bayanganku.”

“Karena aku Cermin ajaib, aku bisa menampilkan apapun yang kau minta, sebutkanlah!”

“Benarkah? Maksudku, apapun yang kuminta?”

“Tentu saja!” “hanya ada syaratnya, kau tak boleh mengingkari apapun yang akan kuperlihatkan nantinya.”

“Baiklah. Itu mudah. Aku hanya ingin tahu, seperti apa aku di masa lalu dan siapa aku di masa depanku nanti.”

“Apa kauyakin dengan permintaanmu itu?”

“Tentu saja!”

Pantulan bayangan pertama menampilkan sesosok boneka kayu buruk rupa. Seorang Ibu-Ayah yang buruk rupa.

“Si—apa itu?” tanyanya dengan gemetar, seperti ketakutan.

“Masa lalumu, dan kedua orangtua itu adalah Ibu-Ayahmu, mereka menjadi pengemis demi menghidupimu. ”

“TIDAK MUNGKIN. Keluargaku tak seburuk itu.”

Pantulan bayangan kedua, secara beruntun menampilkan Putri cantik jelita.

“Seperti itukah aku di masa depanku?”

“Benar. Kau akan jadi selebritis terkenal, tapi sayangnya kau menelantarkan kedua orangtuamu.”

“TIDAK! TIDAK AKAN!”

“Tapi itulah takdir yang yang harus terjadi. Sudah kukatakan, kau tak boleh menyangkal dan mengingkarinya.”

“TIDAK! KAU BERBOHONG!”

“HARUS! SEMUA TERTULIS  SEPERTI ITU!”

Seketika istana dipenuhi kepulan asap pekat, dinding-dindingnya ditumbuhi tanaman sulur-sulur yang melebat, seakan ingin memerangkapnya di situ. Dia berlari sekuat tenaga, menjauh. Di luar istana petir menggelegar, hujan akan segera menghunjam dunia. BERLARI. Ia terus berlari. Berlari. Tanpa sadar ada lubang di depannya dan ia terjatuh ke situ. Terkubur bersama kenangannya. Selamanya.

 

Untuk Prompt #114 – Berdasarkan lagu “Brick By Boring Brick- Paramore”

 

 

 

Prompt #103 – NYASAR

Tepat sebulan aku mengikuti pelatihan di salah satu perguruan pencak silat. Malam ini kuikuti pelantikan, sekaligus pemberian slayer, tanda keanggotaan resmi. Ya, bukan pemberian yang diserahkan percuma, melainkan dengan perjuangan. Begitu bocoran dari seniorku. Benar, sejak siang kami berada di-area perkemahan?- Karangsambung, Kebumen. Tempat yang baru kudatangi, suasananya asing. Jauh dari perkampungan. Sejauh mata memandang hanya terlihat perbukitan, hutan jati, dan semak belukar. Sumber penerangan yang diizinkan kami bawa, hanya beberapa batang lilin, itupun boleh kami nyalakan saat keluar tenda.

Gerimis, sesekali geluduk juga terdengar. Bulu kudukku meremang dibuatnya. Angin bertiup, menggerakan rimbun pepohonan. Daun bergesekkan, menimbulkan bunyi gemerisik. Perasaan gelisah membuatku tak terpejam, hingga aku sadar ada bayangan melintas tenda. Aku diam. Tenang. Mencoba tak berpikir bahwa itu mungkin hantu. Tapi aku gagal saat bayangan itu makin mendekat, tampak besar. Sukses! Kini jantungku berdebar. “Der…” Kudengar suara bisikan-memanggilku?- “Derry… bangun… keluar… sekarang giliranmu…” bisikan itu terdengar semakin jelas. Kubuka retsleting tenda, kudapati seniorku berdiri di depan tendaku, menenteng petromax. Aku lega. Dia mengarahkanku menghadap senior penguji. Sesampainya di situ, senior mengintruksikanku untuk demontrasi latihan dasar yang kupelajari selama ini; kuda-kuda, dan beberapa jurus dasar lainnya. Selesai. Senior kembali mengarahkanku untuk mengambil slayer di kuburan atas, dengan jarak lurus satu kilometer dari tempatku berdiri. Dibekali dua hio, dan korek api batang. Hio sebagai batas waktuku menemukan slayer. Satu hio kubakar, aroma harum menguar, gegas kutembus keremangan malam tak gentar. Sepi mamring, gerimis belum geming. Sesekali bunyi jangkrik, kodok, berkelindan riuh dengan gemerisik daun pepohonan karena embusan angin. Aku gigil. Sengaja tak menebar pandangan ke pepohonan, malas rasanya jika mendadak menemukan objek dibenak. Aku terus berjalan menunduk, memegangi hio erat. Kuikuti tanjakan yang mungkin mengarahkanku pada lokasi kuburan. Gerimis makin sadis. Tetesannya merah serupa darah. Bau amis. Aku berharap hanya halusinasi. Setengah jam lebih, satu hio habis. Gusar. Gemetar. Aku baru sadar hanya berputar-putar.

Cras! Kucoba menyalakan hio kedua. Sial, apinya mati sebelum menyulut hioku.

Cras! Mati tertiup angin. Mendadak jantungku berdebar tak keruan.

Cras! Batang koreknya patah.

Kuhela nafas. Tiga batang terakhir tersisa. Angin bertiup sepoi menelusup batang leher. Merinding.

Bismillahirrahmannirrahim. Cras! Kutuntun api perlahan menyulut batang hioku. Membara, terbakar. Asap wanginya menguar serupa aroma bunga kamboja. Kuputuskan menuruni tanjakan. Berjalan lurus lagi. Akhirnya, kutemukan bukit berundak, haqul yakin, naik ke situ, kudapati area kuburan. Aku berputar-putar. Coba beranikan diri, meski bulu kuduk meremang semakin riang. Lima putaran, hingga keringat dingin, tak kunjung kutemui slayer itu. “Guk!” Jantungku loncat. Burung sialan! Makiku gentar. Bibir tergetar. Tepat saat aku menyerah, dan putuskan turun meninggalkan area kuburan, “Astaga! Di situ ternyata!” desisku. Kulihat sepotong slayer putih terikat di pohon kamboja tinggi dekat pintu masuk. Bulat tekad untuk memanjat. Meski debaran jantung kurasa makin meningkat. Berpijak cabang kedua, kugapai ujung slayer yang menjuntai. “Aku dapat!” desisku. Saat kutarik kenapa berat? Ikatanya terlalu kuat? Air terasa menetes dari slayer basah, aku terperanjat saat kudongakkan kepala, slayer berubah warna serupa tanah. Sesosok pocong dengan kepala rusak, menghantam tubuhku. Aku terpeleset jatuh. Sesaat sebelum semuanya gelap, kudengar suara kikik nyaring.

_

 

AND GO YOUR OWN WAY

AND EVERYTHING WILL BE FINE