Peluru Yang Bersarang di Otakku

Foto: korannonstop

~
DOR! Peluru dari revolver rakitanku melesat, menembus kaki istriku. Tubuhnya ambruk. Berdebam. Darah merembes dari kakinya. Aku kalap saat dia mengabarkan kehamilannya. Padahal seingatku, setiap permainan kami, kukenakan kondom. Tetangga berkerumun, melarikan istriku ke rumah sakit, aku berlari ke kantor polisi menyerahkan diri. Pendeknya, aku divonis sepuluh tahun, meski aku berharap lebih lama dari itu. Tentu saja kautahu maksudku, aku pengangguran. 

Sepuluh tahun ternyata berlalu cepat hanya dalam satu paragraf ceritaku.

Aku harus berjuang untuk hidup,  pikirku. Tak lagi punya tempat tinggal, aku menggelandang. Hingga angin membawaku pada kepala begal. Tiba-tiba…

“Kau bisa menembak?” 

“Bisa.” 

“Bagus. Mari, kau kurekrut jadi anggotaku!”
Begitulah kira-kira, singkat cerita kini aku bagian dari mereka.

Tengah malam beroperasi. Di jalanan sepi, pengendara motor sial melintas, kami beraksi.

Memepet dari kanannya, “Berhenti!” teriak temanku.

Pengendara kalap, memacu motornya, “Bangsat! Tembak saja, Cuk!” usul temanku. Aku bersiap.

Di tengah keremangan kutarik pelatuk, kubidik korban sialan itu. DOR! Revolverku mengenai lengan targetku. Oleng. Beruntungnya, motor itu ambruk ke semak-semak, sementara pengendara terpental, tubuhnya berdebam menghantam aspal. Dalam keremangan kulihat darahnya mengucur. Gegas kuambil alih motornya. “Mampus. Dasar sial!” Aku menyumpah. Misi pertama berhasil. Begitu juga dengan misi-misi selanjutnya. Bertahun-tahun.

Sampai pada akhirnya polisi mengendus aksi kami. Pertempuran sengit terjadi, markas kami terkepung. Kulihat kawan-kawanku lari dalam bingung, sementara aku nyaris limbung setelah peluru nyasar menembus kakiku yang dibungkus sarung. Darah menerus di tengah pelarianku. Terkatung-katung. Tepat di saat napasku tersisa satu-satu, seraut wajah sangat kukenal, dialah mantan istriku. Seketika aku rebah.


“Bangun! Bajingan keparat!” teriakan itu mengembalikan kesadaranku dalam lemas. Aku terkejut, posisiku terduduk, sekaligus terikat dalam kursi. Darah masih menetes dari betisku. Perih.

“Halo, Bajingan, apa kabar?” 

BUK! Dia menendang tulang keringku sepersekian detik sebelum sempat aku menjawab. Aku mengaduh dalam sakit yang tak terkira.

“Kau akan ingat ini,” ucapnya saat menunjukkan benda di balik genggaman tangannya, lalu mengarahkannya ke dahiku. “Persis, kan?” desisnya. 

Aku ingat, itu revolverku yang melepaskan peluru pada betis istriku dulu.

“Jikalau bukan karena aku dinikahi lagi oleh polisi itu…” katanya sambil meneteskan air mata. 

“Kau… kautega membunuh bayiku, Bangsat!” ucapnya dingin. Menatapku tegar. Sambil menarik pelatuk, kulihat tangannya gemetar. Tak peduli aku gusar.

DUAR! Peluru itu bersarang di otakku untuk sekejap lalu keluar.

***

Untuk Prompt #134: Peluru @MondayFF

LIBRA

Gambar: Arteide- Eduardo Rodriguez

Jam 9.00, bel berbunyi, waktu istirahat. Gegas aku ke kantin, karena tadi pagi belum sempat sarapan. Membeli sebungkus nasi kuning dan segelas es teh, aku duduk di pojok kantin.

Membawa sebungkus roti, Bono datang menghampiriku.

“Lo beneran putus sama Tono, Mar?”

Sedetik aku berhenti menyendok nasi, “Iya,” jawabku singkat tanpa memandang Bono.

“Bukan karena kemarin lo nemenin gue ke distro kan?”

“Hmmmm.” Sendokkan terakhir, dan nasi kuningku tandas.

“Begini ya, gue sama Tono emang udah tengkar jauh sebelum ini, bukan karena kemarin gue nemenin lo ke distro terus jadi masalah.”

“Syukur deh… lo emang temen yang baik, Mar. Makasih ya, kemarin udah mau dengerin curhat gue.”

“Eh, terus gimana, lo udah baikan sama Lisa?”

“Udah sih, tapi Lisa tetep minta kita udahan.”

“Sabar ya, Bon. Suatu saat lo pasti dapet yang lebih baik.”

Obrolan otomatis terputus waktu bel tanda masuk berbunyi. Bono yang polos dan malang, batinku.

Kuselesaikan hari dengan sepenuh hati. Menyimak pelajaran Bahasa Indonesia dengan tekun. Hingga bel tanda usai pelajaran berbunyi.

Nanti sore, jangan lupa ya, datang ke Ultah adek gue. Bono mengirim pesan.

*

Jam 15.00, aku sampai di halaman rumah Bono. Dia datang menyambutku. Orangtuanya mempersilakanku masuk. Baru selangkah masuk, adiknya langsung menghadangku.

“Hadiahnya mana, Kak?” todongnya. Kuulurkan padanya kotak kado berisi mainan, membuatnya otomatis kegirangan. “Horeee, makasih, Kak Marisa!” katanya sambil mengecup punggung tanganku.

“Sama-sama,” jawabku sambil mengusap-usap kepalanya.

Kembali adik Bono menghambur, bercengkerama dengan teman sebayanya. Berlari-lari.

Bono mempersilakanku duduk.

“Terima kasih ya, sudah mau datang,” katanya. Kuanggukkan kepala. Tak berapa lama, anak-anak menyanyikan lagu beruntun selamat ulang tahun-tiup lilin-potong kue dengan riang gembira. Diawali dengan berdoa sebelum potong kue, semua mengamini dengan khidmat.

Setelah memberikan potongan kue pertama untuk orantuanya, secara mengejutkan adik Bono memberikan potongan keduanya padaku.

“Buat Kak Marisa,” katanya. Serempak tepuk tangan bergemuruh.

Sambil kukecup keningnya kuucapkan “Terima kasih.”

“Kak Ma-ri-sa…” ucapnya terbata, “Kak Bono jom-blo-loh, mau nggak, Kakak jadi pacarnya?”

Sekakmat. Serasa tersedak kue tart, aku tak sanggup berkata-kata. Hingga pesta ulang tahun itu usai.

Aku pamit pulang. Bono mengantarku menaiki Busway bersama. Tak ada percakapan sedikit pun di antara kita.

“Marisa, maaf soal yang tadi dibilang adikku,” katanya akhirnya, setelah sampai di Kalideres.

“Nggak apa-apa, Bon,” jawabku. Kami berpisah di situ.

Sambil menunggu Bus AKAP menuju Poris, aku iseng membeli majalah.
Kubuka halaman demi halaman dengan malas, hingga mataku tertumbuk pada halaman yang memuat ramalan zodiak. Jariku menekuni satu per satu, terhenti pada LIBRA.

… Banyak yang kagum pada Libra… zodiak yang paling suka bergaul…

Mereka pendengar yang baik… namun, tidak begitu tegas dalam memutuskan sesuatu…

Baik pria maupun wanita Libra, umumnya cepat mendapat jodoh.*)

Kututup majalah itu, saat bus Primajasa: Kalideres-Poris menderu di depanku. Kulambaikan tangan pada kernet, gegas masuk menekuni bangku kosong. Setelah aku duduk, bus siap melaju. Begitupun denganku, esok kan kusambut hari baru.

__

*dari zodiaktop

Untuk Prompt #132 – Zodiak @mondayFF

Ikat Kepala Kakekku

Gambar: Webtoon

”Jangan macam-macam dengan barang peninggalan Kakekmu.” ujar ibu.
“Nggak apa-apa, Bu. Ini kan cuma ikat kepala. Kupakai saja.”

Sejak itu ikat kepala kujadikan jimat keberuntungan. Selalu kubawa kemana saja. 
*
Tengah malam. Hujan gerimis. Rintik menitik bau amis. Langkah kaki berderap-derap, rupanya itu suara langkah kaki Amar dan Amir keliling ronda, mengepul beras jimpitan. Sesekali siul-siul, bernyanyi.
DEG. Mendadak sunyi. Bibir Amar dan Amir tak lagi berbunyi. Tepat di teras rumah yang hanya diterangi bohlam lima watt. Temaram. Sesosok nenek menghadap tembok, sibuk menyisir rambut putih panjangnya. Paling Mbah Yem, batin Amir.
“Lagi ngapain, Mbah? Dhidhis kok tengah malam?” sapa Amar, melangkah-mendekat, mengambil beras di gantungan teras. Geming. Nenek itu tak menjawab. “Permisi…” Gegas Amar mengajak Amir pergi. Seusai berkeliling kampung, saat kembali ke pos, seseorang memberi tahu, rumah itu kosong, ditinggal pergi ke luar kota sore tadi.
**
Kejadian di teras rumahku itu mendarat di telingaku esoknya, saat keluargaku pulang.
Bualan, batinku.
Malamnya, hujan-geluduk turun. Gemerisik nyanyian daun gayam membuatku mengantuk, aku rebah.
Tak… Tuk… Sayup  kudengar suara tetes air menembus genteng bocor. Kuabaikan.
Tuk… Tuk… Suara itu semakin riuh.
Pergelangan kakiku serasa digigiti nyamuk. Nyeri.

Berat, kupaksakan buka mata demi menggaruk. Kutekuk kakiku, agar tanganku leluasa menggaruk. Namun, kurasakan tanganku digerayangi. Astaga! Aku melonjak. Sekumpulan rangrang menggigiti kaki dan tanganku. Terhuyung-huyung, menyeka rangrang di tangan dan kakiku. Banyak. Rangrang terus jatuh dari sarangnya yang terhempas angin, masuk melewati atap genteng yang bocor. Perlahan merayapi tembok, kupandangi dari posisiku berdiri, perlahan membentuk gambar serupa wajah. Entahlah. Aku melanjutkan tidur di kamar sebelah.

**
Malam Jumat, saat tertidur pulas, dalam mimpiku, melintas sesosok makhluk berbaju hitam, tinggi menjulang, hingga tak dapat kulihat wajahnya.  Mengitariku berkali-kali. Tak berhasil kubaca ayat-ayat. Lidahku kelu. Kaki besarnya menginjak leherku. Engap, aku tak  bernapas. Lalu dingin merambat di leherku, seketika mataku terbuka. Kupegang leherku, benda empuk bergerak-gerak. Tanganku refleks melempar. SIAL! Ular sebesar jari tangan baru saja menggerayangiku, menggeliat di jendela saat kunyalakan lampu. Menjulurkan lidah bercabang, seperti mengejekku. Tubuhnya abu-abu, kepalanya merah. Gemas, sigap kuambil gagang sapu. Kupukul-pukul. Kepalanya nyaris hancur. Ekornya menggeliat, melingkar, seperti menyembuhkan kepalanya.

Seketika sekelilingku mendadak gelap. Asap mengepul mengepungku. Kembali dingin merambati kepalaku. Air menetes-netes, baunya anyir darah busuk.

Kudongakan kepala,  dua bola jingga semburat terang menatapku dari ceruk mata yang buyar kelopaknya. Lengkungan mulutnya selebar bulan sabit, gigi-gigi tajamnya terbit. Rambut putihnya menjulai, dari tengkorak yang cerai-berai. Beruntun terdengar desahan menggema di telingaku, “I-kat ke-pa-la-ku…”

___
*Dhidhis : mencari kutu sendiri

Untuk Prompt #131 – Horror @mondayff

 

Apakah Ini Bisa Kausebut Kisah Cinta?

Gambar :@julialillardart

Titik-titik hujan di bulan Oktober membangkitkan kenanganku di masa lalu.

 

Berkelebat kisah waktu titik-titik hujan membasahi seragam Yani, kala berteduh di emperan rumahku sepulang sekolah. Menolak masuk saat kupersilakan. Tampias menderas. Kuputuskan untuk mengantarkan dia pulang. Berjalan canggung, sepayung.

 

DULU, semasa Sekolah Dasar, kami sering bermain bersama. Bersandiwara menjadi orangtua…

 

“Kamu jadi bapaknya ya!” ujar Yani.

 

Aku protes. “Nggak, aku ingin jadi ibunya!”

 

“Tapi…” Yani menggaruk kepala.

 

“Kan, cuma bohongan, ceritanya aku yang hamil.” Aku menjelaskan.

 

“Baiklah.” Yani terpaksa setuju.

 

Cerita berlanjut, aku pura-pura menjadi ibu yang hendak melahirkan, mengelus perut, ekspresi wajah gelisah, lengkap dengan dialognya. Yang kesemuanya kusalin dengan cermat saat menyaksikan keseharian ibuku.

 

Aku tersenyum, teringat potongan kisah itu. Di luar hujan masih bergemericik. Benakku asik menerawang, kenangan terbang membayang…

 

Aku dan Yani telah remaja, masuk SMA berbeda. Kita jarang bertegur sapa. Senyum hanya sekadarnya saat bertatap muka. Yani semakin cantik saja. Sedangkan aku tetap biasa.

 

Sesekali kulihat Yani pulang dengan teman lelakinya. Belakangan hampir tiap hari Yani jalan dengan lelaki yang sama. Kuat dugaanku lelaki itu pacarnya. Setahun aku absen menyapanya. Aku bukan siapa-siapa.

 

Hmmm. Gemericik hujan makin berisik.

 

Tahun kedua di SMA, kudengar kabar Yani dikeluarkan dari sekolahnya. Yani mengurung diri di kamarnya. Lelaki yang sama sesekali menjenguknya.

Sembilan bulan kemudian kudengar Yani melahirkan anaknya.  Saat itu aku baru tahu selama ini Yani menyembunyikan kehamilannya. Aku sedang sibuk bergelut dengan Ujian Nasional. Aku masih bukan apa-apa…

 

Sebulan setelah melahirkan, barulah Yani dinikahi lelaki yang sering menjenguknya. Tiga bulan setelahnya, Yani dicerai suaminya, saat mengetahui bayi itu bukan darah dagingnya, melalui serangkaian tes DNA.

 

 

Seketika aku yakin bayi itu adalah hasil karyaku. Ya, tragedi sepayung berdua waktu itu, sesampaiku di rumah Yani yang sepi, birahiku menggebu, dan kami bercumbu.

 

***

Untuk Prompt #129- Love Story @mondayff

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Satu-satunya

#FF100kata berikut kuikutsertakan dalam audisi #MFFIdol2 dengan tema “PRESTIGE”

—-

Hari ini rapor kenaikan kelas dibagi. Semua teman sekelasku sudah tahu mereka naik kelas 6. 
Pukul 13.00, kulihat jam dinding di ruang Kepsek dari jendela. Sepi. 
Kuberanikan diri menghadap Kepsek. 

“Permisi, Pak” 
“Ya Min, ada apa?” 
“Rapor saya bisa diambil, Pak?” 

“Kamu tahu peraturan sekolah?” 

“Ya Pak, tapi Ibu belum ada uang untuk melunasi SPPku.” 
“Lalu?” 
“Bapak Kepsek tak bisa membantu keponakanmu ini?” 
Dia menggeleng. 

“Apapun yang Bapak minta, akan aku lakukan.” 
Aku coba bernegosiasi. Aku pasrah. Aku hanya ingin raporku 

Ruang Kepsek lengang…

“Baik, ayo! Lakukan sekarang!” katanya. 

Kubuka ritsleting celananya dan kukulum batang yang menjuntai di selangkangannya. 
Inilah jalan satu-satunya.

Tragedi Teguh dan Romlah


Gambar: @julialillardart

​Romlah

Teguh, suamiku, mana berani dia mengkhianatiku. Meski aku tahu, mudah baginya untuk mendekati wanita mana pun. Apalagi wanita murahan pinggir jalan, berpaling dari wajah tampannya adalah mustahil. Tapi aku jamin, dia adalah lelaki polos yang setia, sejak sekali dia coba menggoda perempuan lain, tapi betapa bodohnya, pasalnya, Surti yang didekatinya adalah kaki tanganku. 

Mampuslah dia. Surti mengadukannya padaku. Semingguan lebih Teguh merengek, minta maaf. Ampun, takkan mengulangi perbuatannya. Kadung cinta, aku luluh, memberinya kesempatan kedua. Asal jangan coba-coba mengulang kesalahan yang sama. Awas saja!


Teguh


Romlah, dia kadung jatuh cinta padaku. Meski aku ini polos, bodoh, tapi ketampananku yang membuat hatinya sudi berlabuh. Kiranya aku ini dermaga, dia kapalnya, berlabuhlah cintanya. Sinting! Biarlah. Romlah tetap segalanya, dia anak juragan kaya. Yang penting, kini hidupku bahagia. Meski harus berpura-pura…

“Guh, kamu ini ganteng, bisalah dapat dua kali lebih dari sekadar Romlah! Kamu yakin dengan semua itu?” ujar Joko mengejekku.
Hening.
Lo harus berani menentukan. Memilih yang terbaik, bagaimana jalan ke depannya nanti.” Joko melanjutkan.
Diam. Kusesap-embuskan rokokku. Serumit inikah hidupku? 
DRRRT! Ponselku bergetar, notifikasi order pelanggan Uber. Klik. Kuambil.
Gua duluan, Ko. Ada order.” kataku pada Joko. Dia mengangguk, mempersilakan.
Manjur. Ejekan Joko terus terngiang-ngiang sepanjang jalan. Cukup dibenak saja. Traumaku luar biasa pada tragedi menggodai Surti. Aku harus bersyukur, Grandmax yang kupakai bekerja adalah aset dari Romlah. Akan tetapi… rasaku, tetap ada yang kurang darinya. Joko benar, secepatnya akan kuputuskan jalanku sendiri. Aku harus berani.

**

“Betul dengan, Mbak Romlah?”
“Ya, ini siapa?”
“Saya Karmilah. Teguh, benar suaminya, Mbak?”
“Ada apa dengan suami saya?”
“Aduh! Anu.. Mbak, gawat! Suami Mbak melamar Joko, kakak saya…”
—- Untuk Prompt #128 @MondayFF

Tanpa Restu 

April 2015, kuutarakan niat menikahi wanita yang kutemukan di pinggir situ . Miska, janda dewa beranak dua, namun kecantikannya bak gadis belia. Aku bersungguh-sungguh. 

Tanpa restu orangtuaku, kakak, dan adik-adikku, aku akan tetap menikah. 

Mereka cukup tahu. Keputusan mutlak berada di tanganku.

**

Miska tampak begitu cantik dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya.

 Pernikahan secara sederhana itu akhirnya terlaksana.

Kulewati malam pertama dengan canggung, Miska sigap membimbingku. Kupatuhi semua intruksinya. Kami bercinta di pinggir situ, tempat pertama kali aku menemukannya. Di bawah temaram bulan purnama, aku mencumbui tubuh Miska, masih lengkap dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya. Pantang baginya melepas kain putih saat kami bercinta. Aku manut saja. Gairahnya luar biasa. Hingga klimaks-ku yang ketiga, Miska belum ingin menyudahinya. Kain putihnya lepek dibuatnya. Tapi Miska enggan lepas. Dia balas menciumi aroma tubuhku dengan lahap. 

**

Setahun berlalu, kami rutin bersenggama setiap bulan purnama dengan durasi yang luar biasa.

Masalah selalu muncul setiap kali kutanyakan perihal kebijakan Miska, membalut kain putih sekujur tubuhnya.

“Demi Dewa, ini janjiku jikalau kita ingin terus hidup bersama, jangan banyak bertanya!” Miska selalu memberiku jawaban yang sama.

“Tapi, aku ingin menyentuh tubuhmu, tanpa terhalang sehelai benangpun!” bisikku. 

“Demi Dewa, aku tak boleh mengingkari janjiku, Seno!” 

“Tapi kenapa?”

“Balutan kain putih ini, adalah kehormatanku.” katanya “sejujurnya, itu karena kita belum mendapat restu dari orangtua, dan saudara-saudaramu.” lanjutnya. 

“Tapi, mereka tak akan pernah merestui hubungan kita, karena mereka tak pernah bisa melihat wujudmu.”

“Bersabarlah, Seno!”

“Persetan, dengan janjimu. Kau adalah istriku, aku ingin menyentuhmu, itu hakku. Dan mematuhiku, adalah kewajibanmu. ” 

Aku kalap. Raja Iblis telah menguasaiku. Kurenggut kain putih yang membalut wajahnya. Seberkas cahaya berkilauan. Cantik sempurna. 

“Kumohon, cukup!  Hentikan ini, Seno!” 

Kutarik kain putih ditubuhnya, berbelit-belit. Tak kunjung habis.

Hidup. Kain putih itu menggeliat-liat. Perlahan melilit tangan, kaki, hingga tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu. 
—-

Untuk Prompt #127 @mondayff

 

(Reduced) Memperkecil Ukuran file pdf via Whatsapp 

Langsung saja, Gaes, setelah reduced -memperkecil ukuran file pdf via online di situs smallpdf.com tidak berhasil (ukurannya masih terlalu besar untuk diupload ke situs rekrut.kereta-api.co.id, dari originalnya 1.5Mb hanya berhasil menjadi 378kb, syarat maksimal upload ke situs rekrut.kereta-api.co.id adalah 200kb) 
Tidak menyerah, saya bereksperimen ini-itu, tapi belum berhasil. Akhirnya bohlam di kepala saya menyala terang, dan hei,  kenapa tidak kucoba via Whatsapp?

Begini langkahnya,

1. Pastikan kamu punya target eksperimen (halah), minta izin teman kamu, iya teman kamu. 

2. Kirim dokumen pdf kamu 

3. Setelah terikirim, klik menu pojok kanan atas pada Whatsapp.
4. Pilih  menu paling bawah “Save as…”(Lihat gambar)

5.Pilih menu “Reduced File Size Copy”

6. Pilih “Smaller File Size” kemudian OK

7. Pilih direktori:terserah kamu, internal boleh, eksternal boleh, pastikan kamu tidak lupa file direktorinya, biar gampang saat upload. (Dalam kasus ini, saya memilih direktori default Internal/whatsapp/dokumen.) jadi saat upload langsung cari folder Whatsapp deh.
8. Selesai. File kamu tersimpan. 
*Note: Dalam eksperimen saya, file yang saya kirim via Whatsapp, beresolusi 378kb, menjadi 178kb, berhasil masuk kriteria ukuran maksimal website rekrut.kereta-api.co.id. Semoga berhasil ya, Gaes!

Pesan Untuk Anak Orang Miskin 

​”Pegangin tangan Arif, Rul!”

“Siap, San!” 

“Gue, Bantu!” kata Azis
“Mampus, Lu! Macem-macem, sama gue! Belagu! ”

Buk! Buk! Hasan meninju perutku tanpa ampun.

Setelah mereka melihatku melemah, penyiksaan itu berakhir.

Meninggalkanku sendirian. Dalam jarak sepuluh meter, mereka berhenti. Memaki-maki. 

Badanku panas, jantungku berdetak-detak kencang. Aku ingin balas, tapi tak bisa. Dongkol. Secepatnya kuraih batu-batu di jalan, kulempar ke arah mereka, kemudian lari tunggang langgang. 

Dalam debar ketakutan, kutengok mereka, alih-alih mengejarku, mereka jongkok, berkerumun. 

***

Sesampaiku di rumah, Ibu langsung curiga mendapatiku kucel, berpeluh keringat. 

“Kenapa, kamu?” tanya ibuku, menyelidik.

“Gak apa,Bu!”

Ibu kembali sibuk menyulam pada temaram lampu minyak. 

“Tidur, sana! Besok hari Senin, upacara!” kata ibuku.

***

Tepat saat aku hendak memejamkan mata, kudengar suara bapak-bapak berteriak 

“Mana, anakmu, lempar batu kena muka anakku berdarah! Kurang ajar!”

“Anakku, nggak bakal berulah kalau nggak diganggu duluan!” kata ibu. 

“Alah, mana anak sialan itu?”

“Mau apa kamu?” 

“Pokoknya, awas kalau kejadian seperti ini terulang, aku akan tuntut! Camkan itu, dasar orang miskin!” 

“Ya! Apa urusannya kalau anakku orang miskin?  Yang penting anakku nggak miskin akhlak!” 

Gegas lelaki itu pergi, mengayuh sepedanya. 

Ibuku tak menyadari aku yang sedari tadi mengintip dari lubang pintu. 

Jika aku tak salah, sosok bapak yang meneriaki ibuku adalah bapaknya Hasan.

Malam itu aku tak jadi tidur cepat, ibu menginterogasiku, menanyakan kronologis yang sesungguhnya. Sepulang mengaji tadi, aku disergap oleh Hasan, Azis, dan Haerul,  alasannya mereka mungkin tersinggung saat Pak Kyai memilihku untuk memberi contoh pada yang lain, padahal biasanya itu jatah si Hasan. Entahlah, mungkin ada masalah lain. Ibuku tahu aku berkata jujur. 
Aku ingat pesan ibuku sebelum menyuruhku tidur malam itu, “…jangan marah jika orang lain mengejek kita miskin, jangan jadi patah semangat, terus belajar, dengan ilmu kelak kita akan menjadi kaya. Jangan pendendam.”

Maafkan aku, Bu, aku masih penasaran bagaimana nikmatnya menonjok perut Hasan berkali-kali. 

*

Putih-Putih

​Kakak Denis, tetanggaku punya kelinci. Aku iri padanya. Karena itu, aku minta Ayahku membelikanku kelinci juga. 
“Yah, Nanda mau kelinci kayak punya Kak Denis, boleh, Yah?”
“Hmmmmm.” 

“Dua, Yah?” 
“Hmmmm.”
“Warna putih, Yah!”
“Hmmm. Besok, Ayah belikan.” Ayah mengelus kepalaku. 

“Horeeeee! AYAH, terbaik sedunia!” 
“Mana sayangnya Nanda, buat Ayah?”

Aku sangat senang. Aku cium Ayah. Ayah balas menciumku.
***

Benar saja, esoknya,  sepulang sekolah, dua ekor kelinci putih, lengkap dengan kandangnya, ada di halaman rumahku. Lucu sekali. Kelincinya sibuk menggaruk-garuk hidung. Samar kudengar, ada yang panggil namaku… 
“Nanda…”

Aku celingukan. Heran.

“Non Nanda…”

Ternyata Mbok Yem, pengasuhku. 

“Ayo, ganti baju dulu, nanti dimarahin Ayah loh, kalau seragamnya kotor!”
“Siap, Mbok! Jagain Putih-Putih ya, Mbok!”
“Jangan lupa, makan dulu ya,  Non!” 

Bergegas, aku mengganti baju, cuci tangan, dan makan. Aku tak sabar bermain dengan Putih-Putih. Cepat-cepat aku habiskan makan siangku. Hehehe, kukira nama itu cocok untuk kuberikan pada dua kelinci baruku.
Sejak kecil, Mbok Yem-lah yang mengasuhku, aku kesepian. Mbok Yem tak bisa sepenuhnya bermain denganku, Mbok Yem sibuk ini itu di rumahku. Begitu juga dengan Ayahku,  aku bertemunya saat pagi berangkat sekolah,  dan terkadang malam, itupun kalau aku belum tidur.
Kata Ayah, Ibuku di Surga, aku tak tahu Surga itu di mana. Kata Ayah, Surga itu jauh banget. Entahlah. Dulu, aku sering menangis kalau lihat Kak Denis digendong Ibunya, aku iri. Tapi kata Ayah juga, itu tidak baik. Berdoa jauh lebih baik. 
“Ayo, Putih-Putih, makan wortelnya ya!”

Seharian ini, aku senang sekali bermain dengan Putih-Putih. Mereka lucu, apalagi saat menggaruk-garuk hidung. 

“Non Nanda, kenapa senyum-senyum sendiri?” 
“Ngga, Mbok! Putih-Putih lucu deh!”

“Udah ya, Non Nanda, tidur dulu, sudah larut, nanti Ayah marah kalau Non tidurnya terlalu malam.”
“Siap grak!”
***

Hah? Kututup bibirku dengan kedua tanganku. Aku kaget, satu Putih tiba-tiba saja sudah duduk  di tempat tidurku.

“Sssst! Kuelus punggung putih. Dan tiba-tiba tubuhnya bercahaya, menyilaukan. Seisi kamarku menjadi putih-putih.

Kulihat kanan-kiri. Semuanya putih. 

Putih meloncat-loncat ke arah pintu, aku mengikuti Putih. Pintunya tiba-tiba membuka sendiri. Kulihat sosok bidadari cantik bergaun putih-putih. Putih berhenti di depannya, kemudian Bidadari menggendong Putih. Di tangannya, Bidadari memegang kembang api, berkilauan.

“Nanda, kau sudah besar sekarang, sini Nak!”