Update Status #4

“Pemimpin yang tak mempunyai jiwa
kepemimpinan. parahnya kalau pemimpin
itu jiwanya penguasa otoriter dan arogan.
rusaklah makna sebuah kepepimpinan.
jadilah para bedebah!”


Hujan di sore ini deras sekali, sederas kebencian gue  pada seseorang yang… *ah males nyebutinnya* hehe sebaiknya pembahasan ini tak usah dilanjutkan karena roman-nya bakal menebar kebencian. Dan gue tak mau itu. Hehe. Kembali ke tengtop! Eh kembali ke topik!

Gue harap anda bersedia membaca kutipan status diatas minimal 2X ! Harus! *hhaa maksa*

Sudah baca kan? Nah gimana menurut anda dengan deskripsi pemimpin macam itu ?

Pemimpin yang tak berjiwa kepemimpinan, otoriter, arogan pula! *haisssssh* horor yah?

Jadi apa gue berlebihan kalau diakhiri dengan istilah bedebah?

Hmmm. Kalau masih ngerasa asing dengan istilah kata arogan, otoriter dan bedebah mari saya tunjukan *maaf sedikit menggurui*

Otoritér :

berkuasa sendiri ;
sewenang -wenang: tindakan yg –

Arogan:

Sombong, congkak

Bedebah:

Celaka (–sebagai makian)

Referensi : istilahkata

Untuk melengkapi review kali ini ijinkan saya merujuk referensi artikel dari sini

Uraiannya sebagai berikut :

Seorang pemimpin memiliki
peranan strategis untuk
menentukan jalannya roda
organisasi dan kinerja suatu
lembaga.

Baik buruknya sebuah
organisasi, banyak ditentukan oleh
kualitas pemimpin dengan bentuk
kepemimpinannya yang
dijalankannya.

Melihat pada
pentingnya peranan dari seorang
pemimpin, maka pemimpin
haruslah terus berkembang dalam
rangka untuk memenuhi perubahan
kebutuhan dan tuntutan-tuntutan
baru yang berbeda di masyarakat.

Perubahan yang saat ini terjadi
adalah perkembangan dalam
bidang teknologi yang
mempermudah komunikasi antar
individu dan semakin meningkatnya
kegiatan strategis antar tempat
yang letaknya berjauhan secara
geografis. Hal tersebut
memunculkan gaya kepemimpinan
baru—
virtual leadership .

Artikel ini akan
membahas tantangan yang
dihadapi dan kompetensi yang
dibutuhkan oleh
virtual leader dan bagaimana cara
mengembangkan gaya
kepemimpinan ini
dalam sebuah lingkungan yang
baru.

Menurut beberapa sumber, peranan
virtual leader tidak jauh berbeda
dengan traditional leader dimana
face-to-face interaction terjadi,
namun yang membedakan adalah
mereka harus memimpin tim virtual
dengan komunikasi yang lebih
terbatas.

Beberapa tantangan
utama yang dihadapi oleh virtual
leader adalah kurangnya interaksi
fisik dan kurangnya kepercayaan
dari anggota tim.

Perbedaan jarak,
waktu, budaya dan bahkan hukum
menyebabkan tingkat kompleksitas
dari tim semakin tinggi.
Keadaan geografis yang berjauhan
juga mengurangi intensitas
interaksi sosial antar anggota,
padahal interaksi sosial dapat
menumbuhkan sikap saling
memahami yang sangat dibutuhkan
untuk membangun kepercayaan
antar anggota tim.

Tantangan
utama yang terakhir adalah
kesulitan untuk memisahkan
kehidupan pribadi dengan tim
dikarenakan perbedaan zona waktu
yang berbeda sehingga dapat
dikatakan anggota tim harus siap
sedia kapan pun juga.

Agar dapat mengatasi tantangan-
tantangan tersebut, seorang virtual
leader harus memiliki beberapa
kompetensi, yang pertama adalah
communication skills— setiap
pemimpin virtual harus dapat
berkomunikasi dengan efektif
melalui teknologi yang tersedia.

Kedua, personal attributes and trust
building—Atribut-atribut ini
mencakup keterbukaan pikiran,
fleksibel, peka, jujur dan
kemampuan untuk menangani
kompleksitas dan membangun
kepercayaan.

Terdapat kompentensi lain yang
diperlukan oleh pemimpin virtual
global yaitu kemampuan untuk
mempelajari budaya baru dari
negara lain dan beradaptasi secara
cepat dengan lingkungan baru
tersebut.

Perkembangan virtual leader ini
dapat terus ditingkatkan melalui
pelatihan dan pengembangan.

Dari
sini, pemimipin akan dibekali
dengan cara-cara untuk menjawab
tantangan-tantangan dalam e-
leadership.

Selain itu perlunya untuk
selalu melakukan pengawasan,
dukungan dan umpan balik dapat
terus memberikan ruang bagi
perkembangan desain pelatihan
untuk virtual leader .

Virtual leadershipsekali lagi tidak dapat dikategorikan
lebih sederhana atau lebih dari
kompleks dengan traditional
leadership.

Terdapat keunggulan
dan kelemahan masing-masing,
seperti mungkin saja seorang
pemimpin tradisional dapat
membangun kepercayaan lokal
namun tidak secara virtual.

Satu hal
yang pasti, seorang pemimpin
virtual harus dapat memahami
tantangan yang dihadapi oleh
timnya dan harus melakukan upaya
lebih untuk memastikan timnya
menggunakan segala sumber daya
yang ada untuk mencapai tujuan
tim yang telah ditetapkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s