Update status #7: Makna Filosofis Lagu ‘Gundul-Gundul Pacul’

Makna Filosofis Lagu ‘Gundul-Gundul
Pacul’

Bagi teman-teman yang berasal dari Jawa
mungkin tidak asing lagi dengan lagu
Gundul-Gundul Pacul yang biasa
dinyanyikan sewaktu ngumpul-ngumpul
dengan rekan-2 baik di lingkungan rumah
maupun disekolahan. Liriknya adalah
demikian :

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang
segane dadi sak latar…

Tembang
Jawa ini diciptakan tahun 1400 an oleh
Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang
masih remaja dan mempunyai arti filosofis
yg dalam dan sangat mulia.

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa
rambut.
Kepala adalah lambang
kehormatan, kemuliaan seseorang.
Rambut adalah mahkota lambang
keindahan kepala.

Maka gundul artinya kehormatan yang
tanpa mahkota.

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu
alat petani yang terbuat dari lempeng besi
segi empat.

Pacul: adalah lambang kawula rendah
yang kebanyakan adalah petani.
Gundul pacul artinya: bahwa seorang
pemimpin sesungguhnya bukan orang
yang diberi mahkota tetapi dia adalah
pembawa pacul untuk mencangkul,

mengupayakan kesejahteraan bagi
rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah
papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan
sangat tergantung empat hal, yaitu:
bagaimana menggunakan mata, hidung,
telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan
rakyat.

2.Telinga digunakan untuk mendengar
nasehat.

3. Hidung digunakan untuk mencium
wewangian kebaikan.

4. Mulut digunakan untuk berkata-kata
yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah
kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala,
sombong dan bermain-main dalam
menggunakan kehormatannya.

Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya
sesungguhnya mengemban amanah
rakyat.
Tetapi dia malah:

1. menggunakan kekuasaannya sebagai
kemuliaan dirinya.

2. Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia.

3. Dia menganggap kekuasaan itu karena
kepandaiannya.

Nyunggi wakul artinya: membawa bakul
(tempat nasi) di kepalanya.Banyak
pemimpin yang lupa bahwa dia
mengemban amanah penting membawa
bakul dikepalanya.

Wakul adalah:
simbol kesejahteraan rakyat.

Kekayaan negara, sumberdaya, Pajak
adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang
dia anggap kehormatannya berada di
bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat.

Siapa yang lebih tinggi kedudukannya,
pembawa bakul atau pemilik bakul?
Tentu saja pemilik bakul.

Pembawa bakul hanyalah pembantu si
pemiliknya.

Dan banyak pemimpin yang masih
gembelengan (melenggak lenggokkan
kepala dengan sombong dan bermain-
main).

Akibatnya; Wakul ngglimpang segane dadi
sak latar Bakul terguling dan nasinya
tumpah ke mana-mana.

Jika pemimpin gembelengan, maka
sumber daya akan tumpah ke mana-
mana. Dia tak terdistribusi dengan baik.

Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang
tumpah di tanah tak akan bisa dimakan
lagi karena kotor.
Maka gagal-lah tugasnya
mengemban amanah rakyat.

Semoga kita jadi pribadi yang memiliki
integritas sehingga siap menjadi suri
tauladan dimanapun kita berada. Semoga
dapat menjadi inspirasi.

semoga Bermanfaat ..

Referensi : Kembang Anggrek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s