Sholat Dhuha

Waktu pelaksanaan sholat dhuha
Makna dhuha secara etimologis adalah
waktu naiknya matahari, artinya sesudah
pagi namun belum sampai siang, ketika
matahari sedang panas-panasanya.
Waktunya ini dimulai saat matahari mulai
meninggi hingga mendekati waktu zawal
(matahari bergeser ke barat).
Begitu pentingnya waktu dhuha ini,
bahkan Allah bersumpah dengan waktu
dhuha ini.
“ Demi Dhuha (waktu matahari
sepenggalahan naik) dan demi malam
apabila telah sunyi (gelap) Tuhanmu
tiada meninggalkan kamu dan tiada
(pula) benci kepadamu. ” (QS: Adh-
Dhuha: 1-3)
Jika di konversi kedalam waktu di
Indonesia, waktu dhuha ini kira-kira
dimulai dari pukul 08.00 hinga pukul
09.00. Ada juga yang menyebutkan
hingga pukul 11.00. Walohu’alam…
Tata cara dan jumlah rakaat sholat
dhuha

Cara pelaksanaan shalat dhuha dilakukan
seperti shalat-shalat sunnah lain, hanya
saja niatnya adalah melaksanakan shalat
dhuha (cukup di dalam hati). Demikian
juga bacaan surah, dibolehkan membaca
surat apa saja dari al-quran setelah
membaca surat al-fatihah. Sholat dhuha,
sebagaimana sholat sunnah lainnya
paling afdhol dilakukan secara munfarid
(sendiri-sendiri), namun sesekali boleh
dilakukan secara berjamaah.

Jumlah rakaat sholat dhuha itu adalah 2,
4, atau 8 rakaat dengan sekali salam
saja. Hal ini sesuai dengan dalil-dalil
berikut ini:
Abu hurairoh r.a. berkata, “ Kekasihku
(Nabi SAW) telah mewasiatkan aku
dengan 3 perkara; shaum 3 hari setiap
bulan, dua rakaat dhuha, dan witir
sebelum saya tidur ”. (Shahih al-bukhari)
Ditanyakan kepada ‘Aisyah, “ Apakah
rasulullah SAW mengerjakan sholat
dhuha? ” Beliau menjawab, “ Ya, beliau
sholat 4 rakaat dan melebihkannya
sekehendaknya.” (Shahih Muslim, Sunan
Ibnu Majah, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal)
Dari hadits ‘Aisyah tersebut ada juga
pendapat yang mengatakan sholat dhuha
itu minimal 2 rakaat namun bisa
ditambah sekehendaknya dengan
kelipatan 2 rakaat dengan cara tiap 2
rakaat salam. Wallohu ‘alam…
Ummu Hani’ r.a. berkata, “ Rasulullah
berdiri untuk mandi; maka Fatimah
menghalanginya, lalu beliau mengambil
pakaiannya kemudian berselimut dengan
pakaian itu, lalu sholat 8 rakaat shalat
sunnat dhuha. ” (Shahih Muslim, Musnad
Al-Harits)

Adapun hadits-hadits yang menerangkan
sholat dhuha 8 rakaat dengan 4 kali
salam; demikian pula yang 6 dan 12
rakaat, semuanya dla’if dengan alasan
sebagai berikut:

Ummu Hani’ r.a. berkata, “ Rasulullah
SAW pada hari Fath Makkah shalat dhuha
8 rakaat. Beliau salam pada setiap 2
rakaat.” (Shahih Ibnu Khuzaimah, Sunan
Abi Dawud, Sunan Ibnu Majah)
Dalam sanad (jalur periwayat) hadits
tersebut terdapat seorang rawi
(periwayat) bernama ‘Iyad ibnu ‘Abdillah
ibnu ‘Abdirrahman. Al-Bukhariy
mengatakan, “Dia munkar al-
Hadits” (Badzi al-Majhul 7 : 34)
Anas ibnu Malik r.a. berkata, “ Aku
melihat rasulullah SAW shalat dhuha 6
rakaat. Maka aku tidak pernah
meninggalkan yang 6 rakaat itu
setelahnya (wafatnya beliau). ” (al-
Mu’jam al-Ausath)
Dalam sanad hadits tersebut terdapat
seorang rawi bernama Sa’id ibnu
Maslamah al-‘Amawy. Al-Bukhariy
mengatakan, “Dia munkar al-
hadits” (Tahdzib at-Tahdzib 4: 83)
Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa
sholat dhuha 12 rakaat, pasti Allah akan
membangun sitana dari emas di surge
untuknya. ” (Sunan At-Tirmidzi, Sunan
Ibnu Majah)
Dalam sanad hadits tersebut terdapat
rawi bernama Musa ibnu Fulan ibnu
Anas. Dia majhul (Tahdzib al-Kamal 29:
173).

Rosulullah SAW bersabda, “ Siapa yang
sholat dhuha 2 rakaat, ia tidak dicatat
termasuk orang yang lalai. Dan siapa
yang shalat 4 rakaat, ia dicatat sebagai
ahli ibadah. Dan siapa yang shalat
sebanyak 8 rakaat, Allah mencatatnya
sebagai orang yang taat. Dan siapa yang
shalat 6 rakaat, maka niscaya dihapus
dosanya pada hari itu. Dan siapa yang
sholat 12 rokaat, Allah membangunkan
baginya sebuah rumah di surge. ” (as-
Sunan ash-Shughra, Musnad Al-Bazzar)
Dalam sanad hadits tersebut terdapat
rawi bernama Husain ibnu ‘Atha, ibnu
Hibban mengatakan, “Dia sering
salah” (Tahdzib al-Kamal 2: 240), Abu
Hatim mengatakan, “Ia itu munkar al-
hadits” (Mizan al-I’tidal 1: 542).
Sedangkan dalam sanad ath-thabraniy
terdapat rawi bernama Musa ibnu Ya’qub
yang dinilai buruk hafalannya (Tahdzib
al-Kamal 29: 173).

Fadhilah sholat dhuha
1. Pahalanya seperti mengerjakan
ibadah umroh
“ Dari Abu Umamah r.a. bahwa
Rasulullah Saw. bersabda,
‘Barangsiapa yang keluar dari
rumahnya dalam keadaan bersuci
untuk melaksanakan shalat wajib,
maka pahalanya seperti seorang
yang melaksanakan haji.

Barangsiapa yang keluar untuk
melaksanakan shalat Dhuha, maka
pahalanya seperti orang yang
melaksanakan umrah.’ ” (Shahih Al-
Targhib: 673).

2. Allah akan mencukupi kebutuhan
kita
Rasulullah menyampaikan hadits
qudsi (hadits yang merupakan
firman Allah swt namun redaksinya
dari Nabi saw) bahwa dengan
shalat dhuha, Allah SWT akan
menjamin kebutuhan orang yang
melaksanakannya. Dari Nuaim bin
Himan al-Ghothofani, dari
Rasulullah saw , dari Tuhannya
berfirman, “ Hai anak Adam,
shalatlah untuk-Ku empat rakaat di
permulaan siang, maka akan Aku
cukupkan engkau di
penghujungnya”.

3. Dihitung sebagai sedekah
Rasulullah saw bersabda, “ Setiap
pagi setiap tulang (persendian) dari
kalian akan dihitung sedekah, oleh
karena itu setiap tasbih adalah
sedekah, setiap tahmid adalah
sedekah, setiap tahlil adalah
sedekah, setiap takbir adalah
sedekah, amar ma’ruf (memerintah
kebaikan) adalah sedekah, nahi
munkar (mencegah kemungkaran)
adalah sedekah, dan hal itu cukup
dilakukan dengan mengerjakan dua
rakaat shalat dhuha ” (HR; Muslim)
Dan lain sebagainya…

Bolehkah selalu mengerjakan sholat
dhuha (tidak pernah putus)?
Mengingat banyaknya ganjaran yang
diberikan kepada orang yang
mengerjakan shoat dhuha, sehingga kita
berusaha untuk selalu mengerjakannya.
Bahkan jika perlu jangan sampai terputus
(rutin). Namun apakah rasulullah juga
tidak pernah putus mengerjakan sholat
dhuha? Kita bisa ketahui dari hadits
berikut ini..

Telah berkata Abu Sa’id Al-Khudriy,
“ Rasulullah SAW pernah sholat dhuha,
hingga kami sangka yang ia tidak akan
tinggalkan; dan rasulullah biasa pula
tinggalkan, hingga kami sangka yang ia
tidak akan kerjakan ”. (H.R. At-Tirmidzi)
Riwayat ini menunjukkan, bahwa
rasulullah SAW tidak selalu mengerjakan
sholat dhuha..

Sumber bacaan:
1. K.H. A. Zakaria, “Risalah Sholat”,
Bandung: Risalah Pers, 2005.
2. A. Hassan, “Pengajaran Sholat”,
Bandung: Penerbit Diponegoro,
1995.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s