[Berani Cerita #10 ] Permainan

image
( Sumber gambar : wikipf.net/wiki/index.php/Kriminal)


Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil
mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu;
masuklah ke ruang kerjaku.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang
kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan
disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan
dengan surat yang dipegangnya.

Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza
menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk
memberikan penjelasan yang tepat.

“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu Nak?” Tampak di tangan kiri ayah Liza, menggenggam surat lain.

“Iya ayah. Tekad Liza sudah bulat. Ayah percayakan saja semua di tangan Liza.”

“Baiklah. Aku janji tak akan mempermasalahkan ini, demi pesan terakhir Ibumu. Aku telah berjanji akan selalu mendukung apapun, asal kamu bisa bahagia.”

“Terima kasih. Percaya sama Liza, Susno orang baik, dia akan jadi pemimpin yang tangguh, Yah!”

**

Suasana pesta meriah terjadi. Resepsi pernikahan Susno dan Liza berjalan dengan mulus. Yang terpenting dari itu semua, Ayah Liza merestui mereka.

*
“Hallo Pak Salman. Kasusnya akan kita gelar seminggu dari sekarang.”

“Pokoknya, siapkan semua bukti-bukti yang memberatkan terdakwa. Selebihnya, biar aku yang mengurus.”

“Beres Pak!” Suara tegas di ujung sana, cukup menenangkan ayah Liza untuk kembali mendampingi anak dan menantunya menyalami tamu.

Pada satu sisi, menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, akupun harus tegas, dan profesional. Tak boleh pandang bulu, sekalipun sasarannya kini adalah menantuku sendiri. Desah getir batin ayah Liza.
**

Duaaaar!!!

Suara tembakan keras menggema, menciptakan suasana gaduh pada jamuan resepsi yang terlihat penuh. Liza mati seketika dengan isi jantung terkoyak timah panas.

Susno gemetar, sementara ayahnya Liza meraung-raung dalam tangis. Meratapi harta paling berharga satu-satunya pergi.

*
Lelaki diseberang sana panik, dengan terburu-buru dia mengetik pesan lalu dikirim.

“MAAF BOS. SALAH SASARAN”

Posted from WordPress for Android

Iklan

26 thoughts on “[Berani Cerita #10 ] Permainan

  1. Makasih udah ikutan Berani Cerita ya junioranger!
    Saran sedikit boleh ya, perhatikan pada prompt, sang Ayah menggunakan kata sapaan ‘aku’, jadi perlu adanya konsistensi dalam penggunaan kata ‘aku’ di cerita selanjutnya.
    Just my two cents πŸ™‚

    Good job!

    1. Iya Mbak. Prompt kali ini yg palig susah. #curhat :3. Thankyou atas koreksi dan kunjungan mbak min πŸ˜‰

  2. Twist, mantep. Tapi alurnya agak kedodoran deh, Junior. Ini seperti cerita dengan alur yang melompat2. Bahkan ada bagian yg mestinya bisa dikaitkan dengan bagian lain, cuma karena dipotong jadi terkesan mubazir (bagian penjelasan siapa itu Pak Salman?)
    Sebuah cerpen saja merupakan cerita yang mengambil satu potong fragmen kehidupan manusia, nah apalagi FF kan? Sementara cerita kamu kali ini seperti beberapa fragmen yang dipaksakan menjadi satu. hehe.
    IMHO :mrgreen:

    1. Akhirnyaaaa. Seperti celah yg selalu aku tunggu, komentarmu, koreksimu dtg dg sejuta makna Pak. *Editing ulang*. Maafkan aku yg masih terus ingin disuapi ilmu. Jgn bosan2 ya Pak Guru.#tsaaah πŸ˜€

  3. untuk ff, ini ceritanya kecepetan deh. alurnya loncat2. mending fokus aja ke satu masalah. klo ke banyak masalah jadinya gitu, kayak cerpen yang disingkat. atau malah novel yang dibikin sinopsisnya. dan, twistnya banyak banget. sebenernya mau berhenti sampai Susno yg menjadi tersangka juga udah cukup loh, etapi ternyata masih ada sambungannya lagi! udah kaget deg2an, baca lagi, kaget deg2an lagi.

    next time coba untuk memadatkan cerita dan fokus hanya ke satu masalah aja. kalo untuk bikin ff ya πŸ™‚

    1. dengan senang hati mbak. Terimakasih atas panjang lebar koreksinya, merasa sangat terhormat bagi saya bs belajar dari para ahlinya πŸ˜‰

  4. udah banyak yang kasi saran, saya tinggal mengamini aja :D. oiya, mungkin dikaw pingin mbikin double twist yah? kalo iya, jaraknya harus dekat, jangan panjang2 πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s