‘Vampire’ Mampir

Sedetik kutenggak habis segelas jus segar yang baru kupesan. Aku tak ada niat berlama-lama disini.  Selain tampilan kafe ini kumuh, bau, pengap. Ah sudahlah, aku tadi cuma nyasar mampir ke tempat ini. Aku berniat melenggang pergi, sebelum akhirnya seorang pramusaji dengan muka dekil menodongku.

“Maaf kakak,  ini nota pembayarannya!” Pramusaji itu menyodorkan nota dengan muka seramah mungkin.

“Apah?  Jadi gue harus membayar untuk segelas jus darah segar itu?  Bukankah setahu gue, darah itu sajian minuman gratis untuk vampire seperti gue?” Jawabku dengan percaya diri maksimal dan dengan dialek gaul menggunakan kata “gue” untuk menyebut diriku sendiri.

“Menurut loe? Maksud loe? Emang ini kafe punya nenek moyang loe getooo? Buruan bayar!  Vampire kere!” Bentaknya padaku.

“Sembarangan bilang gue kere! (dalam batinku: Sialan nih pramusaji kuple! Muka dekil aja belagu!”)

“Terus apaan kalau loe ga kere? Buruan bayar.  Gak usah pake ngehina gue dekil, belagu, terus apatuh kuple? Dasar vampir gadungan!”

*Gubrak* Wadawww. Sialan. Dia bisa baca bahasa batinku.

“Gak usah terus ngebatin. Terus masalah kalau gue bisa tahu bahasa batin loe? Buruan!  Mana uangnya?  Bayar tuh jus yang loe minum. Gak pake lama!!”

*Wadawww aku makin kejang-kejang* Dengan berat hati kutarik lembaran terakhir yang mengisi dompetku. Kuserahkan padanya dengan muka memelas. Dengan adegan slow-motion.

“Aih. Sok dramatis banget sih loe pake adegan slow-motion segala!” Pramusaji itu langsung merebut lembar uang itu dariku.

“Jaga dia baik-baik Bang!  Kasian dia sendirian. Belum terbiasa menempati dompet lain selain dompet gue!”

PLAKKK! Buset. Pramusaji itu menamparku.

“Please deh jangan lebay, loe kira gue cowok apaan?  Gue gak bakal doyan mainin duit kucel model beginian!” Kemudian pramusaji itu melenggang ke kasir.

Aku melongo. Bengong. Memelas.

PLETAKKK! Pramusaji itu melempar dua keping logam lima ratusan ke mukaku.

“Tuh kembaliannya. Gue harap loe jangan pernah kembali ke kafe ini lagi. Dan inget jangan pernah mengatakan kafe ini kumuh, bau, dan pengap. Atau loe akan gue buat nyesel seumur hidup!”

Aku tertunduk lesu, meneruskan niat awalku meninggalakan kafe ini. Dan tentunya meninggalkan pramusaji alay dan menyeramkan itu.

“Apah?  Loe masih sempet-sempetnya bilang gue alay dan menyeramkan?” Teriak pramusaji itu dengan membahana kepadaku.

Aku terbirit-birit lari meninggalkan kafe misterius itu. Untuk kesekian kalinya aku lupa kalau pramusaji itu punya ilmu membaca batin seseorang. Eh, aku juga lupa bahwa di awal cerita mengaku sebagai seorang vampire. Harusnya dengan kekuatan vampire-ku, aku bisa lenyap dengan sekejap. Mungkin benar kata pramusaji kafe tadi, aku hanyalah seorang vampire gadungan.

Kutenteng sendal jepitku dan kupakai jubah ‘kebesaranku'(emang ukuran jubahnya XXL padahal aku biasa pake M). Kupakai jubah yang kebesaran itu untuk mengelap ingus dan air mataku. Aku pulang.

Posted from WordPress for Android

Iklan

8 thoughts on “‘Vampire’ Mampir

    1. hihihi iya yah. tapi klo yang “gue” itu adaptasi dia dalam dialog dan dialek orang gaul. trus pas panggil abang buat ekspresi dramatis. tp jd mbingungin gitu ya?? thankyou koreksinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s