[BERANI CERITA #12] Kinan dan Keenan

Kami adalah ‘saudara’ kembar. Namaku Kinan dan saudaraku Keenan. Sayangnya, kami tak seberuntung saudara-saudara kembar di seluruh penjuru dunia, yang mana mereka punya orang tua. Kami sebatang, dua batang kara. Entahlah, apa benar begitu istilahnya. Tapi kami bersyukur dapat ‘tumbuh’ tanpa kurang suatu apapun. Kami di takdirkan Tuhan serupa. Karena serupa itulah, saat aku menoleh ke Kee, jelas seperti bercermin. Anggap saja begitu.

Sampai pada suatu hari, aku merasa lebih buruk rupa daripada Kee. Sore itu, saat kami sedang bercengkerama berdua, tanpa banyak kata seseorang sebut saja Dia, ‘meminang’ saudaraku. Hey, apa kau tidak melihatku juga? Teriakku. Tapi Dia seperti tak mengerti bahasaku. Membawa pergi Kee menjauh dariku. Kee sepertinya tertawa menang, sungguh Kee enggan menoleh lagi padaku.

Aku benci dengan keadaan ini. Mana mungkin Dia lebih memilih saudaraku? Jelas-jelas rupa kami sama. Apa mungkin Kee lebih cantik dariku? Apa mungkin Dia buta? Dan hey, apa Dia tidak sadar Keenan itu cocok untuk nama sesuatu yang tak cantik. Dia pasti tak pernah menonton film Perahu Kertas. Lagi pula Kee itu pendiam.Setidaknya, Dia mencarikanku ‘jodoh’ sekalipun Dia tak memilihku.

Aku kesepian. Aku tak bisa mengunjungi saudaraku. Bukan karena apa, tapi aku tak tahu dimana Kee sekarang. Mungkin juga Kee lupa denganku. Mungkin aku akan mulai melupakan Kee. Mungkin aku akan mulai membencinya.

Aku mulai gila. Aku mulai lupa siapa sebenarnya aku. Hanya karena saudara kembarku kini tak di sampingku. Aku merasa sepi. Tak ayal karena dulunya aku dan saudaraku adalah kembar sepasang. Sepasang sepatu butut ‘nan cantik’. Apa mungkin Dia buta mata? Mungkin saja, pemulung itu memang buta. Tak melihat bahwa aku dan saudaraku berjejer dan pasti sepasang.

**

“Kak lihat! Ini-kan bagian kiri sepatu, yang kakak bawa pulang kemarin. Horeee, ternyata sepatu pink ini emang sepasang.Aku ambil ya Kak!”

image

Gambar dari sini

Posted from WordPress for Android

Iklan

21 thoughts on “[BERANI CERITA #12] Kinan dan Keenan

  1. Cerita cocok sama prompt, tapiiii…..
    Ini nih cerita yang dikatakan tell not show, Junior.
    IMHO, boleh saja berupa perenungan sebuah sepatu terhadap pasangannya. Akan tetapi, akan lebih indah kalau ceritanya dipaparkan dengan teknik show.
    Misalnya, kalau memang Junior menjadikan benda mati dalam cerita ini sebagai inti cerita yang berbicara (seolah2 hidup), jangan tanggung2. Beri ia perasaan dan emosi. Memang sih ada beberapa kalimat yang menunjukkan si aku sedih, dsb, cuma agak datar. Mungkin karena tekniknya kali ya? πŸ™‚
    Sekali lagi, ini pendapatku ya. Maaf kalau salah kata. Semangat!

    1. Terimakasih. Masalah teknik bener bgt. Aku butuh bnyk bljr. Justru dari komentar, kritikan2 dan saran sdkit bnyk mmberikan pljrn berharga buat saya. Terus komeni saya ya kawans πŸ™‚

      Satu lagi, ini komen lebih ngetwist dari FF ku πŸ™‚

      1. setuju dengan komen sulung. memang agak susah saat kita akan memberikan emosi pada suatu benda dan kita punya tuntutan untuk memberi twist di akhir cerita. tapi dengan banyak latihan dan selalu mengindahkan kritik dan saran, semua bisa terlewati kok.

        sip! cerita ini idenya bagus πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s