Kisah Bapak Pemilik Warung

‘Raja Siang’ menguarkan bau khas panas teriknya dengan jumawa. Aku tertatih menyusuri jalanan Ibu Kota. Motorku mogok dari jarak satu kilometer ujung jalan sana. Kutahan haus dan dahaga. Bibir kering pun pecah-pecah sepertinya. Sudah seharian aku berkeliling mencari lowongan kerja. Ini sudah jatuh hari ke tiga puluh tiga sejak aku memutus kontrak kerja di perusahaan yang lama. Sejujurnya aku jengah. Kemanakah keadilan Tuhan? Apakah nasib baik itu kini telah menjauhiku?

Kutepikan motor bututku ke warung kecil tepian kota. Kupesan es teh manis sebagai selingan pelepas dahaga. Alhamdulillah, tenggorokanku kini telah basah seketika.

“Kerja kantoran ya Dek?” Bapak tua pemilik warung itu bertanya. Aku hanya menyungging senyum tanpa kata. Ah Bapak salah kira. Aku hanya pengangguran yang justru sedang mencari kerja.

“Enak ya Dek, gajinya pasti gede. Gak kayak Bapak. Apalah hasilnya cuma punya warung kecil begini!” Keluh Bapak itu penuh kesah

“Yang penting halal Pak!” Jawabku sekenannya

“Yahh… beginilah hidup. Kalau mau makan ya harus kerja. Apapun itu, kalau kita bersyukur, tulus ikhlas menerima, Insya Allah berkah Dek!” Sambil melayani pelanggan lain Bapak itu terus bertuah.

Betul Pak!

Bapak itu duduk bersender di kursi kayu nyaris persis menghadap mukaku. Aku canggung dan menegakkan posisi duduk.

“Sudah lama Bapak buka warung?” Tanyaku basa-basi

“Hmmm. Sudah sekitar sepuluh tahunanlah.”

Aku hanya mengangguk. Memikirkan pertanyaan selanjutnya. Bingung. Hening beberapa menit kedepan. Hanya terdengar gemerutuk suara es batu yang kumainkan dengan pipet.

“Adek kerja dimana? Udah lama di Jakarta ini?” Bapak lebih dulu bertanya padaku. Pertanyaan yang seketika membuatku gugup.

“Eh, anu, sebenarnya Saya sedang mencari lowongan kerja Pak!” Aku memang selalu menggunakan kata ganti saya ketika sedang bercakap dengan orang yang lebih tua.

Bapak itu hanya mengangguk dengan mulut membentuk huruf “O.”

Kumainkan lagi es batu dengan pipet.

“Yang sabar Dik. Jaman sekarang nyari kerja memang susah. Terus berusaha dan berdoa. Insya Allah yang di Atas kasih Jalan.”

Aamiin. Makasih Pak

“Anak perempuanku satu-satunya juga sedang bekerja di Malaysia, sejak lima tahun yang lalu. Tapi dia tak pernah kasih kabar. Dia ‘nyusul’ istriku yang lebih dulu ke Malaysia sepuluh tahun yang lalu, padahal tak tahu alamatnya dimana. Dan seminggu yang lalu, ada beberapa orang datang ke rumahku, memberi kabar kalau anakku diamankan aparat karena menjadi pengedar narkoba dan diduga sebagai korban supertrap, eh, trapik entahlah,”

Trafiking.?” Aku menyela

“Ya itu mungkin, Aku ndak tahu apa itu narkoba, apa itu supertrap? Surat panggilan dari pengadilan Malaysia isinya apa, aku juga tak tahu. Lah wong -aku tak bisa baca tulis kok- suratnya tak kusentuh sedikitpun! Yang aku tahu, anakku sudah diamankan pasti amanlah!”

Sungguh, Bapak itu mengakhiri ceritanya tanpa beban. Dan aku juga tak pernah berniat untuk mencampuri urusannya. Aku hanya bersyukur dengan apapun keadaanku sekarang. Ternyata aku lebih beruntung dari orang lain di luar sana. Aku hanya kurang bersyukur.

Aku tak pernah menyesal, telah memutuskan mengakhiri kontrak di perusahaan lamaku. Perusahaan besar dengan bisnis haram berlatar trafiking itu. Akupun semakin yakin bahwa keputusanku adalah benar.

image

Gambar dari Mbak Orin

Persembahan khusus untuk tantangan MFF Prompt #13 Bapak Pemilik Warung

NB : Ending-nya sudah berubah wujud :))
Posted from WordPress for Android

Iklan

53 thoughts on “Kisah Bapak Pemilik Warung

  1. dedek powerranger, hari ini aku kayaknya bawel banget, semua postingan di MFF -yang untungnya masih2- kublilang kurang smuwa T_T, kalo dirimuw kayaknya kurang ngetwist yah, kalo konflik mah bagus :). smoga yg baca stlah aku bisa kasih sarang yg diperbaiki yang mana cz kalo aku yg ditanya juga masih bingung yg mana *efekbangundariketiduranabisngeloninanak πŸ˜€

    1. buahahahahaha. dipanggil Poweranger :)))))

      Makasihhhhhhhhhh loh mbak. emang gak ngetwist ini, tdi kelihatannya udah pjg banget takut over words. trnyta masih bisa ditambah sepertinya :)))

  2. wah Jun selalu mendapatkan wangsit dengan cepat setiap promptnya hehehe
    ide cerita dan makna yg terkandung positif sekali Jun..tp kayaknya terlalu banyak narasi..

      1. SEMANGATTT!! sepertinya masih bisa di tambahin endingnya kali ya? blm ada 500 kata kan yah? -via mobile-

  3. di luar mainstream sih… umumnya waktu penceritaan kisah semacam ini adalah malam hari, saat tersesat, lalu tiba-tiba melihat warung, mampir, ternyata saat pagi udah ada di kuburan. Iseng amat yah hantunya muncul siang-siang. Heheh

    1. Haha. Sempet kepikiran pas awal2. Bukan ngelamar sih. Tp dikira mau ngelamar sama Bapak2nya trus di usir dr warung :))

  4. Ide cerita udah bagus, refleksi dari seseorang yg sedang depresi karena mencari kerja tapi susah banget dapetnya di zaman kaya’ sekarang ini. πŸ™‚

    Yang saya kurang nyaman adalah, endingnya kurang tepat. Seperti sedikit dipaksakan. Maksudnya mungkin ingin memberi belokan yang tajam, tapi kalau tidak sejalan dengan esensi cerita ini, rasanya itu kok janggal. Membuat saya sedikit “mengerutkan dahi”.
    Ga ada yg salah sebenarnya dalam penyajian cerita ini, ini cuma pendapat personal saya aja kok :mrgreen:

    1. Thankyouuu.

      Tepat sekali mas yuzrizal. Paragraf terakhir itu sebenarnya ending dadakan yang saya tambahkan untuk menjawab tantangan twist dr mbak yg komen pertama :)))))

  5. cuma ada yg sedikit ngeganjal sih, Junior. Bagaimana bisa seorang bapak yg ga bisa baca-tulis, bisa ngomong trafiking dengan jelas. maksudnya, dia seperti ngomongnya yakin banget gitu. mungkin alangkah lebih baiknya kalau dcari diksi yang lebih tepat sesuai pengetahuannya sebagai orang yang kurang tahu *duh, bahasanya ribet*

  6. itu percakapan “Anak perempuanku ……
    lupa ditutup tanda petik dedek powerranger πŸ˜€ iyah sih agak maksa endingnya T_T coba settingnya malam

  7. Pesan moralnya mantap, eksekusinya kurangg.. Gue kaya ngebaca satu cerpen yg baru awalannya doang..
    Trus agak bingung waktu si aku blang : untuk aku ga kerja di kantor haram berlatar trafiking itu! Nah dia tau darimana perusahananya ngetrafiking? Bukannya dia keluar dari sana karena kontraknya habis?
    Coba bikin panjang, soroti tentang kerjaan dia di kantornya yg ternyata bisnis haram trafiking itu.
    Habis itu kirim ke koran. Coba Joglo Semar..
    Mereka suka muat cerpen tema moral..
    Semangat menulis.

    1. Paragraf terakhir ya? Beruntung untk aku itu karena tak senasib dg anaknya si bapak. Hehe aku edit kalimat ttg habis kontraknya ya mbak. Thankyou saran dan kripiknya πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s