[Berani Cerita #14] MITOS

image

“Jangan memotong kuku di malam hari, ndak baik Nduk!” Suara Ibu menghampiriku sambil membawa sepiring pisang goreng.

“Emang kenapa Buk? Lha wong sempetnya aku sekarang!” Aku mendongakkan kepala, bertanya malas pada Ibu.

Sejurus kemudian Ibuku siap dengan penjelasannya yang panjang lebar tentang mitos. Tentang hal-hal yang tak masuk akal menurutku. Sepanjang ibu bertuah tentang pengetahuan mitosnya, sepanjang itu pula aku menyeringai. Menye-menye.

“Ojo ngeyel kamu! Di kasih tahu selalu pasang muka kayak gitu! Udah abisin tuh pisang gorengnya. Abis ini bantu Ibu di dapur!” Kata ibu sambil berlalu.

“Iy-yhaa!” Jawabku dengan mulut penuh pisang goreng.

Sambil terus memasang muka sebal, bibir mengkilap karena sisa minyak, juga terus mengunyah pisang goreng, aku melanjutkan ritual memotong kuku-kukuku. Well, aku tetap kukuh pendirian dan merasa tak perlu percaya mitos yang Ibu jabarkan.

Kemarin saja, Ibu bilang tentang mitos, bahwa anak perempuan tak boleh makan dan bersantai di depan pintu, bakalan susah jodoh katanya. Oya? Asal Ibu tahu, aku sudah punya pacar di sekolah. Harusnya, Ibu lihat bekas cupangan di leherku. Bahkan ada beberapa yang terus mengejarku. Jadi? Setidaknya itu menjadi semacam bukti yang mematahkan mitos itu. Apalagi sekarang? Mitos yang sungguh tak masuk akal. Peduli setan! Omong kosong ibuku saja itu.Hatiku menggumam.

TKLIK! Suara pemotong beradu dengan kuku terakhirku. Aku bergegas menghampiri Ibu yang sudah berteriak-teriak memanggilku.

**

“Nduuuuuk! Bantuin Ibu sini!” Suara ibu dari dapur berteriak memanggilku

Aku bergegas lari ke dapur. Nafasku sedikit tersengal.

“Ngapain aja kamu ya!” Suara Ibu meninggi

“Kenapa to Buk? Aku udah di sini, gak usah keras-keras ngomongnya!” Jawabku membela diri

“Nduuuuuuuk!” Ibu makin berteriak kesal, “Kucing siapa ini? Kok bisa masuk rumah nyampe dapur!” Ibu berlalu menuju ruang tamu.

Aku terbengong-bengong memandangi tingkah laku aneh Ibuku.

**

Jangan memotong kuku pada malam hari, kata orang jaman dulu, nanti pelakunya berubah jadi kucing hitam loh! Aku menunduk lesu dan terngiang-ngiang mitos yang ibu sampaikan.

“Miauw!”

Gambar dari sini

Posted from WordPress for Android

Iklan

20 thoughts on “[Berani Cerita #14] MITOS

  1. Hihihi, kualat lho! Kali ini ga jadi batu, tapi ga jadi kucing. :3
    Udah ditunggu dari tadi lho tulisanmu, Junior. Sengaja bolak-balik ke Berani Cerita, soalnya kamu termasuk yg paling up date (Mbak Mel juga).
    Ini tentang mitos kan, ya? Coba deh ikutan, ini:
    http://nbcipb.tumblr.com/post/51462019656/lomba-menulis-mitos-dalam-flash-fiction

    Untuk cerita kali ini, ga banyak berkomentar deh. Ceritanya ringan. Enak aja dibacanya. Meski masih lebih banyak tell-nya. Sayang sisa kata-katanya, lho. Padahal masih bisa ditajamkan lagi. πŸ™‚

    1. Ahahaha. Terimakasih. Baru sempet online jam 8 malem tadi. Klo untuk Ikutan -Mitos- itu kayaknya blm deh. Apalagi ini? ini mitos ngasal. Cuma katanya pamali sih motong kuku malem2. Pamalinya kenapa gak pernah dikasih tahu. Well, ini murni mitos karang2an spontanitas saya saja dan ternyata gagal ya karena Tell-ing. Nanti aku nyari ide buat perbaiki ini πŸ˜‰

  2. Baru mampir di marih, Jun! Gak tau kalo gue bikin judul yang sama ama punya elo…. Hehe

    dia jadi kucing bukan karna mitos, tapi karna ngeyelan ama ibunya… Bhahaha, pesan moral yg sip!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s