MFF Prompt #18 : Lissa

Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku
berlari keluar dari kamar.

Kukunci kamar dari luar. Aku tak ingin Lissa pergi saat kalap.

Suasana rumah lengang, sepi, selain hanya jeritan Lissa yang terus melengking memekakan telinga. Kulirik jam dinding, pukul 12 malam. Lissa menggedor-gedor pintu kamar dari dalam.

Aku di mana ini sebenarnya? Rumah siapa? Kenapa aku ada di sini?

Seribu tanya berkecamuk mengisi aliran darah otakku. Kuturuni anak tangga terburu-buru. Aku punya rencana,

Sepertinya ini dapur?

Aku celingukan sibuk mencari sesuatu,

Ada tabung gas LPG 50kg? Haruskah kusulut benda ini di depan kamar Lissa, agar dia meledak? Ah aku sudah gila.

Ada tali?Β  Haruskah kujerat tangan Lissa, agar dia tak lagi berkutik?

Oh sungguh, ini konyol. Kenapa aku berfikiran kriminal begini? Aku berdiri mematung. Di antara dua pilihan gila.

“Dona, ngapain kamu di situ?” Kak Helen tiba-tiba berdiri di balik punggungku, “Kamu dicariin ibu!”

“Iya Kak! Dona beresin Lissa dulu ya!” Aku merajuk, kehilangan konsentrasi menentukan pilihan.

Kak Helen menyuruhku, “Sudah, biar kakak saja yang beresin boneka dan rumah mainanmu itu! Kasihan ibu udah nungguin kamu!”

Posted from WordPress for Android

Iklan

39 thoughts on “MFF Prompt #18 : Lissa

    1. Haha ga masuk logika ya mba? Hehe terlalu maksain ini sepertinya. Tp itu tabung gas mainan, perlengkapan rumah mainan dan seisinya πŸ™‚

      1. Hehe bayangin aja anak kecil yg lagi main rumah2an trus ngomong sendiri. Eh mungkin FF ini tdk cukup memberi gambaran itu. Anggap saja ini FF gagal ;))

      2. Haha gk juga. Aku gak faham FF soal penilaian. Tapi klo diinget dulu jaman kecil aku pun suka berimajinasi main bonela ngomonga sendiri. Hahaha

      3. Hihihi… tembakan dari bambu kecil. Pelurunya kembang jambu air atau kertas basah. Itu juga mainanku. Kalo boneka aku bikin sendiri dari pelepah daun pisang. Rambut bonekanya dari daun pisang itu sndiri. Hihihi

      4. Hahaha boneka dr daun pisang di suwir2 pake jarum ya? Trus dikaretin ke pelepah atau kayu gitu kan? Jd inget masa kecil, Mbakku mainannya begituan :))

    1. wekekekekekekeke ngakak mbaca komen inih :D. ibunya kenapa yah, kok kayaknya kata2 “Tawar Kak Helen sembari mempersilakanku menghampiri ibu” itu kesannya ibunya sakit ato gimana gitu πŸ™‚

      1. Oh gitu ya. Sebenernya saya masih suka bingung klo ngasih keterangan setelah dialog. Yg bagus gimana ya? Ada saran? Thankyou koreksinya

  1. Mungkin butuh tambahan kalimat penjelas kali, Mas.. Soalnya aku pun masih merasakan hal yang sama komentar2 di atas. *apalagi tabung elpiji 50kg itu, tak lazim digunakan di rumah tangga, biasanya sih pake yang 3kg atau 12kg #ehmalahbahaselpiji hehehe… ya begitulah, ide ceritanya menarik..

  2. Agak bingung waktu bacanya. tapi kejawab dari komen. Langsung ngeri, jun, negbayangin anak kecil dah punya pikiran begitu. Tapi di tipi-tipi sering juga sinetron-sinetron tuh! 😦

  3. Ya, ampuuun, ternyata Lissa itu boneka toh? Jangan-jangan, Dona …… dipresi berat kehilangan anak tuh dan Lisa, boneka, dianggap anak-e. Dona, Dona. kasian kamu, di rumah sendiri koq celingukan. Ceritanya bagus. Aku suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s