Perjalananku

Juni 1991.

Sudah dua hari sejak kepulanganku sehabis camping dadakan ke Merapi, aku dan dua kawanku, Heri dan Arman kelaparan, kucel, dan dekil karena selama dua hari terakhir tak menyentuh air sama sekali. Miris. Sangat sulit membedakan antara rupa kami dan gepeng jalanan.
Ya, kami sedang jadi gembel yang tak tahu jalan pulang dan terpaksa menumpang di dalam truk berisi gunungan kayu.

**
Tiga hari yang lalu, kami nekat berangkat dari Subang dengan menyusup masuk di kereta barang.

” Man, kita mau camping di mana nih?” Tanyaku

“Lah elu yang ngajakin kita, kenapa elu balik nanya?” Heri menimpali.

“Di tempat yang indah pokoknya. Di mana pun gue ikut Dar!” Kata Arman.

“Eh, itu kayaknya ada anak yang mau camping juga coy! Kita tanya mereka yuk!”

Ekspresi slenge’an dan over percaya diriku tumbuh, ketika melihat tiga orang anak seumuranku menggendong tas ransel dan peralatan camping lengkap. Kuhampiri mereka dan kuajak kenalan,

“Eh coy, elu pada mau camping ya? Kemana?” Tanyaku

“Iya kita mau camping di Merapi nih, mumpung liburan kelulusan.” Kata salah satu dari mereka.

Sempurna. Pikirku, kita bertemu dengan gerombolan orang yang tepat. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Kuusulkan pada Heri dan Arman untuk nekat camping ke Merapi. Biar sensasinya lebih nendang. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Dibandingkan dengan kami, gerombolan anak ke Merapi lebih terencana, lengkap dengan seperangkat perlengkapan camping pun perlengkapan administrasinya, macam surat jalan dan surat ijin RT/RW. Sangat matang persiapan mereka. Ah, MASA BODOH. Kuutarakan maksud untuk bergabung dengan mereka turut ke Merapi.

Hemat cerita, mereka mengizinkan kami turut serta. Tapi tidak bertanggung jawab sama sekali dengan bekal logistik dan lainnya. Okelah! Kami menyanggupinya.

Malam itu kami tertidur dalam kereta.

“Eh coy, udah pagi nih!” Teriak Heri sambil menggegarkan tubuhku dan Arman bermaksud membangunkan.

“Hah? Iya. Eh di mana gerombolan anak yang ke Merapi tadi? Kok ga bangunin kita ya?” Aku mendadak bangun sambil kucek mata.

“Anjing!! Kita di Stasiun Semarang coy! Kita kebablasan coy!” Teriak Arman yang meloncat keluar setelah kereta berhenti.

“Waduh? Yang bener? Kita nyasar nih?” Kataku setengah panik.

“Man, elu ada duit ga?” Kata Heri

“Ada, goceng doang nih! Minta ama Darso noh, dia yang bertanggung jawab dengan ini semua!” Arman kesal

“Anjing! Kok jadi gue sih?” Kataku emosi sambil membanting ransel yang berisi kaos oblong kucel.

“Lah, elu kan yang  ngajakin kita ikut anak itu ke Merapi, tapi kejadiannya malah begini!” Kata Heri nyolot menunjuk mukaku.

“Sudah! Sudah! Mending sekarang kita puter balik langsung pulang aja. Gak ada camping. Gagalkan semua ini. Taik! ” Arman ikut kesal.

“Tapi, beliin minuman dulu dong! Gue haus nih!” Heri nyengir

Sisa uang kami sekarang tinggal tiga ribu. Berkurang karena dibelanjakan air mineral dan makanan kecil lainnya.

“Tinggal tiga ribu duit gue. Kita mau pulang pake apa?” Keluh Arman.

“Tenang. Biarkan gue berfikir sejenak!” Kataku mencoba tenang

Dengan ide brilliant dan terkesan sangat asal-asalan bin slenge’an, akhirnya untuk rute putar balik kita kembali menyusup ke dalam kereta barang. Pengangkut semen waktu itu.

“Uhuk. Gila elu Dar! Ini kereta ngangkut apaan sih? Sesek nafas gue!” Kata Arman yang serba ngeluh.

“Muke lu cakep coy,” Heri jahil, meperin semen ke muka Arman, “Udah  jangan berisik lu, namanya juga darurat. Udah jangan ngeluh mulu lu! Makan nih semen, biar lu kenyang trus diem!”

“SIAL!” Arman membalas Heri.

Muka kami cemong semen putih. Sejenak kemudian kami kembali tertidur. Ah Arman, baru sadarkah kita memang kena sial?

**

“Coy! Bangun coy! Keretanya udah berhenti? Kita sampai mana ini?” Teriakku membangunkan Arman dan Heri sambil panik.

Astaga. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja kita berada si sebuah pabrik semen. Mungkinkah kereta berpindah jalur tanpa kita sadari?

Kami loncat keluar gerbong. Kesekian kali nyasar. Ya Tuhan, muka kami kucel, laper, dan bau anyir tak jelas. Apalagi Arman? Dia paling bau, semalam, sebelum kami tertidur, dia membuang hajat di kereta, tanpa cebok. Hanya mengurug taiknya dengan semen. Persis kucing. Namun, dengan bangganya dia menandai bekas kotorannya dengan tulisan besar “BEKAS TAIK AINK!” Konyol sekali ya? Hahaha.

**

“Eh coy, ada polisi tuh, kita tanya ini di daerah mana ya!” Heri mengacungkan tangan, kearah polisi yang berjaga di pos

“Oke. Lu yang nanya ya Dar!” Suruh Arman

*
Aku bertanya, “Pak, boleh tanya, ini daerah mana ya?”

“Oh ini daerah Cilacap Dik. Emang kalian dari mana, mau ke mana?” Jawab Polisi

“Kami dari Semarang mau pulang ke Subang Pak! Kalau jalan ke kanan itu arah mana ya?” Tanyaku lagi

“Kanan situ arah Nusakambangan, kalau kiri jalan buntu ke kuburan Dik! Tapi diarah kiri sebelum kuburan, ada pabrik kayu, banyak truk-truk yang mengantar kayu ke daerah Cikampek. Mending tanya aja langsung ke sana!” Polisi satunya lagi menjelaskan

“Terimakasih Pak!”

Kami berlalu sopan. Ide brilliant selanjutnya pecah dari kepalaku,Akhirnya kami nebeng truk pengangkut kayu yang menuju Cikampek. Alhamdulilkah supirnya baik. Begitupun di tengah perjalanan, ketika Supir mengisi bahan bakar, dia menawari kami makan. Tentunya, setelah kami berhasil akting muka memelas dan memang benar-benar kelaparan. Terimakasih Tuhan, ternyata tampilan dekil kami sangat membantu. Di sini aku baru sadar bahwa jangan malu tampil apa adanya. Hlah!

Tiga jagung rebus hangat akhirnya mengisi perut dengan lambung yang hampir mengkerut.

Terimakasih juga Tuhan, sebentar lagi kami akan pulang ke rumah masing-masing.

Kami kembali tertidur di sela-sela ruang tumpukan kayu. Berpacu dengan dinginnya angin malam. Masa bodoh. Kami sudah kebal hidup menggembel.

**

“Dik, bangun Dik! Ini sudah sampai Bandung, maaf Bapak lupa bangunin kalian waktu sampe Subang!” Terang Supir truk sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

*disadur dari kisah (nyata) Pak Darsono (*Leader)

*Sepanjang beliau bertuah, kami ngakak badai, gaya bahasanya apa adanya, dan beliau sepertinya cocok ikutan Stand-Up-Comedy 🙂

Posted from WordPress for Android

Iklan

2 thoughts on “Perjalananku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s