Memorabilia #1

Inget ga? Waktu kecil kamu itu kaya gimana?
Sekilas mengingat masa-masa itu, yang terlintas di benakku adalah ungkapan seperti : Kok aku dulu gitu banget ya?; Ya Allah, ampuni kesalahanku waktu kecil; Duh, malu-maluin banget aku ini; dan lain sebagainya.

Dan yang paling berkesan adalah kejadian-kejadian bersama orang tua, terutama Ibuku.

Dulu… jauh sebelum Negara Api menyerang, dunia hidup berdampingan dengan damai. Nah Loh? Salah alur.

Kuulangin ya, #ehem

Dulu, ceritanya waktu Sekolah Dasar, setiap kali berangkat sekolah aku selalu bareng ibu, (iya,Ibuku masih kerja di pabrik pembuatan genteng.) Pada suatu ketika adalah hari dimana ada mata pelajaran Olah raga, aku nggak dikasih uang jajan sama Ibu.

“Maaf Dek, Ibu belum gajian, bekal kamu air putih saja ya!”

“Bohong! Ibu Jahat. Pokoknya kasih uang. Kasih uang. Inikan hari senin, jadwal Olah raga Bu!”

“Tapi Ibu bener nggak ada uang Dek!”

“Bohong!”
*
Setelah selesai makan, ibu pun memboncengku menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, persis di depan gapura, aku memegangi boncengan sepeda, bermaksud menahan Ibu untuk tidak pergi sebelum memberikanku uang jajan.

Akhirnya… dikasih juga toh uang jajan. *Duh bener-bener anak nakal*
Parahnya lagi, tanpa cium tangan, tanpa mengucap salam seperti biasanya, aku langsung ngeloyor masuk ruang kelas. Tahu kenapa? Jadi selama adegan tarik ulur aku yang megangin sepeda, semua temanku bergerombol menyaksikan itu. *Betapa malunya*
Bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya, semua teman kompak meledek, dan mentertawakanku.

Bel tanda dimulainya jam pelajaran pertama berbunyi, yaitu Olah raga. Satu jam berselang, artinya selesai sudah Olah raganya, alangkah terkejutnya ketika kubuka tas, untuk mengambil uang jajanku, ternyata uangnya ngga ada. Hilang. Aku gusar. Coba kucari lagi, siapa tahu aku lupa menaruhnya, mulai dari saku baju, saku celana, tas, tempat pensil, ya nasib, ternyata tidak kutemukan.

Aku ulangi pengecekan dengan rule yang sama hingga beberapa kali, tetap saja uangnya tak ada. Dalam kepanikan, tanpa sadar mata ini panas, ada bulir hangat yang mengalir dikelopak mataku, turun ke pipi, hingga ke mulut. *Oh rasanya asin* (harusnya, inikan lagi bagian sedihnya)

Uang jajanku hilang. Aku setengah sadar, dan setengah menyesal, mungkin karena ‘alam’ nggak ikhlas, menyaksikan waktu Ibu memberikannya padaku. “Maafin Adek Bu, Adek janji besok-besok pasti diulangi lagi -_-?” *Kenapa baru sekarang minta maafnya?* #ditendang

Sore harinya aku baru tahu, ternyata uang yang kuminta paksa adalah uang yang seharusnya dibelanjakan Ibu untuk membeli minyak tanah yang sudah habis.

Akhirnya malam itu kami melewati malam dengan suasana gelap gulita tanpa lampu minyak.

“Sungguh, maafin Adek Bu, dulu Adek ngga tahu apa-apa, ngga pernah merasa bersalah, Adek adalah anak bandel.”

Dan seperti yang aku tahu, Ibu itu adalah makhluk pemaaf yang sebaik-baiknya pemaaf.

Setiap maaf-maafan cuma di suasana Idul Fitri, dan Ibu selalu bertuah terbata-bata pun menitikan air mata, “Ibu selalu maafin kesalahan anak-anak Ibu, jauh sebelum kalian bilang maaf. Ibu pun minta maaf kalau selama ini tak bisa menjadi Ibu seperti yang kalian harapkan,”

Aku sayang Ibu.

Iklan

12 thoughts on “Memorabilia #1

    1. Hihihi makasih ya udah baca. Makasih atas apresiasnya. Aku cuma nulis apa yg ingin aku tulis. Kadang2 juga ga sesuai EYD πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s