Hari Bersamanya

Hari ini mungkin hari terakhirku bisa bercanda mesra dengannya, karena esok sudah di pastikan Dia beranjak dari sini, melanjutkan hidup di lingkungan yang baru katanya. Ya, dia memutus kontrak setelah bekerja dua tahun di sini. Menyebalkan. Oh tidakkah kau bertanya mengapa ini terasa menyebalkan bagiku? Entahlah, akupun malu mengakuinya kalau…

“Lex, makasih selama ini Lu udah banyak bantuin gue…“ Katanya yang datang dengan tiba-tiba mengejutkanku.

“Eh, iya. Sukses ya di luar sana, jangan lupain aku!“ Jawabku berpura-pura tenang.

“Aamiin Lex“

“Nih,“ sambil kusodorkan sebuah bungkusan, dia bingung “Eh, ini ambil, anggep saja kenangan terakhir dari aku Ndi“

“Apaan ini?“

“Buka aja“

Tanpa aba-aba dia langsung merobek bungkusan yang kubuat rapi. Setelah ia tahu isinya ia pun langsung meluapkan ekspresi terimakasihnya dengan merangkulku.

“Makasih Lex, Lu tau aja kalau gue suka Jersey Milan“

“Iya dong, apasih yang nggak aku tahu tentang kamu? Aku tahu segalanya Ndi. Kamu aja nggak pernah menyadari itu.“

“Lex, Lu sahabat gue yang paling baik. Lu orang kedua yang pernah ngasih gue sebuah hadiah“

“Eh…ternyata aku orang kedua?“

“Makasih Lex, ini gue suka banget. Kalau gue pake ini pasti gue inget lo terus!“

“Ahh, lebay. Berlebihan kamu Ndi“

“Serius!“

Baguslah, kalau kamu inget terus sama aku, akupun juga begitu.

“Oh iya Ndi, kamu udah beresin semua barang kamu? Nggak ada yang ketinggalan kan?“

“Beres semuanya Bos! Tapi kalaupun ada yang tertinggal, pasti itu sesuatu yang sengaja gue tinggal.“

“Maksud kamu?“

“Ya kenangan kita, kenangan gue kerja bareng lu pasti membekas,“ Sambil ia menyeringai. Tanpa beban ia ucapkan.

Sepertinya diantara kita memang tidak ada sesuatu, ya maksudku dari sisi dia, kalau dariku jangan tanya, kalau aku sebenarnya….

Mungkin memang dia sudah menemukan jodohnya, meski dia tak pernah antusias menceritakannya padaku selama ini. Tapi apa yang dia katakan ketika kuberikan hadiah tadi sudah cukup buatku berprasangka, walau hanya sebuah praduga.

Ndi, sebenarnya aku tak rela kamu pergi dari sini, aku ingin terus bersama kamu Ndi, bukan hanya di tempat kerja, tapi lebih dari itu, aku ingin bersamamu dalam mengarungi…

“Lex, lu ngapain bengong dari tadi?“ Lagi-lagi ia mengejutkanku. Dan itu yang selalu aku ingini, kau memberikanku kejutan di setiap hariku Ndi.

“Eh, kenapa?“ Sambil kugaruk kepala yang tak gatal

“Lu kenapa? Kayak orang bingung, kesambet ya?“

“Ng…nggak ko, enak aja!“ Sambil kuketuk tuts keyboard acak.

“Gue pamit ya, bentar lagi istirahat makan siang tuh! Sorry nggak bisa makan siang bareng, gue musti buru-buru ngurus berkas-berkas gue di sini Lex“

“Eh iya, nggak apa-apa“ Jawabku malas

“Lu nggak apa-apa kan setelah gue tinggal nanti?“

“Maksudmu?“

“Nggak bakal kangen gue gitu?“

“Eh? Please, jangan mancing perasaanku Ndi,  jangan tambah berat bebanku untuk sekadar melepasmu

Haha. Lagi-lagi ia menyeringai.

“Gue, bakal kangen lu Lex, I love you!“

….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s