Cinta Datang Terlambat

Siang itu, sepulang sekolah aku berpapasan lagi, dengan adik kelasku. Namanya Nayla. Gadis ceria, imut, dan sepertinya lugu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Entahlah.

Berpapasan dengan tidak sengaja saat Orientasi Siswa Baru pagi tadi. Kuketahui namanya saat membaca  tag nama besar tergantung di dadanya. Tuhaaaan, bola matanya hitam-cokelat, bulat sempurna, seakan memancarkan cahaya. Garis mukanya merona, rambutnya tergerai apa adanya. Bagiku dia sosok sempurna.

Berawal dari situ, aku mencoba cari tahu banyak tentang Nayla. Mulai dari nomor ponsel-nya, alamat rumahnya, dan siapa pacarnya? (Tentu saja aku berharap dia belum ada yang punya).

Malam hari setelah aku mendapatkan nomor ponsel-nya, aku mulai tebar pesona dengan iseng meneleponnya.

“Selamat malam.”

“Ya, maaf, ini siapa ya?”

“Fans kamu, Nayla.” jawabku sok akrab.

“Hahahaha.” Nayla tertawa renyah.

“Kok ketawa sih?”

“Iya. Berasa artis, aku punya fans. Anyway makasih kalau kamu mengidolakanku. Tapi fans, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

“Hahaha. Kenalkan, namaku Dan”

“Dan… dan mungkin bila nanti?”

“Haha. Kok jadi lirik lagu. Bercandanya asyik!”

**
Sungguh kesan pertama yang membuatku mampu berharap lebih padanya. Sepertinya dayung bersambut. Nay merespon dengan baik.
Setelah sebulan masa pendekatan, aku semakin yakin untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.
*
Pagi itu, seusai upacara bendera, aku menemui Nay.

“Nay, ada yang mau aku omongin sama kamu!” sapaku padanya,saat akan masuk kelas.
“Eh… iya, Kak Dan, ada apa?”

Tuhaaaan, aku tak sanggup menatap matanya yang teduh. Aku sungguh jatuh cinta dengannya.

Namun, mendadak bibirku kelu.

“Kak, ada apa,Kak?” Nay melambaikan tangan ke wajahku yang melamun, “tadi katanya mau ngomong?”lanjutnya.

“Oh, engga… Nan-ti siang makan bareng ya, di kantin!” gagapku. Salah tembak.

“Yeelah, Kak Dan, biasanya juga bareng terus kan? Ya udah, Nay masuk dulu ya Kak, sampai ketemu nanti siang!”

**
Bel Istirahat jam 12.00 berbunyi. Kami menepati janji. Aku dan Nay, duduk berhadapan di kantin seperti biasa, kupesan 2 mangkok bakso kesukaan kami.

Sambil menunggu pesanan, Nayla membuka obrolan kami.

“Nay mau curhat dong, sama, Kak Dan.” katanya.

“Curhat apa Nay?” jawabku antusias. Mataku mencelos.

“Anu, Kak…” kata Nayla, mukanya tertunduk. Malu-malu.

“Apa si? Kok pake malu-malu segala. Ceritakan, Nay?” ledekku. 

“Emmm. Menurut Kak Dan, Nay udah boleh pacaran belum?”

“Kok nanya gitu?” kataku sambil menggeser mangkok bakso yang baru datang.

“Iya. Menurut Kakak, boleh nggak?”

“Boleh sih… asal Nay bisa tanggung jawab sama sekolahnya. Jangan kalau udah pacaran terus lupa sekolah. Jangan sampai seperti itu. Dosa!”

“Hahaha. Kok dosa sih, Kak? Berarti, Nay boleh punya pacar ya Kak?” tawanya renyah.

“Ya begitulah. Soalnya aku juga udah siap jadi pacarmu Nay.” Kuseruput kuah bakso yang panas.

” Begini, Kak, tadi Nay ngga sangka gitu,  Tono nembak Nay di depan kelas, Kak!” jelasnya. Saat itu hatiku jadi panas.

Setahun Nayla pacaran dengan Tono. Aku fokus dengan Ujian Nasional. Lulus sekolah, aku tak lagi berhubungan dengannya. Sesekali kudengar kabar Nay dari keponakanku yang seumuran dan sekelas dengan Nay. Aku melanjutkan SMK. Seusai SMK, aku langsung merantau mencari kerja di kota. 

***
Kini sepuluh tahun itu telah berlalu, aku tak mau menunda untuk kedua kalinya. Ya, hari ini: Senin, 17 Maret 2014. Aku akan melamar Nayla menjadi istriku. Setahun lalu,tanpa di sengaja kutemukan lagi profil Nayla, lewat sosial media. Kami kembali larut, saling tukar cerita.

Iklan

4 thoughts on “Cinta Datang Terlambat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s