Best Friends?

“Kenapa Kak? Kenapa Kak Dan ndak setuju kalau Nay pacaran sama Nata?” Nay memaksa meminta penjelasanku.

Tapi aku menepis dan berlalu tanpa kata.

“Kak Dan, jawab Kak kenapa Kak Dan seperti ngejauhin Nay?”

Dari kejauhan aku dengar Nay berteriak seakan penuh tanya. Tapi aku pura-pura tak menggubrisnya.

Mulai detik itu, hari-hariku selalu menghindari Nay, tak lagi ada makan bareng di kantin. Tak ada sapaku untuknya, meski Nay mencoba terus menyapaku. Aku terus tak acuh padanya.

Biarlah. Aku tak bisa menjelaskan kenapa begini, karena seharusnya memang begitu: Nay menjalin cinta pun berpacaran dengan Nata.
*
Apa kau tahu Nay? Aku masih dan selalu merindukan saat-saat kita bersama dulu…

Malam-malamku pun sejatinya dihinggapi lamunan tentang Nay. Terkenang peristiwa pagi itu, ketika aku urungkan niatku ungkapkan isi hatiku padanya, apakah aku terlambat mengungkapkan isi hatiku padamu Nay?

Andai kau tahu apa maksudku waktu itu Nay…

Do you hear me,
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

Suara getar nada dering ponselku berulang kali. 100 panggilan tak terjawab : Nayla. Kulirik ponsel dengan tak berselera.

Beep! Sekali lagi ponselku bergetar. 2 pesan diterima: Nayla.

Kuhempaskan ponsel jauh-jauh dari sisiku. Aku tak mau mengingat namamu Nay.
Aku ingin tidur dengan tenang malam ini. Hingga esok aku terbangun, aku telah ikhlas melepasmu.

**
Kujejaki gerbang sekolah dengan rasa malas. Semalas aku melihat gelak tawa-canda Nay saat berdua dengan Nata.

Tiba-tiba ada refleks tangan menepuk pelan pundakku dari arah belakang. Yang ternyata itu tangan Nata.

“Kak Dan…” Nata menunduk

“Ya Nat, mana Nay? Kok ngga bareng?” Aku sungguh penasaran.

“Kak Dan belum baca SMS dari Nay semalam ya?”

“Kenapa dia?”

“Nay di Rumah Sakit Kak, dari semalem!”

Tanpa bertanya panjang lebar, aku gusar. Mengobrak-abrik isi tas mencari di mana ponselku, di saku? Oh ternyata tertinggal di kamar. Aku balik kanan, bergegas lari meninggalkan gerbang sekolah. Aku harus tahu isi pesan dari Nay semalam.
**
Terengah-engah, akhirnya kusampai pintu rumah, berlari menuju kamar yang kukenali di mana arah. Kuraih ponselku yang sejak semalam tak terjamah: “Low batteray!”

Ah sial! Buru-buru kubuka isi pesan Nay semalam.
1
“Kak Dan, maafin Nay kalau selama ini banyak salah sama Kakak. Nay emang bodoh, Nay ga peka sama keadaan. Nay takut Kak Dan marah sama Nay. Nay kangen saat-saat seperti dulu Kak. Nay ga tahu harus gimana lagi bilang ke Kakak. Nay sayang bgt sama Kak Dan. Tapi kalau kakak udah ngga mau lagi kenal sama Nay, mending Nay pamit. Nay tunggu jawaban Kak Dan sekarang juga, sebelum Nay bener2 pamit sama semuanya.”

2
“…Kak, Nay pamit ya. Nitip salam buat Ibu, Ayah, Kakak Nay, juga Nata. Tolong sampein salam Nay ya kak!

Nay selalu sayang sama Kak Dan lebih dari siapapun”

Seketika jantung dan isi kepalaku seirama berdenyut hebat. Aku harus bergegas meski dengan sisa-sisa nafas yang masih terengah, hanya satu harapan yang bergejolak di dadaku: semoga aku masih sempat menemuimu Nay

**


Untuk FF2IN1 @nulisbuku

Iklan

5 thoughts on “Best Friends?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s