Terlambat (2)

Aku tergopoh memasuki gerbang sekolah sembari menuntut sepeda. Aku parkir sembarang tempat karena penuh. Pukul 07.10, bel masuk telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Beruntung aku bisa masuk gerbang sekolah karena pagi ini tak ada penjagaan.

Bergegas aku menuju tangga naik ruang kelasku di lantai dua.

Berlari sepanjang lorong melewati jajaran loker tempat tas-tas disimpan. Berhenti tepat di depan pintu ruang kelasku, ku elus dada demi menstabilkan nafasku yang terengah. Sial, aku baru ingat ini hari Rabu, jam pelajaran pertama adalah Bu Siti, guru Bahasa Inggrisku. Ini adalah kali ketiga aku telat masuk di mata pelajarannya. Aku ingat betul, kali kedua kemarin Bu Siti masih memaafkanku dan mengizinkanku masuk, namun sambil memperingatiku: jika ada telat ketiga kalinya sudah tak ada maaf itu. Takut-takut ku ketuk pintu, “Assalamuallaikum, excuse me. I am sorry Mom, I am late. Can I came in?” Celaka betul, Bu Siti tak menjawab salam dan sapaku.

Ayolah, aku berharap sapaan itu masih mempan sama seperti pertama dan kedua kali aku telat, yaitu hukumanku: harus bisa izin masuk dalam Bahasa Inggris sederhana itu.

Bu Siti terus menerangkan materi, teman sekelasku pun tak ada yang pedulikan kehadiranku. Aku menggaruk kepala yang tak gatal.

“Silakan kerjakan tugas halaman 30,” Bu Siti memberi instruksi kemudian duduk kembali di bangku guru.

“Maaf Bu, permisi, apa saya boleh duduk?” Kataku

Tapi Bu Siti tetap mengabaikan, seolah tak peduli ada aku. Kugaruk kepalaku sekali lagi.

“Bu, maaf saya telat lagi,” Aku mengiba.

Bu Siti hanya menengok sekilas, kemudian lanjut memainkan HP-nya. Ia beranjak berdiri di depan kelas, “Anak-anak, apakah kalian tahu siapa teman kalian yang tidak masuk hari ini?” Teman sekelas hanya saling berpandangan, satu dua ada yang nyeletuk, “Tom ngga ada Bu,”

“Hai, apa kalian bercanda aku ada di depan kalian!” Jawabku protes, sambil tunjuk tangan.

“Iya benar, tadi Ibu dapat kabar dari temen guru yang lain, katanya Tom kecelakaan sekarang koma di rumah sakit,” Bu Siti menjelaskan.

“Apa-apaan yang kalian katakan? Ini aku Tom, di sini,”

Seketika, rasa nyeri menghantam isi kepalaku. Serasa berputar, seberkas cahaya menyilaukan menerpa mataku, sedetik kemudian cahaya itu lenyap perlahan dan nyeri kepalaku hilang. Aneh, aku tak lagi berdiri di ruang kelasku, tapi di pinggir jalan raya.

Suasana yang kukenali, ini jelas situasi pagi tadi. Kulirik jam di tangan 06.50. Aku mengulang hari? Entahlah, kali ini ada keramain orang berkerumun di sana. Ada korban tabrak lari? Aku yang bingung coba mendekati kerumunan itu, kulihat korban anak sekolah mengenakan seragam sepertiku.

Kupandangi lebih dekat, “Tidak!” Refleks aku teriak, seakan tak percaya karena ternyata, sosok itu adalah aku, terkapar bersimbah darah.

Iklan

8 thoughts on “Terlambat (2)

  1. mungkin karena sudah banyak yang mencoba tema ini, sejak pertengahan cerita sudah tertebak arahnya. sudah tak ada kejutan lagi saat mengakhiri baca. saranku, buat perbedaan di ujungnya : pilih penyebab kematian selain kecelakaan. ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s