Tim-Mun-Mas (2)

Benar saja, ketiga putri Mbok Rondo tumbuh besar cantik dan memesona. Tapi hati Mbok sedih. Ini hari terakhirnya dapat bercengkerama dengan ketiga putrinya.

“Dengarkan baik-baik putri-putriku, sejujurnya kalian hanya titipan Raksasa. Tujuh belas tahun lalu Mbok menginginkan anak dan Raksasa yang melintas mengabulkan permintaan Mbok, dengan syarat menandatangi kontrak: membesarkan kalian sampai usia tujuh belas, kemudian Raksasa akan menjemput kalian untuk di mangsa. Nah, hanya ada tiga benda yang akan kutitipkan pada kalian. Untuk Tim, bawalah garam. Mun, bawalah jarum, dan untuk Mas, bawalah terasi ini. Ingat kalian harus selalu bersama jangan terpisah. Tebarkan ketiga benda tersebut mulai dari Tim, Mun, dan Mas. Nah kalian bergegaslah pergi sekarang sebelum Raksasa datang!”
**
Tok! Tok! Tok!
“Mbok, aku datang menagih janji, serahkan mangsaku sekarang!” teriak Raksasa.

“Tunggu sebentar Tuan, mereka sedang berdandan sebelum menemuimu.” kata Mbok berbohong.

“Nah putri-putriku, bergegaslah!”

Tanpa sengaja Raksasa melihat tiga sosok gadis lari lewat pintu belakang. Mengetahui bahwa Mbok berbohong, Raksasa murka dan mengejar tiga mangsanya yang mencoba kabur.

“Mau lari ke mana kalian gadis manis. Jangan lari, aku lapar. Ayolah mendekat padaku. Hahaha!”

“Tolong jangan mangsa kami Tuan,” pinta Tim sembari diam-diam menebar garam. Seketika menjadi lautan. Naluri hobi memancing Raksasa muncul, ia sibuk memancing. Sampai pada akhirnya sadar bahwa lautan itu hanya fatamorgana, Raksasa kesal.

“Berani sekali kalian mengerjaiku. Hah!” Raksasa berhasil menemukan Tim, Mun, dan Mas.

“Ampun Tuan,” pinta ketiga putri itu.

Tak buang waktu, Mun, menebar jarum ke arah Raksasa, sekejap berubah menjadi tumpukan benang dan jarum. Raksasa terpancing merajut. Lama. Raksasa bosan, sekali lagi ia lolos dari jebakan itu. Tim, Mun, dan Mas terdesak, sepelemparan saja raksasa hampir mencengkeram mereka bertiga.

“Keparat kalian, aku akan menelan kalian bertiga sekaligus. Hahahah!”

Mas berpikir cepat, sejurus melempar terasi ke arah Raksasa. Ajaib, tanah tempat Raksasa berpijak tersaji makanan beraneka dan tentu saja sambal terasi.

Raksasa sibuk memghabiskan makanan dengan mencocol sambal terasi. Setiap kali dilahap, makanan lain bermunculan, dia kekenyangan. Perut Raksasa mengembang bak balon udara.

“Tidaaaak!”
Dhuaar! Perut Raksasa itu meletus dan tubuhnya hancur berkeping-keping.

Tim, Mun, dan Mas selamat.

Iklan

15 thoughts on “Tim-Mun-Mas (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s