Bapak Presiden

“Rencana Bapak akan merelokasi rumah pinggiran kali ini, benar?”

“Ya, tentu saja. Biar ndak kumuh toh, nantinya bakal kita jadiin semacam tempat wisata,”

“Ke mana Pak?”

“Kita relokasikan mereka ke RUSUN MARUNDA itu-lah,”

Samar kudengar obrolan (yang katanya) Bapak Presiden terpilih sedang di wawancara via TV di warung pinggir kali tempatku beristirahat. Kuteguk tetes terakhir es teh, lalu kuangsurkan dua ribu-an.
Jeli kuperhatikan, wawancara langsung itu terjadi di tempat yang sangat kukenali. Bergegas, kudorong gerobak tempatku mengepul sampah.
Berlarian, tak kuhiraukan debu beterbangan menambah kusam garis mukaku.

Benar saja, bantaran kali, belakang rumah panggungku, ramai sesak lautan manusia. Aku ikut euforia, menyesaki. Tanpa permisi kulewati kerumunan warga dengan susah payah.

Nampak sosok yang amat kukenali, “Prabowo Widodo!” Aku berteriak.
Sosok itu melengos, tapi kembali fokus pada wartawan.

Kuangkat tanganku tinggi, “Pak Dodo, Ibumu sedang sakit, dia di rumahku sekarang. Tidakkah kau mengenalku?”
Aku yakin itu Prabowo Widodo teman sepermainanku. Aku ingat sekali janjinya dulu, “Aku berjanji Jon, aku akan merantau dan akan pulang kalau sudah sukses, tolong jagain Ibuku ya,”

Iklan

5 thoughts on “Bapak Presiden

      1. nggak ada masalah dari segi tulisan menurutku, Jun. cuma temanya yang bisa jadi sensitif bagi ‘sebagian orang’. tokohnya bernama joko widodo, seorang presiden yang baru dilantik. menilik karakternya seperti meng-amin-kan beberapa tuduhan yang sering dialamatkan padanya semisal suka ingkar janji, pencitraan, dll.

        gitu.. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s