Interlude Layur

Laki-laki yang berdiri di depan kelas itu, Layur. Aku sangat suka senyumnya. Manis menggoda.

Sebentar lagi ia akan membacakan puisiku. Puisi mading yang dia pilih secara acak untuk tugas musikalisasi puisi.

Interlude itu mengalun perlahan. Bulu kudukku merinding karenanya.

**

Layur berdiri di depanku dan memberikan untaian bunga bougenville. DiaΒ  dihukum guru karena tak tahu pengarang puisi itu. Aku tersenyum, melihat pipinya merah padam. Mungkin dia malu?

“Ayolah, Tan, terima bunga ini!” pintanya.

Sengaja aku berlama-lama. Aku ingin memandang bola matanya yang bulat dan berwarna coklat.

“Akan aku terima bunganya, tapi ada syaratnya!” bisikku, “Aku ingin kau merekam interlude musikalisasi puisi tadi untukku.”

“Siap!”

**

Esok paginya, dia menyerahkan rekamannya.

“Ini rekamannya, terima kasih telah menyelamatkanku dari hukuman.”

Aku mengangguk.

“Aku suka kamu, mau jadi pacarku?”

Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibirku. Jeda hening itu tercipta.

Kalimatku serasa menggema memecah hening.

Mata itu membulat sempurna. Menatapku dalam. Tak ada kata dari bibirnya.

Teeeet!

Bel masuk berbunyi. Dia bergegas ke mejanya.

Jangan lupa diputar.

Hanya ada SMS darinya hingga pulang sekolah.

Sesampai rumah, gegas kumainkan rekaman itu. Aku merinding lagi. Semenit tiga puluh lima detik, hening. Aku berniat ganti baju sebelum ada samar pesan suara. Intan…. I LOVE YOU.

-J

Iklan

17 thoughts on “Interlude Layur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s