Perempuan Itu…

“Maukah kau dengar sebuah kisah, tentang seorang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga bisa mengacaukan seisi alam raya dan memorak-porandakan semesta?” kata mas Badi, dengan tatapan kosong ke luar jendela kamar.

Kala kesepian melanda ia akan mengulang pertanyaan itu dan mulai berkisah yang sama. Tentang masa lalunya.

Mas Badi, ia laki-laki yang menjadi pegawai di kantor ayahku,  hingga akhirnya jadi suamiku.

“Hmmm.  Ceritakan Mas. ” jawabku dengan ekspresi yang selalu sama.

“Adalah perempuan yang pernah membuatku jatuh hati.”

Ya Tuhan,  demi apa aku sangat hafal kisahnya ini.

β€œHh.” Mas Badi mengesah,” tentang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga akhirnya aku menikahinya tanpa ada keluargaku yang tahu- tanpa restu-tentu saja. ”

Jeda sejenak, Mas Badi melanjutkan.

“Adalah perempuan yang memberiku dua malaikat yang cantik, dia perempuan yang baik tapi tak pernah kuperlakukan dengan janji hidup yang baik,  ya, aku menyiakannya. Tiga bulan pertama pasca pernikahan, aku tak bisa menafkahinya. ”

Hatiku selalu tergetar di bagian ini.

“Perempuan itu sendiri yang memintamu berhenti bekerja agar keluarga tak curiga dengan alasanmu mencari pekerjaan baru di Jogja – kota perempuan itu- padahal sebenarnya kau sedang mempersiapkan pernikahan rahasia itu?”
Demi apa,  ingin kuteriakan begitu, tapi urung. Kubiarkan mas Badi menguraikan sendiri demi sopan santun.

Mata mas Badi tampak berkaca-kaca.

Kuelus punggung tangannya.

Sama sekali bukan salahmu Mas. Batinku, kemudian memeluknya.

” Jelas salahku.  Aku laki-laki yang seharusnya menjadi imam, tapi aku bak kerbau yang dicucuk hidung: mengiyakan segala permintaannya.”

“Yang kemudian hari setelah kelahiran putri pertama, kutemukan secarik kertas mencurigakan di dompetnya, kucecar ia dengan pertanyaan, hingga mengaku, itu adalah mantra guna-guna untukku. Setelahnya, entah kenapa kecantikannya luruh seketika di mataku. ”

Aku masih tekun mendengarkan kisahnya.

“Aku marah, seharusnya aku mencerainya saat itu, tapi aku justru pergi meninggalkannya ke Jakarta. ”

” Karena dia sedang hamil anak keduamu bukan?” Mataku panas tiba-tiba, saat kalimat itu meluncur.

Mas Badi meneteskan airmata.

“Dan dia mengejutkan jagat, nekat mendatangi keluargaku di Kebumen.  Mengatakan semua rahasia yang janjinya akan kita rahasiakan seumur hidup.”

…..

“Meminta pertanggungjawaban, dan menguras harta keluargaku seketika.”
…….

“Penyakit jantung bapakku kambuh mendengar pengakuannya, esoknya, meninggal dunia.”

Mas Badi menunduk. Murung.

“Demi apa,  ini bukan salahmu sepenuhnya Mas, ” bisikku.

“Mas, meski aku bukan yang pertama,  tapi aku akan mencintaimu seumur hidup. Apapun keadaanmu saat ini dan nanti.” kukecup keningnya kemudian.

Aku selalu mencintaimu. Persis saat kau pertama kali memberikan pengakuan bahwa statusmu masih suami orang, aku tetap mau menikah denganmu.

“Maaf,  aku harus pulang dulu. Cepat sembuh,  Mas. ”

Kamar rumah sakit itu tampak lengang.  Perih hatiku harus meninggalkannya sendirian. Demi kebaikannya, aku harus.

Setahun lalu, perempuan itu mendatangi kita, dan membuatmu jadi begini, Mas.

Aku janji, akan menyingkirkan perempuan itu yang kini coba menggerogoti aset perusahaan kita.

____
. untuk prompt 77 @mondayff

Iklan

12 thoughts on “Perempuan Itu…

  1. Jadi mas Badi itu gila? krn istri pertama yg jahat itu?

    suka bgt kalimat ini: “meski aku bukan yang pertama, tapi aku akan mencintaimu seumur hidup.”
    endingnya nggak ketebak! nice!

  2. Tapi sih, Mas Badi juga nggak mungkin ninggalin anaknya dr istri pertama, be strong istri kedua! *abaikan*

    salam kenal! btw jgn manggil “kak” berasa tuaa hahaha

  3. Woo…jadi suaminya gila. Kok istri keduanya mau ya menikah sama masnya itu?
    Kok paragrafnya berasa berantakan ya Kak Jun? Apa efek tema blognya? Hooo…maap Manda ceriwis. Hehe. But, nice story! πŸ™‚

      1. Eeeh, maap, itu bukan dimaksudkan untuk koreksi lho, cuma tiba2 kepikiran aja trus penasaran gimana ceritanya sampe istri keduanya bisa menikah sama masnya πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s