#DibalikSecangkirKopi : Konspirasi Bapak Dan Anak

Kangen sisa kopi Bapak buatan Ibu…

Beberapa tahun silam saat usiaku sekitar 7, setiap weekend saat Bapak pulang ke rumah. Pagi-pagi Ibuku selalu siap dengan seduhan secangkir kopi hitam untuk Bapak.

Kopi merek lokal khas kota kelahiranku: Kebumen. Adalah kopi hitam, yang kemudian aku tahu itu jenis arabica. (Baca di sini)

Malangnya, Ibu selalu melarangku minum kopi pagi-pagi sebelum sarapan , “O, Ibuku memang tak adil,kenapa Bapak boleh, aku tidak? ” protesku suatu ketika. Bapak senyum, Ibuku hanya diam. Sibuk dengan urusan dapur. Tapi tenang, bapakku, memang Bapak paling keren sedunia, senyumnya tadi memberikan banyak arti. Bapak dengan suka rela-diam-diam berbagi secangkir kopinya denganku.

Berawal dari situlah konspirasi Bapak dan anak terjadi: berbagi kopi.

Pun suatu ketika Bapak juga mengajariku cara lain menikmati kopi dengan cara nguntut kopi; menikmati kopi tanpa diseduh air panas, yaitu bubuk kopi hitam dicampur dengan gula putih kemudian langsung dimasukan ke mulut, sedikit demi sedikit. Entahlah, namun kemudian cara ini menjadi favoritku menikmati kopi tanpa sepengatahuan ibuku. Di sinilah awal kecintaanku pada aroma dan cita rasa kopi.

Konspirasi Bapak dan anak ini terus berlanjut hingga nanti aku SMP.

Setelah masuk SMK, barulah aku tahu bahwa pabrik kopi lokal Kebumen itu terletak di belakang pasar Tumenggungan, nyaris berdekatan dengan kompleks sekolahku.

Benar saja, karena aroma kopi menguar tajam tiap jam istirahat siang.

Lima tahun berlalu sejak aku lulus SMK, dan bekerja di luar kota, berbagai macam kopi telah kurasai. Kini Indonesia telah mengenalkanku pada produk kopi instan yang makin populer, dan menjamur. Moccachino, vanilla, original, seleraku hanya berputar di tiga lini itu.

Hingga pada saat perutku merasakan mulas hebat, pusing, dan mual, aku periksa ke dokter, aku divonis terkena Magg, yang ujung akhirnya, aku disarankan untuk mengurangi konsumsi kopi. Di situ terkadang saya merasa sedih.

White Coffee, adalah alternatif satu-satunya, agar aku tetap bisa menikmati kopi.

Sampai kapan pun, ada kopi, ini baru hidupku!

Tapi aku selalu kangen sisa secangkir kopi Bapak buatan Ibu.

Ah, selalu begitu…
Ini Baru Hidup!
#DibalikSecangkirKopi
****

T:@junioran9er
F:Junioranger Sarif

Iklan

2 thoughts on “#DibalikSecangkirKopi : Konspirasi Bapak Dan Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s