Pohon Keramat

Kreeeek

Minggu. Pukul dua belas siang. Saat  kutengok dari halaman, pohon asem keramat di sebelah surau itu tampak oleng. Akar tunggangnya, menyembul dari tanah yang kini juga tampak retak. Tak salah lagi, bunyi tadi pasti berasal dari situ.

Sraaaaaak, brugggg.

Astaga, di depan mataku pohon asem itu tumbang. Pohon asem keramat, yang konon katanya, sudah ada dari jaman wali sanga, usianya 800 tahun lebih.Diameternya, jangan tanya, tiga orang dewasa tak cukup memeluknya.

“Pohon asem, ambruk Pak!” ujarku tergopoh lari ke tempat Pak Lurah yang jaraknya sepuluh rumah dari rumahku.

Bergegas, kami menuju lokasi. Warga berkerumun tanpa aba-aba. Ibu-bapak menunjuk-nunjuk, berseloroh, pohon itu tumbang ke surau kami.

“Gimana ini, Pak Lurah? Saya tak berani membereskan pohon keramat itu,takut kena sial,” ucap Gogon tukang gergaji di desa kami.

“Masih aja percaya sama takhayul kamu, Gon!” Mijan menyambar,”Pak Lurah, saya bersedia membereskannya. Tapi…”

“Tapi apa, Pak Mijan?”

“Anu, asalkan saya boleh mengambil bagian galih kayunya, lumayan, buat jimat.”

“Huuuuuu!” riuh warga kompak

Tak ada protes, itu artinya semua warga setuju, toh jika ada kesialan atau hal gaib lainnya, hanya Mijan yang terkena imbasnya, mungkin begitu pikir warga.

Selepas warga membubarkan diri dari kerumunan, Mijan bergegas pulang,menyiapkan kapak, golok, juga gergaji mesin yang dipinjamnya dari Gogon.

Pukul 14.00, Mijan mengeksekusi pohon asem yang tumbang itu. Merapikan ranting dengan golok, kemudian menghidupkan gergaji mesinnya.

Groooang, kudengar raungan gergaji itu, panjang, pendek, panjang, pendek, seperti tonggeret kemudian senyap.

Sekitar setengah jam masih juga senyap. Mungkin Mijan sedang beristirahat, pastilah karena kelelahan membereskan pohon sebesar itu sendirian, pikirku.

“Kang Yanaaaa! Kang…! Tolong… Kang!”

Kulihat Mijan berlari ke arahku, sambil memikul kapaknya. Ngos-ngosan.

“Ada apa, Kang? Seperti melihat setan saja?”

“Anu, Kang, anu…” mukanya pucat, namun berkeringat.

“Yang jelas kalau ngomong, pelan-pelan.Duduk. Minum dulu sini,” suruhku.

Setelah menandaskan segelas air putih yang kusodorkan, Mijan mengatur napas. Tenang.

“Ada apa, kok lari terbirit kayak abis lihat demit?”

“Sumpah, Kang, aku  baru menggergaji pohon itu sebagian, setelahnya, aku istirahat, posisiku membelakangi pohon itu,”

“Lantas?” potongku.

“Saat aku mau lanjut menggergaji,entah bagaimana, pohon itu, berdiri tegak lagi.”

Untuk Prompt @Mondayff

Iklan

3 thoughts on “Pohon Keramat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s