Kang Simin Tak Percaya Tuhan

6. Berpikirkan positif.
Yakinlah bahwa Tuhan akan mendengar doa kita dan akan mengabulkannya.

7. Jika memungkinkan, usahakan bersuci terlebih dahulu.
**
“Ah, buang-buang waktu saja. Semua itu hanya teori. Omong kosong belaka,” bantah Kang Simin pada suatu pagi, di warung kopi.
Kaget. Kuhentikan melafalkan tip” ADAB BERDOA AGAR DITERIMA” yang kubaca dari internet.

“Kamu lihat teman kita Suhud, orang paling taat. Apa dia kaya?”

Sambil kugeleng-gelengkan kepala, kuseruput kopi hitam dalam diam.

“Doa tanpa usaha, ya apa bukan omong kosong? Yang penting kan kerja, kerja, kerja. Bukankah begitu saran Presiden kita?” lanjutnya, “Wis, ndak usah kakehan teori, habiskan kopimu. Kita kerja!”

“Siap, Kang!” gegas aku membuntutinya.

Kautahu? Kang Simin itu mandorku yang kaya raya. Rumahnya tingkat tiga, itu baru yang di Jakarta, belum yang di Kudus dan Kebumen. Entahlah, aku pun belum pernah melihat rumahnya selain di Jakarta. Kang Simin mandor yang disiplin dan pekerja keras. Pun hati dan isi kepalanya. Tak ada yang bisa memengaruhi pendiriannya. Meski beliau sering membantah perkara ketuhanan, tapi hatinya baik. Dermawan.

“Sepertinya sudah saatnya kau kuberi tahu rahasiaku” katanya disela jam makan siang.

“Rahasia apa, Kang?”

“Rahasia cepat menjadi orang kaya tanpa berdoa!” katanya sambil mengelus-elus batu akik di tangannya.

“Maksudnya?”

“Karena batu akik bertuah ini, Jon. Proyek kita jadi ramai.”

“Caranya?”

“Sambil mengelus batu, kurapalkan mantra, juga keinginanku, niscaya permintaanku terkabul. Jadi, tak ada waktu terbuang sia-sia hanya untuk jungkir balik berdoa.”

Sekilas kutatap, tampak mukanya besinar bangga.

Astaghfirullahal’adzim, batinku.

Kemudian aku kembali tekun menghabiskan makan siang.

**
“Jono, buruan habiskan makanmu!”

Instrusksinya yang mendadak membuatku nyaris tersedak.

“Sebentar Kang, aku minum dulu!” jawabku sambil menenggak serampangan es teh untuk melancarkan perjalanan orek tempe yang belum sempat kukunyah.

Ditinggalkannya selembar seratus ribuan di meja warung dan berjalan cepat keluar.

“Kang Simin, ada apa tah?” sergahku setelah berhasil mengimbangi jalannya.

“Aku lihat hantu di warung!”

“Ah, yang bener. Masa, sekaliber Kang Simin, yang Tuhan aja tak ditakuti, eh malah takut lihat hantu. Hahahaha.”

Bukan. Bukan hantu sebenarnya yang dimaksud oleh Kang Simin. Tapi hadirnya Amaliya, perempuan alim yang setahun lalu menolak lamarannya, karena Kang Simin terbata saat hafalan surah pendek di hadapan bapaknya.

Seminggu kemudian ibunya berpulang ke langit. Serangan jantung mendadak melihat anaknya gagal menikah.

Itulah sepotong rahasia Kang Simin yang dikisahkannya padaku. Miris aku mendengarnya. Betapa waktu yang terlewatkan tak bisa terulang kembali dan kegagalannya terus menghantui.

Untuk Prompt #99 @mondayFF

Iklan

4 thoughts on “Kang Simin Tak Percaya Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s