JUMIATUN

Enam tahun berumah tangga, keluargaku baik-baik saja. Tinggal serumah dengan Bapak dan ibuku. Juga suamiku, Mas Oke yang lembut, dan sayang keluarga. Hadirnya Qaz dan Bila, setelah setahun pernikahan, menjadi dua anugerah Tuhan yang terindah. Si kembar yang Lincah. Inilah gambaran keluarga kecil yang membuatku bungah. Namun, ketika tahun lalu anakku memasuki usia sekolah, keadaan mendadak berubah.

“Jum, aku tak mau tahu! Pokoknya, Qaz dan Bila harus sekolah di Kebumen, ” kata Mas Oke

“Tapi Mas…”

“Tapi apa? Kasihan Bapak dan ibumu kesepian? Itu dulu. Sekarang Rum, adikmu sudah di sini. Giliran dia yang menjaga orang tuamu, ” sambung Mas Oke dengan nada meninggi.

“Bukan itu Mas, aku belum siap tinggal dengan keluargamu, Mas, kan tahu mereka tak restu dengan pernikahan kita dulu. Mbak Yuwi sangat membenciku.”

“Jangan membantah terus, Jum. Aku ini suami yang harus kauturuti. Dari dulu, itu terus alasanmu. Kalau tak kita coba, kapan kausiap? Apa kau lupa, lebaran kemarin mereka katakan, sudah menerima kita, dan mereka meminta, agar kau bisa tinggal bersama di Kebumen. Menemani ibuku.”

Teriakan Mas Oke terus menggema hingga setahun kini. Kuhela napas panjang. Mengenang masa itu, mencoba terus memantapkan hati, untuk bertahan tinggal bersama mertua. Kalau saja Mas Oke tahu, Ibu dan Yuwi tak pernah benar-benar bisa menerimaku. Tak cukupkah kesabaranku diuji? Kau bisa bayangkan, bagaimana rasanya tinggal setahun bersama tanpa saling sapa? Kikuk luar biasa. Kecuali caci-maki, karena itu adalah cara mertuaku menyapaku, setiap hari. Pergerakanku selalu salah di matanya. Pun aku harus selalu berpura-pura bahwa diriku baik-baik saja. Sementara suamiku hanya pulang setahun sekali-dua kali saja.

Kalau saja, Mas Oke peka terhadap reaksi tangisku di setiap percakapan telepon kita. Sungguh, aku hanya mampu berkata “kangen” adalah alasanku menangis. Lagi, posisi barunya di perusahaan, membuatnya tak punya banyak waktu menghubungiku. Aku coba memakluminya.

**
30 Desember, pagi tadi Mas Oke pulang dalam rangka cuti tahun baru.

Pukul sembilan malam. Seperti biasa mertuaku sudah terlelap.

“Mas…” sapaku.

Inilah saatnya, aku harus berani mengutarakan isi hati, pikirku. Dia kini banyak berubah. Tak lembut seperti dulu. Bahkan temperamental. Ungkapku akhirnya dengan bibir gemetar.Namun justru pertengkaran kami yang meletus tak tertahan.

“Aku mau pulang saja ke Wates, Mas!” teriakku pecah seketika, “Aku tak bisa terus begini!”
Jantungku berdebar tak keruan.

“Hah. Benar kata ibuku selama ini, kau memang istri yang tak pernah mau menuruti apa kata suami. Membantah terus. Mau pulang silakan. Aku tak peduli.” Mas Oke berteriak, lalu banting pintu.

Diiringi tangis Qaz dan Bila, kukemasi baju-bajuku. Aku akan pulang malam ini juga. Usai berkemas, kugandeng Qaz dan Bila di kanan-kiri. Kulirik Mas Oke, sedang duduk di teras, tekun menyesapembuskan kretek. Memunggungiku.

Aku pamit Mas, batinku.
**

“Pokoknya, Ibu mau kamu cerai dengan Jum, dengan posisimu di perusahaan sekarang, carilah istri baru yang lebih baik!”
Potongan percakapan Ibu mertuaku dengan suamiku, sore tadi, masih terekam di otakku.

Pelan tapi pasti, bus jurusan Jogja itu kini melaju bersamaan dengan arus air mataku.


Untuk Prompt#100 @mondayFF

Iklan

4 thoughts on “JUMIATUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s