Waktu Yang Mencengkeram

Mendung di langit Wates masih merundung sedari sore. Di serambi depan, Mas Oke asyik masyuk menyesapembuskan kreteknya ditemani segelas kopi.  Aku yang sedari tadi mengabaikan, coba berani menyapanya.

“Mas, hambok istirahat dulu, sudah malam loh.”

Diam. Mas Oke hanya menyeruput kopinya, kemudian kembali menyesap kreteknya.

“Mikirin mbakyumu? Kamu belum mantep, nikahin aku?” nadaku kesal.

Mas Oke menengok sejenak, lalu melengos lagi.

Gereget. Kududuk mendampinginya.

Ngomong, Mas. Ojo meneng wae, bukannya sudah maumu, kalau keluargamu sebaiknya tak diberi tahu besok kita menikah, to?”

“Durhaka besar aku ini, Jum” jeda, “Tapi, kalau aku memberi kabar, sudah pasti mereka tak bakal setuju, apalagi restu” ungkap Mas Oke akhirnya. Matanya menatap lekat mataku, tampak berkaca-kaca. Begitu pun mataku.

Hening.

“Maafkan aku, Jum. Aku bukan calon suami terbaik buat kamu.” Katanya, sambil mengulek puntung rokok di asbak agar baranya mati. Asap kecil mengepul dari situ.

“Aku juga minta maaf, Mas. Tapi dengan keadaanku, Simbok dan Bapakku tak mungkin mengizinkanmu mengulur waktu. Besok pagi, akad harus terjadi, atau…”

“Ya, INSYAALLAH aku siap, Jum!” katanya bergetar.

“Harus, Mas!” selaku, “Ya sudah, aku pamit tidur dulu, Mas. Ngantuk.”

Aku beranjak dari dipan, kembali meninggalkan Mas Oke sendirian. Kutengok Mas Oke, sebelum aku masuk kamar, hanya tampak anak punggungnya, sesekali bergetar karena terpaan dingin angin malam.

Hingga keesokan paginya, pukul tujuh pagi. O Astaga, Mas Oke masih meringkuk,terlelap di dipan tanpa sempat memindahkannya ke ruang depan.

Kuelus tangannya, demi membangunkannya.

“Mas, sudah siang. Satu jam lagi, jadwal kita ke KUA loh, Mas” bisikku, yang telah siap dengan setelan kebaya panjang dan dandanan sederhana.

Matanya terbuka. Gegas kusuruh ia mandi dan bersiap-siap.

Sepuluh menit, Mas Oke telah siap dengan setelan jas hitamnya. Begitu juga Simbok, Bapak, dan saudara-saudara yang mengiring akad nikah kami.

Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya rombongan kami sampai di depan kantor KUA.

Setelah kami dipersilakan duduk berhadapan dengan penghulu, debar dahsyat menghantamku tiba-tiba. Sesaat sebelum ijab, penghulu menjelaskan tata caranya.

Ketika dijabat tangannya oleh penghulu, Mas Oke gugup, tangannya gemetar.

“Saudara, Oke Diantara, Saya nikahkan saudara dengan saudari Jumiatun Binti Rukmana dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dibayar tunai.”

Tergagap.  Alih-alih mengucapkan ijab qabul, Mas Oke justru meneteskan air mata.

Penghulu yang merasa diremehkan, membentaknya seketika. Setelah diberikan jeda waktu, akhirnya proses ijab qabul diulangi. Hingga pada pengulangan ketiga, Mas Oke berhasil mengucapkan ijab qabulnya. Air mataku menetes pada akhirnya. Tak sia-sia aku menyerahkan terlebih dahulu keperawananku padanya, batinku.

 

Untuk meramaikan Posting Serentak #25Januari @mondayFF

Iklan

9 thoughts on “Waktu Yang Mencengkeram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s