Prompt #103 – NYASAR

Tepat sebulan aku mengikuti pelatihan di salah satu perguruan pencak silat. Malam ini kuikuti pelantikan, sekaligus pemberian slayer, tanda keanggotaan resmi. Ya, bukan pemberian yang diserahkan percuma, melainkan dengan perjuangan. Begitu bocoran dari seniorku. Benar, sejak siang kami berada di-area perkemahan?- Karangsambung, Kebumen. Tempat yang baru kudatangi, suasananya asing. Jauh dari perkampungan. Sejauh mata memandang hanya terlihat perbukitan, hutan jati, dan semak belukar. Sumber penerangan yang diizinkan kami bawa, hanya beberapa batang lilin, itupun boleh kami nyalakan saat keluar tenda.

Gerimis, sesekali geluduk juga terdengar. Bulu kudukku meremang dibuatnya. Angin bertiup, menggerakan rimbun pepohonan. Daun bergesekkan, menimbulkan bunyi gemerisik. Perasaan gelisah membuatku tak terpejam, hingga aku sadar ada bayangan melintas tenda. Aku diam. Tenang. Mencoba tak berpikir bahwa itu mungkin hantu. Tapi aku gagal saat bayangan itu makin mendekat, tampak besar. Sukses! Kini jantungku berdebar. “Der…” Kudengar suara bisikan-memanggilku?- “Derry… bangun… keluar… sekarang giliranmu…” bisikan itu terdengar semakin jelas. Kubuka retsleting tenda, kudapati seniorku berdiri di depan tendaku, menenteng petromax. Aku lega. Dia mengarahkanku menghadap senior penguji. Sesampainya di situ, senior mengintruksikanku untuk demontrasi latihan dasar yang kupelajari selama ini; kuda-kuda, dan beberapa jurus dasar lainnya. Selesai. Senior kembali mengarahkanku untuk mengambil slayer di kuburan atas, dengan jarak lurus satu kilometer dari tempatku berdiri. Dibekali dua hio, dan korek api batang. Hio sebagai batas waktuku menemukan slayer. Satu hio kubakar, aroma harum menguar, gegas kutembus keremangan malam tak gentar. Sepi mamring, gerimis belum geming. Sesekali bunyi jangkrik, kodok, berkelindan riuh dengan gemerisik daun pepohonan karena embusan angin. Aku gigil. Sengaja tak menebar pandangan ke pepohonan, malas rasanya jika mendadak menemukan objek dibenak. Aku terus berjalan menunduk, memegangi hio erat. Kuikuti tanjakan yang mungkin mengarahkanku pada lokasi kuburan. Gerimis makin sadis. Tetesannya merah serupa darah. Bau amis. Aku berharap hanya halusinasi. Setengah jam lebih, satu hio habis. Gusar. Gemetar. Aku baru sadar hanya berputar-putar.

Cras! Kucoba menyalakan hio kedua. Sial, apinya mati sebelum menyulut hioku.

Cras! Mati tertiup angin. Mendadak jantungku berdebar tak keruan.

Cras! Batang koreknya patah.

Kuhela nafas. Tiga batang terakhir tersisa. Angin bertiup sepoi menelusup batang leher. Merinding.

Bismillahirrahmannirrahim. Cras! Kutuntun api perlahan menyulut batang hioku. Membara, terbakar. Asap wanginya menguar serupa aroma bunga kamboja. Kuputuskan menuruni tanjakan. Berjalan lurus lagi. Akhirnya, kutemukan bukit berundak, haqul yakin, naik ke situ, kudapati area kuburan. Aku berputar-putar. Coba beranikan diri, meski bulu kuduk meremang semakin riang. Lima putaran, hingga keringat dingin, tak kunjung kutemui slayer itu. “Guk!” Jantungku loncat. Burung sialan! Makiku gentar. Bibir tergetar. Tepat saat aku menyerah, dan putuskan turun meninggalkan area kuburan, “Astaga! Di situ ternyata!” desisku. Kulihat sepotong slayer putih terikat di pohon kamboja tinggi dekat pintu masuk. Bulat tekad untuk memanjat. Meski debaran jantung kurasa makin meningkat. Berpijak cabang kedua, kugapai ujung slayer yang menjuntai. “Aku dapat!” desisku. Saat kutarik kenapa berat? Ikatanya terlalu kuat? Air terasa menetes dari slayer basah, aku terperanjat saat kudongakkan kepala, slayer berubah warna serupa tanah. Sesosok pocong dengan kepala rusak, menghantam tubuhku. Aku terpeleset jatuh. Sesaat sebelum semuanya gelap, kudengar suara kikik nyaring.

_

 

AND GO YOUR OWN WAY

AND EVERYTHING WILL BE FINE

 

 

 

Iklan

11 thoughts on “Prompt #103 – NYASAR

  1. Lama ga baca tuliaannya jun, seKarang jauh Lebih rapi lho. Kata-kata yang dipakai juga tidak membosankan. Saran sedikit, cerita bagian Nyasarnya kurang ketara,ato mungkin si aku yang terlalu berani?

  2. Komentarku ga masuk ya? Hiks.lama ga baca tulisannya jun, sekarang jauh lebih rapi lho. Kata-kata yang digunakan juga tidak membosankan. Saran sedikit, bagian nyasarnya kurang ketara. Atau si aku yang terlalu berani?

  3. Kelaziman dalam cerita bertema ‘jurit malam, ospek, dsb’ adalah semua kengerian sebenarnya palsu alias buatan pihak tertentu, semisal panitia. Sayang sekali, Jun juga ‘terjebak’ dalam stereotipe yang sama. Akan lebih seram jika misalnya ujung kisah seperti ini.

    ..“Aku dapat!” desisku. Saat kutarik kenapa berat? Ikatanya terlalu kuat? Kudongakkan kepala. Sepotong wajah tengah menatapku. Rongga matanya yang kosong menyorot. Bibirnya yang rusak perlahan membuka. Menyeringai.

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s