Dongeng Kelam

Dia hidup di negeri dongeng

Di suatu tempat yang sangat jauh dari kita

Dia telah lupa…

Aku sungguh tak ada ide untuk menceritakan dongeng  ini padamu,tapi tetap akan kucoba ceritakan.

Dia hidup di negeri dongeng

Di suatu tempat yang sangat jauh dari kita, tentu saja!

Pada suatu musim hujan kelopak mawar merah yang berguguran dari langit, dia asyik masyuk bermain dengan bonekanya, menjejaki padang rumput yang luas, sesekali mengepakkan sayap rama-ramanya, riang gembira. Menelusuri taman bunga bakung yang gemerlapan seperti lampu bohlam warna-warni, bukan, bukan bohlam, tapi ada kunang-kunang di dalamnya, kemudian ia membebaskan kawanan kunang-kunang dari sana. SEKETIKA langit gemerlap oleh kerlipan cahaya kunang-kunang. Dia berjingkrak gembira. Masih di padang rumput belaka, ia menyaksikan KSATRIA sedang berlatih dengan panahnya, kemudian Sang PUTRI yang sedang sibuk merangkai bunga.

Jauh di sana. Di ujung sana, ia melihat kastil istana yang megah jumawa, berlarilah ia ke sana mengikuti nalurinya. Sesampainya ia, pintu kastil itu seketika terbuka seolah menyambut kedatangannya, tanpa curiga ia memasukinya, tanpa sadar dengan peringatan yang terpampang di sana, “AREA TERLARANG” ia telah jauh memasuki altarnya. Puluhan, mungkin ratusan, cermin terpasang, oh bukan terpasang namun melayang-layang tersusun sedemikian rupa.

“Selamat datang, anak manis, aku sudah lama menunggu kedatanganmu.”

“Si… siapa di sana?” katanya terbata, sambil menebar pandangan sekitarnya.

“Jangan takut anak manis, aku Cermin Ajaib. Lihatlah bayangan cermin di depanmu, anak manis!”

“Memangnya kenapa? Itu hanya pantulan bayanganku.”

“Karena aku Cermin ajaib, aku bisa menampilkan apapun yang kau minta, sebutkanlah!”

“Benarkah? Maksudku, apapun yang kuminta?”

“Tentu saja!” “hanya ada syaratnya, kau tak boleh mengingkari apapun yang akan kuperlihatkan nantinya.”

“Baiklah. Itu mudah. Aku hanya ingin tahu, seperti apa aku di masa lalu dan siapa aku di masa depanku nanti.”

“Apa kauyakin dengan permintaanmu itu?”

“Tentu saja!”

Pantulan bayangan pertama menampilkan sesosok boneka kayu buruk rupa. Seorang Ibu-Ayah yang buruk rupa.

“Si—apa itu?” tanyanya dengan gemetar, seperti ketakutan.

“Masa lalumu, dan kedua orangtua itu adalah Ibu-Ayahmu, mereka menjadi pengemis demi menghidupimu. ”

“TIDAK MUNGKIN. Keluargaku tak seburuk itu.”

Pantulan bayangan kedua, secara beruntun menampilkan Putri cantik jelita.

“Seperti itukah aku di masa depanku?”

“Benar. Kau akan jadi selebritis terkenal, tapi sayangnya kau menelantarkan kedua orangtuamu.”

“TIDAK! TIDAK AKAN!”

“Tapi itulah takdir yang yang harus terjadi. Sudah kukatakan, kau tak boleh menyangkal dan mengingkarinya.”

“TIDAK! KAU BERBOHONG!”

“HARUS! SEMUA TERTULIS  SEPERTI ITU!”

Seketika istana dipenuhi kepulan asap pekat, dinding-dindingnya ditumbuhi tanaman sulur-sulur yang melebat, seakan ingin memerangkapnya di situ. Dia berlari sekuat tenaga, menjauh. Di luar istana petir menggelegar, hujan akan segera menghunjam dunia. BERLARI. Ia terus berlari. Berlari. Tanpa sadar ada lubang di depannya dan ia terjatuh ke situ. Terkubur bersama kenangannya. Selamanya.

 

Untuk Prompt #114 – Berdasarkan lagu “Brick By Boring Brick- Paramore”

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “Dongeng Kelam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s