Cerita Orangtua Tentang Sumur Tua

Di pekarangan kosong, persis di depan rumahku ada sumur tua. Konon sumur itu adalah tempat mandi keluarga Ibu Darto yang kini telah lama pindah entah ke mana. Ibu Darto memiliki dua anak laki-laki. Sepeninggal Pak Darto, Ibu Darto membawa serta kedua anaknya yang masih kecil merantau ke kota. Rumahnya ditinggalkan begitu saja. Tanah bekas berdiri rumahnya kini jadi sengketa saudaranya. Tapi porsi cerita ini bukan untuk membahas keluarga mereka. Ya, ini tentang sumur tuanya. Selayaknya sumur tua, dinding batu-batanya telah runtuh satu-satu, bahkan setengah dindingnya telah hilang. Lumut-ganggang melekat di sekujur bibir sumur itu.

Kata bapakku, dulu, sebenarnya sumur itu sempat akan di-urug, tapi urung. Hanya rumahnya yang dirobohkan. Pantas saja, kini aku hanya dapat melihat petakan-petakan bekas pondasinya, tak jauh dari sumur tua itu.

“Kenapa tak jadi di-urug, Pak?”tanyaku.

“Karena sumber airnya bagus, bening terus.” Bapakku melanjutkan, “Bahkan air di sumur itu tak pernah kering, meski kemarau panjang.”

Juga kata ibuku, dulu sebelum dindingnya rontok, kami sekeluarga numpang mandi di situ setiap pagi dan sore.  Masalah bercokol dari situ, Pak Sudar, saudara tertua dari almarhum Pak Darto tak suka jika keluarga kami memanfaatkan sumur itu. Hanya karena kami pendatang baru, miskin, dan sok akrab. Semakin ke sini kami baru tahu yang sebenarnya, bahwa Pak Sudar memang membenci keluarga kami, yang tak tahu balas budi.

Tragedi terjadi, pada suatu pagi saat ibuku hendak mandi,”Astaghfirullah….” batin ibuku, saat ia melihat gumpalan kuning ditimba air pertamanya. Gegas ibuku menceritakannya pada bapakku, ada orang jahil buang hajat ke sumur itu. Beruntung hari itu hari minggu, bapak-ibuku punya waktu untuk menguras air di sumur itu. Sampai tengah hari. Satu-satu tetangga menanyakan perihal apa yang terjadi, sambil terus menguras, ibuku hanya menjawab dengan senyum “Ada yang jahil, buang hajat di sini.”

Sore harinya, saat ibuku hendak memandikanku, tiba-tiba Pak Sudar muncul membawa palu, dan marah-marah. “Minggat kowe, dari sini, Pergi sana! Jangan pakai sumur ini lagi, mau aku urug!” Kalap. Pak Sudar memukuli dinding batu-bata satu-satu, sembari terus memaki,“Dasar ora ngerti balas budi, nggak tahu terima kasih, numpang tapi nggak sadar diri!” Aku menangis, gegas ibu menggendongku pulang.

Semiggu ibuku tak memakai sumur itu lagi. Takut, namun ibuku masih menggunakannya sembunyi-sembunyi. Mengambil airnya pada malam hari, menyimpan di bak penampungan rumah kami.

Minggu kedua, ibuku sadar, Pak Sudar tak pernah tampak batang hidungnya.

Malam harinya, sehabis isya, pintu rumah kami diketok.

Tok tok…

“Siapa?” teriak ibuku dari kamar karena sambil menyusui adikku.

Hening.

TOK TOK…

Gegas ibuku membukakan pintu. Ibu Sudar nyelonong sebelum ibuku mempersilakan.

“Ngapunten, Bu! Saya mohon maaf.”

“Punapa, Bu?”

“Saestu! Saya minta maaf, atas kelakuan suami saya kemarin, sekarang suami saya sakit, seperti orang bingung,baru mimpi, ditegur sama penunggu sumur itu. Sumur itu boleh dimanfaatkan oleh siapa saja, jangan sampai tidak. Ngapunten, kemarin suami saya sembrono, buang hajat di situ.”

Dan semenjak kejadian itu hingga sekarang, sudah berkali-kali saudara almarhum Pak Darto yang lain coba mengurug sumur tua itu. Selalu urung, berakhir sakit, semacam orang linglung.

Iklan

4 thoughts on “Cerita Orangtua Tentang Sumur Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s