Putih-Putih

​Kakak Denis, tetanggaku punya kelinci. Aku iri padanya. Karena itu, aku minta Ayahku membelikanku kelinci juga. 
“Yah, Nanda mau kelinci kayak punya Kak Denis, boleh, Yah?”
“Hmmmmm.” 

“Dua, Yah?” 
“Hmmmm.”
“Warna putih, Yah!”
“Hmmm. Besok, Ayah belikan.” Ayah mengelus kepalaku. 

“Horeeeee! AYAH, terbaik sedunia!” 
“Mana sayangnya Nanda, buat Ayah?”

Aku sangat senang. Aku cium Ayah. Ayah balas menciumku.
***

Benar saja, esoknya,  sepulang sekolah, dua ekor kelinci putih, lengkap dengan kandangnya, ada di halaman rumahku. Lucu sekali. Kelincinya sibuk menggaruk-garuk hidung. Samar kudengar, ada yang panggil namaku… 
“Nanda…”

Aku celingukan. Heran.

“Non Nanda…”

Ternyata Mbok Yem, pengasuhku. 

“Ayo, ganti baju dulu, nanti dimarahin Ayah loh, kalau seragamnya kotor!”
“Siap, Mbok! Jagain Putih-Putih ya, Mbok!”
“Jangan lupa, makan dulu ya,  Non!” 

Bergegas, aku mengganti baju, cuci tangan, dan makan. Aku tak sabar bermain dengan Putih-Putih. Cepat-cepat aku habiskan makan siangku. Hehehe, kukira nama itu cocok untuk kuberikan pada dua kelinci baruku.
Sejak kecil, Mbok Yem-lah yang mengasuhku, aku kesepian. Mbok Yem tak bisa sepenuhnya bermain denganku, Mbok Yem sibuk ini itu di rumahku. Begitu juga dengan Ayahku,  aku bertemunya saat pagi berangkat sekolah,  dan terkadang malam, itupun kalau aku belum tidur.
Kata Ayah, Ibuku di Surga, aku tak tahu Surga itu di mana. Kata Ayah, Surga itu jauh banget. Entahlah. Dulu, aku sering menangis kalau lihat Kak Denis digendong Ibunya, aku iri. Tapi kata Ayah juga, itu tidak baik. Berdoa jauh lebih baik. 
“Ayo, Putih-Putih, makan wortelnya ya!”

Seharian ini, aku senang sekali bermain dengan Putih-Putih. Mereka lucu, apalagi saat menggaruk-garuk hidung. 

“Non Nanda, kenapa senyum-senyum sendiri?” 
“Ngga, Mbok! Putih-Putih lucu deh!”

“Udah ya, Non Nanda, tidur dulu, sudah larut, nanti Ayah marah kalau Non tidurnya terlalu malam.”
“Siap grak!”
***

Hah? Kututup bibirku dengan kedua tanganku. Aku kaget, satu Putih tiba-tiba saja sudah duduk  di tempat tidurku.

“Sssst! Kuelus punggung putih. Dan tiba-tiba tubuhnya bercahaya, menyilaukan. Seisi kamarku menjadi putih-putih.

Kulihat kanan-kiri. Semuanya putih. 

Putih meloncat-loncat ke arah pintu, aku mengikuti Putih. Pintunya tiba-tiba membuka sendiri. Kulihat sosok bidadari cantik bergaun putih-putih. Putih berhenti di depannya, kemudian Bidadari menggendong Putih. Di tangannya, Bidadari memegang kembang api, berkilauan.

“Nanda, kau sudah besar sekarang, sini Nak!”

Iklan

4 thoughts on “Putih-Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s