Pesan Untuk Anak Orang Miskin 

​”Pegangin tangan Arif, Rul!”

“Siap, San!” 

“Gue, Bantu!” kata Azis
“Mampus, Lu! Macem-macem, sama gue! Belagu! ”

Buk! Buk! Hasan meninju perutku tanpa ampun.

Setelah mereka melihatku melemah, penyiksaan itu berakhir.

Meninggalkanku sendirian. Dalam jarak sepuluh meter, mereka berhenti. Memaki-maki. 

Badanku panas, jantungku berdetak-detak kencang. Aku ingin balas, tapi tak bisa. Dongkol. Secepatnya kuraih batu-batu di jalan, kulempar ke arah mereka, kemudian lari tunggang langgang. 

Dalam debar ketakutan, kutengok mereka, alih-alih mengejarku, mereka jongkok, berkerumun. 

***

Sesampaiku di rumah, Ibu langsung curiga mendapatiku kucel, berpeluh keringat. 

“Kenapa, kamu?” tanya ibuku, menyelidik.

“Gak apa,Bu!”

Ibu kembali sibuk menyulam pada temaram lampu minyak. 

“Tidur, sana! Besok hari Senin, upacara!” kata ibuku.

***

Tepat saat aku hendak memejamkan mata, kudengar suara bapak-bapak berteriak 

“Mana, anakmu, lempar batu kena muka anakku berdarah! Kurang ajar!”

“Anakku, nggak bakal berulah kalau nggak diganggu duluan!” kata ibu. 

“Alah, mana anak sialan itu?”

“Mau apa kamu?” 

“Pokoknya, awas kalau kejadian seperti ini terulang, aku akan tuntut! Camkan itu, dasar orang miskin!” 

“Ya! Apa urusannya kalau anakku orang miskin?  Yang penting anakku nggak miskin akhlak!” 

Gegas lelaki itu pergi, mengayuh sepedanya. 

Ibuku tak menyadari aku yang sedari tadi mengintip dari lubang pintu. 

Jika aku tak salah, sosok bapak yang meneriaki ibuku adalah bapaknya Hasan.

Malam itu aku tak jadi tidur cepat, ibu menginterogasiku, menanyakan kronologis yang sesungguhnya. Sepulang mengaji tadi, aku disergap oleh Hasan, Azis, dan Haerul,  alasannya mereka mungkin tersinggung saat Pak Kyai memilihku untuk memberi contoh pada yang lain, padahal biasanya itu jatah si Hasan. Entahlah, mungkin ada masalah lain. Ibuku tahu aku berkata jujur. 
Aku ingat pesan ibuku sebelum menyuruhku tidur malam itu, “…jangan marah jika orang lain mengejek kita miskin, jangan jadi patah semangat, terus belajar, dengan ilmu kelak kita akan menjadi kaya. Jangan pendendam.”

Maafkan aku, Bu, aku masih penasaran bagaimana nikmatnya menonjok perut Hasan berkali-kali. 

*

Iklan

6 thoughts on “Pesan Untuk Anak Orang Miskin 

  1. Jika saya adalah seorang ibu yang berani meneriaki lelaki yang mengatainya miskin, maka saya akan menasehati anak saya begini, “Ingat kejadian hari ini, balaslah Hasan. Tonjok sampai babak belur, tapi bukan perutnya, tonjok harga dirinya, karena orang yang tadinya dikatai miskin itu jadi lebih kaya prestasi dibanding dirinya.” #haha

  2. “Arif, kelak kalau kau bertemu kesempatan untuk menonjok perut Hasan, tinju yang keras ya, Nak, pukul sampai dia akan ingat pukulan itu sampai dia tua, izinkan dia tahu bahwa menghina orang lain cuma karena dia miskin itu sakit!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s