#FFKamis – Perempuan Itu Bernama Kayem

​ 

Sebagai anak sulung, menikahlah satu-satunya cara Kayem meringankan beban orangtuanya. Membantu kelangsungan hidup keluarganya. Benar, Kayem dinikahi Tejo,  pemilik berpetak-petak ladang di kampungnya. Demikian, Kayem mempekerjakan adiknya di ladang suaminya. Dapat upah, juga bonus hasil ladangnya. Setahun kemudian, lahirlah  Syukron, anak pertamanya. Sempurnanya kebahagiaannya. Sayangnya, Tuhan menguji ketentraman hidupnya, Tejo berahi, minta istri lagi. Kayem tak sudi, perceraian terjadi. Kayem memutuskan membesarkan Syukron sendiri. Tuhan menguji Kayem sekali lagi: seminggu demam tinggi, Syukron mati. Kayem tak patah hati, sebulan kehilangan anak dan suami, Dulah datang padanya bermaksud memperistri. Kayem mesam-mesem. Kayem tak habis pikir, keberuntungan apakah yang membuat Dulah kesengsem.

Iklan

#FFKamis – Malam di hari Ulang Tahunku

Gambar: fb.com/LiliaAlvaradoPhotography

[***]
Setahun lalu, Bapak meninggal tepat usiaku 24. Setahun pula kupegang toko baju peninggalannya, di kota K.  Tak besar. Tak kecil. Biasa. Tak ramai. Dikatakan sepi juga tidak. Dua manekin menghiasi pojok kanan-kiri toko.

Aku menerima warisan toko Bapak karena memang akulah anak tunggal, dan pengangguran. Tak ada bakat dagang. Hanya  berteman dua manekin dengan  tampang kusam. Meski bosan, rasanya tak mungkin kubisa menggaji orang.

 “Kalian tak bosan di toko? Aku bosan,” racauku pada manekin malam itu.

Ajaib, manekin tersenyum. Bergerak. Mengulurkan tangan. “Selamat ulang tahun…” Suaranya menggema.”Jangan bosan dengan kami,” Mendadak tubuhku kaku. Samar kuingat, benar itu malam ulang tahunku. 

[***]

“Happy 4th Birthday Monday Flash Fiction”

Sudah Terantuk Baru Tengadah

Foto:@julialillardart

​”Kalau kau ingin pulang, pulanglah

“Terserah kau. Tapi jangan harap aku akan menjemputmu

“Dari dulu kau memang istri keras kepala. Tak pernah mau nurut apa kataku. Suamimu.”
Tut tut tut…

Kuputus telepon istriku begitu saja.

**

Benar saja, keesokan harinya aku mendapat kabar dari ibuku bahwa istriku pulang ke Probo tanpa permisi. “Biarin Bu, suka-suka dia sajalah,” jawabku.

Tentu saja aku sudah muak. Peduli setan dengan istri macam begitu, susah diatur. Tak bisa akur dengan mertuanya, ibuku. Lagipula, sejak sebulan lalu aku diam-diam menjalin hubungan baru. Mila, kukenal dia dari sosial media. Menurut pengakuannya dia pun seorang janda. Setelah bertemu beberapa kali, kini ia tinggal  di kamar kostku.

“Sayang, jadi kapan kita menikah?” 

“Aku usahakan secepatnya,”  kataku.

“Tak perlu kau ceraikan istrimu, Mas, yang penting nikahi aku.

“Nikah siri saja, aku mau,” rengeknya  sambil menggelayut manja, mengusap-usap dadaku.

“Baiklah, besok aku minta bantuan kenalanku dulu,” jawabku.

Dan, begitulah akhirnya aku mengawin siri Mila dengan serampangan tanpa wali.

Secepat aku melupakan Yati istriku, juga kedua anakku. Cukup kujalankan kewajibanku, selebihnya tak sekalipun aku mengabarkan dan mendengar kabar dari mereka. Toh, kini aku tenteram hidup bersama Mila, sampai pada akhir yang tak kuduga…

Setahun kemudian, kurasakan perubahan drastis dari Mila. Kecurigaan-rambanganku. Dia gampang marah. Mencamuk, saat akhir pekan aku lebih memilih lembur. Membanting piring, melempar apa saja yang dijangkau tangannya. Malam puncaknya ketika baru saja kubuka pintu sepulang kerja…

“Kau… kaumasih mengirimi uang untuk anakmu di kampung, kan, Mas?” sambarnya.

“Ya, biar bagaimanapun Joni dan Siti itu darah dagingku, aku berkewajiban menafkahinya.” 

“Tapi kau juga memberikan jatah lebih untuk istrimu itu, kan?

“Tapi…”

“Tapi apa? Kaupilih kasih, Mas. Sisa gajimu baru kau berikan padaku!” Sambil melemparkan buku tabungan, tangis Mila makin membahana.

“Aku juga tahu kau masih berhubungan dengan Andi…” kataku akhirnya meledak.

Seperti terkejut, mata Mila mencelos.

“Akumu dia mantan suamimu? Jelas bukan. Kau penipu. Kalian menipuku. Bersekongkol menguras uangku. Aku baca semua pesanmu. Aku dengar obrolan teleponmu semalam dengan bajingan itu.”
Kalap. Memungut pecahan kaca, Mila mengacungkannya padaku. Kulihat tangannya berdarah demi menggenggam pecahan itu. Mengancam. “Pergi!” teriaknya, “berani kau kembali, aku akan bunuh diri!”

Tak berniat membuat situasinya memburuk, aku pergi, tanpa tahu ke mana arah dan tujuanku.

Menyesali segalanya, sepertinya pun percuma.

Untuk Prompt #135 – Hubungan Sesaat @MondayFF

 

LIBRA

Gambar: Arteide- Eduardo Rodriguez

Jam 9.00, bel berbunyi, waktu istirahat. Gegas aku ke kantin, karena tadi pagi belum sempat sarapan. Membeli sebungkus nasi kuning dan segelas es teh, aku duduk di pojok kantin.

Membawa sebungkus roti, Bono datang menghampiriku.

“Lo beneran putus sama Tono, Mar?”

Sedetik aku berhenti menyendok nasi, “Iya,” jawabku singkat tanpa memandang Bono.

“Bukan karena kemarin lo nemenin gue ke distro kan?”

“Hmmmm.” Sendokkan terakhir, dan nasi kuningku tandas.

“Begini ya, gue sama Tono emang udah tengkar jauh sebelum ini, bukan karena kemarin gue nemenin lo ke distro terus jadi masalah.”

“Syukur deh… lo emang temen yang baik, Mar. Makasih ya, kemarin udah mau dengerin curhat gue.”

“Eh, terus gimana, lo udah baikan sama Lisa?”

“Udah sih, tapi Lisa tetep minta kita udahan.”

“Sabar ya, Bon. Suatu saat lo pasti dapet yang lebih baik.”

Obrolan otomatis terputus waktu bel tanda masuk berbunyi. Bono yang polos dan malang, batinku.

Kuselesaikan hari dengan sepenuh hati. Menyimak pelajaran Bahasa Indonesia dengan tekun. Hingga bel tanda usai pelajaran berbunyi.

Nanti sore, jangan lupa ya, datang ke Ultah adek gue. Bono mengirim pesan.

*

Jam 15.00, aku sampai di halaman rumah Bono. Dia datang menyambutku. Orangtuanya mempersilakanku masuk. Baru selangkah masuk, adiknya langsung menghadangku.

“Hadiahnya mana, Kak?” todongnya. Kuulurkan padanya kotak kado berisi mainan, membuatnya otomatis kegirangan. “Horeee, makasih, Kak Marisa!” katanya sambil mengecup punggung tanganku.

“Sama-sama,” jawabku sambil mengusap-usap kepalanya.

Kembali adik Bono menghambur, bercengkerama dengan teman sebayanya. Berlari-lari.

Bono mempersilakanku duduk.

“Terima kasih ya, sudah mau datang,” katanya. Kuanggukkan kepala. Tak berapa lama, anak-anak menyanyikan lagu beruntun selamat ulang tahun-tiup lilin-potong kue dengan riang gembira. Diawali dengan berdoa sebelum potong kue, semua mengamini dengan khidmat.

Setelah memberikan potongan kue pertama untuk orantuanya, secara mengejutkan adik Bono memberikan potongan keduanya padaku.

“Buat Kak Marisa,” katanya. Serempak tepuk tangan bergemuruh.

Sambil kukecup keningnya kuucapkan “Terima kasih.”

“Kak Ma-ri-sa…” ucapnya terbata, “Kak Bono jom-blo-loh, mau nggak, Kakak jadi pacarnya?”

Sekakmat. Serasa tersedak kue tart, aku tak sanggup berkata-kata. Hingga pesta ulang tahun itu usai.

Aku pamit pulang. Bono mengantarku menaiki Busway bersama. Tak ada percakapan sedikit pun di antara kita.

“Marisa, maaf soal yang tadi dibilang adikku,” katanya akhirnya, setelah sampai di Kalideres.

“Nggak apa-apa, Bon,” jawabku. Kami berpisah di situ.

Sambil menunggu Bus AKAP menuju Poris, aku iseng membeli majalah.
Kubuka halaman demi halaman dengan malas, hingga mataku tertumbuk pada halaman yang memuat ramalan zodiak. Jariku menekuni satu per satu, terhenti pada LIBRA.

… Banyak yang kagum pada Libra… zodiak yang paling suka bergaul…

Mereka pendengar yang baik… namun, tidak begitu tegas dalam memutuskan sesuatu…

Baik pria maupun wanita Libra, umumnya cepat mendapat jodoh.*)

Kututup majalah itu, saat bus Primajasa: Kalideres-Poris menderu di depanku. Kulambaikan tangan pada kernet, gegas masuk menekuni bangku kosong. Setelah aku duduk, bus siap melaju. Begitupun denganku, esok kan kusambut hari baru.

__

*dari zodiaktop

Untuk Prompt #132 – Zodiak @mondayFF

Ikat Kepala Kakekku

Gambar: Webtoon

”Jangan macam-macam dengan barang peninggalan Kakekmu.” ujar ibu.
“Nggak apa-apa, Bu. Ini kan cuma ikat kepala. Kupakai saja.”

Sejak itu ikat kepala kujadikan jimat keberuntungan. Selalu kubawa kemana saja. 
*
Tengah malam. Hujan gerimis. Rintik menitik bau amis. Langkah kaki berderap-derap, rupanya itu suara langkah kaki Amar dan Amir keliling ronda, mengepul beras jimpitan. Sesekali siul-siul, bernyanyi.
DEG. Mendadak sunyi. Bibir Amar dan Amir tak lagi berbunyi. Tepat di teras rumah yang hanya diterangi bohlam lima watt. Temaram. Sesosok nenek menghadap tembok, sibuk menyisir rambut putih panjangnya. Paling Mbah Yem, batin Amir.
“Lagi ngapain, Mbah? Dhidhis kok tengah malam?” sapa Amar, melangkah-mendekat, mengambil beras di gantungan teras. Geming. Nenek itu tak menjawab. “Permisi…” Gegas Amar mengajak Amir pergi. Seusai berkeliling kampung, saat kembali ke pos, seseorang memberi tahu, rumah itu kosong, ditinggal pergi ke luar kota sore tadi.
**
Kejadian di teras rumahku itu mendarat di telingaku esoknya, saat keluargaku pulang.
Bualan, batinku.
Malamnya, hujan-geluduk turun. Gemerisik nyanyian daun gayam membuatku mengantuk, aku rebah.
Tak… Tuk… Sayup  kudengar suara tetes air menembus genteng bocor. Kuabaikan.
Tuk… Tuk… Suara itu semakin riuh.
Pergelangan kakiku serasa digigiti nyamuk. Nyeri.

Berat, kupaksakan buka mata demi menggaruk. Kutekuk kakiku, agar tanganku leluasa menggaruk. Namun, kurasakan tanganku digerayangi. Astaga! Aku melonjak. Sekumpulan rangrang menggigiti kaki dan tanganku. Terhuyung-huyung, menyeka rangrang di tangan dan kakiku. Banyak. Rangrang terus jatuh dari sarangnya yang terhempas angin, masuk melewati atap genteng yang bocor. Perlahan merayapi tembok, kupandangi dari posisiku berdiri, perlahan membentuk gambar serupa wajah. Entahlah. Aku melanjutkan tidur di kamar sebelah.

**
Malam Jumat, saat tertidur pulas, dalam mimpiku, melintas sesosok makhluk berbaju hitam, tinggi menjulang, hingga tak dapat kulihat wajahnya.  Mengitariku berkali-kali. Tak berhasil kubaca ayat-ayat. Lidahku kelu. Kaki besarnya menginjak leherku. Engap, aku tak  bernapas. Lalu dingin merambat di leherku, seketika mataku terbuka. Kupegang leherku, benda empuk bergerak-gerak. Tanganku refleks melempar. SIAL! Ular sebesar jari tangan baru saja menggerayangiku, menggeliat di jendela saat kunyalakan lampu. Menjulurkan lidah bercabang, seperti mengejekku. Tubuhnya abu-abu, kepalanya merah. Gemas, sigap kuambil gagang sapu. Kupukul-pukul. Kepalanya nyaris hancur. Ekornya menggeliat, melingkar, seperti menyembuhkan kepalanya.

Seketika sekelilingku mendadak gelap. Asap mengepul mengepungku. Kembali dingin merambati kepalaku. Air menetes-netes, baunya anyir darah busuk.

Kudongakan kepala,  dua bola jingga semburat terang menatapku dari ceruk mata yang buyar kelopaknya. Lengkungan mulutnya selebar bulan sabit, gigi-gigi tajamnya terbit. Rambut putihnya menjulai, dari tengkorak yang cerai-berai. Beruntun terdengar desahan menggema di telingaku, “I-kat ke-pa-la-ku…”

___
*Dhidhis : mencari kutu sendiri

Untuk Prompt #131 – Horror @mondayff

 

Apakah Ini Bisa Kausebut Kisah Cinta?

Gambar :@julialillardart

Titik-titik hujan di bulan Oktober membangkitkan kenanganku di masa lalu.

 

Berkelebat kisah waktu titik-titik hujan membasahi seragam Yani, kala berteduh di emperan rumahku sepulang sekolah. Menolak masuk saat kupersilakan. Tampias menderas. Kuputuskan untuk mengantarkan dia pulang. Berjalan canggung, sepayung.

 

DULU, semasa Sekolah Dasar, kami sering bermain bersama. Bersandiwara menjadi orangtua…

 

“Kamu jadi bapaknya ya!” ujar Yani.

 

Aku protes. “Nggak, aku ingin jadi ibunya!”

 

“Tapi…” Yani menggaruk kepala.

 

“Kan, cuma bohongan, ceritanya aku yang hamil.” Aku menjelaskan.

 

“Baiklah.” Yani terpaksa setuju.

 

Cerita berlanjut, aku pura-pura menjadi ibu yang hendak melahirkan, mengelus perut, ekspresi wajah gelisah, lengkap dengan dialognya. Yang kesemuanya kusalin dengan cermat saat menyaksikan keseharian ibuku.

 

Aku tersenyum, teringat potongan kisah itu. Di luar hujan masih bergemericik. Benakku asik menerawang, kenangan terbang membayang…

 

Aku dan Yani telah remaja, masuk SMA berbeda. Kita jarang bertegur sapa. Senyum hanya sekadarnya saat bertatap muka. Yani semakin cantik saja. Sedangkan aku tetap biasa.

 

Sesekali kulihat Yani pulang dengan teman lelakinya. Belakangan hampir tiap hari Yani jalan dengan lelaki yang sama. Kuat dugaanku lelaki itu pacarnya. Setahun aku absen menyapanya. Aku bukan siapa-siapa.

 

Hmmm. Gemericik hujan makin berisik.

 

Tahun kedua di SMA, kudengar kabar Yani dikeluarkan dari sekolahnya. Yani mengurung diri di kamarnya. Lelaki yang sama sesekali menjenguknya.

Sembilan bulan kemudian kudengar Yani melahirkan anaknya.  Saat itu aku baru tahu selama ini Yani menyembunyikan kehamilannya. Aku sedang sibuk bergelut dengan Ujian Nasional. Aku masih bukan apa-apa…

 

Sebulan setelah melahirkan, barulah Yani dinikahi lelaki yang sering menjenguknya. Tiga bulan setelahnya, Yani dicerai suaminya, saat mengetahui bayi itu bukan darah dagingnya, melalui serangkaian tes DNA.

 

 

Seketika aku yakin bayi itu adalah hasil karyaku. Ya, tragedi sepayung berdua waktu itu, sesampaiku di rumah Yani yang sepi, birahiku menggebu, dan kami bercumbu.

 

***

Untuk Prompt #129- Love Story @mondayff

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Satu-satunya

#FF100kata berikut kuikutsertakan dalam audisi #MFFIdol2 dengan tema “PRESTIGE”

—-

Hari ini rapor kenaikan kelas dibagi. Semua teman sekelasku sudah tahu mereka naik kelas 6. 
Pukul 13.00, kulihat jam dinding di ruang Kepsek dari jendela. Sepi. 
Kuberanikan diri menghadap Kepsek. 

“Permisi, Pak” 
“Ya Min, ada apa?” 
“Rapor saya bisa diambil, Pak?” 

“Kamu tahu peraturan sekolah?” 

“Ya Pak, tapi Ibu belum ada uang untuk melunasi SPPku.” 
“Lalu?” 
“Bapak Kepsek tak bisa membantu keponakanmu ini?” 
Dia menggeleng. 

“Apapun yang Bapak minta, akan aku lakukan.” 
Aku coba bernegosiasi. Aku pasrah. Aku hanya ingin raporku 

Ruang Kepsek lengang…

“Baik, ayo! Lakukan sekarang!” katanya. 

Kubuka ritsleting celananya dan kukulum batang yang menjuntai di selangkangannya. 
Inilah jalan satu-satunya.

Tragedi Teguh dan Romlah


Gambar: @julialillardart

​Romlah

Teguh, suamiku, mana berani dia mengkhianatiku. Meski aku tahu, mudah baginya untuk mendekati wanita mana pun. Apalagi wanita murahan pinggir jalan, berpaling dari wajah tampannya adalah mustahil. Tapi aku jamin, dia adalah lelaki polos yang setia, sejak sekali dia coba menggoda perempuan lain, tapi betapa bodohnya, pasalnya, Surti yang didekatinya adalah kaki tanganku. 

Mampuslah dia. Surti mengadukannya padaku. Semingguan lebih Teguh merengek, minta maaf. Ampun, takkan mengulangi perbuatannya. Kadung cinta, aku luluh, memberinya kesempatan kedua. Asal jangan coba-coba mengulang kesalahan yang sama. Awas saja!


Teguh


Romlah, dia kadung jatuh cinta padaku. Meski aku ini polos, bodoh, tapi ketampananku yang membuat hatinya sudi berlabuh. Kiranya aku ini dermaga, dia kapalnya, berlabuhlah cintanya. Sinting! Biarlah. Romlah tetap segalanya, dia anak juragan kaya. Yang penting, kini hidupku bahagia. Meski harus berpura-pura…

“Guh, kamu ini ganteng, bisalah dapat dua kali lebih dari sekadar Romlah! Kamu yakin dengan semua itu?” ujar Joko mengejekku.
Hening.
Lo harus berani menentukan. Memilih yang terbaik, bagaimana jalan ke depannya nanti.” Joko melanjutkan.
Diam. Kusesap-embuskan rokokku. Serumit inikah hidupku? 
DRRRT! Ponselku bergetar, notifikasi order pelanggan Uber. Klik. Kuambil.
Gua duluan, Ko. Ada order.” kataku pada Joko. Dia mengangguk, mempersilakan.
Manjur. Ejekan Joko terus terngiang-ngiang sepanjang jalan. Cukup dibenak saja. Traumaku luar biasa pada tragedi menggodai Surti. Aku harus bersyukur, Grandmax yang kupakai bekerja adalah aset dari Romlah. Akan tetapi… rasaku, tetap ada yang kurang darinya. Joko benar, secepatnya akan kuputuskan jalanku sendiri. Aku harus berani.

**

“Betul dengan, Mbak Romlah?”
“Ya, ini siapa?”
“Saya Karmilah. Teguh, benar suaminya, Mbak?”
“Ada apa dengan suami saya?”
“Aduh! Anu.. Mbak, gawat! Suami Mbak melamar Joko, kakak saya…”
—- Untuk Prompt #128 @MondayFF

Tanpa Restu 

April 2015, kuutarakan niat menikahi wanita yang kutemukan di pinggir situ . Miska, janda dewa beranak dua, namun kecantikannya bak gadis belia. Aku bersungguh-sungguh. 

Tanpa restu orangtuaku, kakak, dan adik-adikku, aku akan tetap menikah. 

Mereka cukup tahu. Keputusan mutlak berada di tanganku.

**

Miska tampak begitu cantik dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya.

 Pernikahan secara sederhana itu akhirnya terlaksana.

Kulewati malam pertama dengan canggung, Miska sigap membimbingku. Kupatuhi semua intruksinya. Kami bercinta di pinggir situ, tempat pertama kali aku menemukannya. Di bawah temaram bulan purnama, aku mencumbui tubuh Miska, masih lengkap dengan balutan kain putih di sekujur tubuhnya. Pantang baginya melepas kain putih saat kami bercinta. Aku manut saja. Gairahnya luar biasa. Hingga klimaks-ku yang ketiga, Miska belum ingin menyudahinya. Kain putihnya lepek dibuatnya. Tapi Miska enggan lepas. Dia balas menciumi aroma tubuhku dengan lahap. 

**

Setahun berlalu, kami rutin bersenggama setiap bulan purnama dengan durasi yang luar biasa.

Masalah selalu muncul setiap kali kutanyakan perihal kebijakan Miska, membalut kain putih sekujur tubuhnya.

“Demi Dewa, ini janjiku jikalau kita ingin terus hidup bersama, jangan banyak bertanya!” Miska selalu memberiku jawaban yang sama.

“Tapi, aku ingin menyentuh tubuhmu, tanpa terhalang sehelai benangpun!” bisikku. 

“Demi Dewa, aku tak boleh mengingkari janjiku, Seno!” 

“Tapi kenapa?”

“Balutan kain putih ini, adalah kehormatanku.” katanya “sejujurnya, itu karena kita belum mendapat restu dari orangtua, dan saudara-saudaramu.” lanjutnya. 

“Tapi, mereka tak akan pernah merestui hubungan kita, karena mereka tak pernah bisa melihat wujudmu.”

“Bersabarlah, Seno!”

“Persetan, dengan janjimu. Kau adalah istriku, aku ingin menyentuhmu, itu hakku. Dan mematuhiku, adalah kewajibanmu. ” 

Aku kalap. Raja Iblis telah menguasaiku. Kurenggut kain putih yang membalut wajahnya. Seberkas cahaya berkilauan. Cantik sempurna. 

“Kumohon, cukup!  Hentikan ini, Seno!” 

Kutarik kain putih ditubuhnya, berbelit-belit. Tak kunjung habis.

Hidup. Kain putih itu menggeliat-liat. Perlahan melilit tangan, kaki, hingga tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu. 
—-

Untuk Prompt #127 @mondayff

 

Prompt #103 – NYASAR

Tepat sebulan aku mengikuti pelatihan di salah satu perguruan pencak silat. Malam ini kuikuti pelantikan, sekaligus pemberian slayer, tanda keanggotaan resmi. Ya, bukan pemberian yang diserahkan percuma, melainkan dengan perjuangan. Begitu bocoran dari seniorku. Benar, sejak siang kami berada di-area perkemahan?- Karangsambung, Kebumen. Tempat yang baru kudatangi, suasananya asing. Jauh dari perkampungan. Sejauh mata memandang hanya terlihat perbukitan, hutan jati, dan semak belukar. Sumber penerangan yang diizinkan kami bawa, hanya beberapa batang lilin, itupun boleh kami nyalakan saat keluar tenda.

Gerimis, sesekali geluduk juga terdengar. Bulu kudukku meremang dibuatnya. Angin bertiup, menggerakan rimbun pepohonan. Daun bergesekkan, menimbulkan bunyi gemerisik. Perasaan gelisah membuatku tak terpejam, hingga aku sadar ada bayangan melintas tenda. Aku diam. Tenang. Mencoba tak berpikir bahwa itu mungkin hantu. Tapi aku gagal saat bayangan itu makin mendekat, tampak besar. Sukses! Kini jantungku berdebar. “Der…” Kudengar suara bisikan-memanggilku?- “Derry… bangun… keluar… sekarang giliranmu…” bisikan itu terdengar semakin jelas. Kubuka retsleting tenda, kudapati seniorku berdiri di depan tendaku, menenteng petromax. Aku lega. Dia mengarahkanku menghadap senior penguji. Sesampainya di situ, senior mengintruksikanku untuk demontrasi latihan dasar yang kupelajari selama ini; kuda-kuda, dan beberapa jurus dasar lainnya. Selesai. Senior kembali mengarahkanku untuk mengambil slayer di kuburan atas, dengan jarak lurus satu kilometer dari tempatku berdiri. Dibekali dua hio, dan korek api batang. Hio sebagai batas waktuku menemukan slayer. Satu hio kubakar, aroma harum menguar, gegas kutembus keremangan malam tak gentar. Sepi mamring, gerimis belum geming. Sesekali bunyi jangkrik, kodok, berkelindan riuh dengan gemerisik daun pepohonan karena embusan angin. Aku gigil. Sengaja tak menebar pandangan ke pepohonan, malas rasanya jika mendadak menemukan objek dibenak. Aku terus berjalan menunduk, memegangi hio erat. Kuikuti tanjakan yang mungkin mengarahkanku pada lokasi kuburan. Gerimis makin sadis. Tetesannya merah serupa darah. Bau amis. Aku berharap hanya halusinasi. Setengah jam lebih, satu hio habis. Gusar. Gemetar. Aku baru sadar hanya berputar-putar.

Cras! Kucoba menyalakan hio kedua. Sial, apinya mati sebelum menyulut hioku.

Cras! Mati tertiup angin. Mendadak jantungku berdebar tak keruan.

Cras! Batang koreknya patah.

Kuhela nafas. Tiga batang terakhir tersisa. Angin bertiup sepoi menelusup batang leher. Merinding.

Bismillahirrahmannirrahim. Cras! Kutuntun api perlahan menyulut batang hioku. Membara, terbakar. Asap wanginya menguar serupa aroma bunga kamboja. Kuputuskan menuruni tanjakan. Berjalan lurus lagi. Akhirnya, kutemukan bukit berundak, haqul yakin, naik ke situ, kudapati area kuburan. Aku berputar-putar. Coba beranikan diri, meski bulu kuduk meremang semakin riang. Lima putaran, hingga keringat dingin, tak kunjung kutemui slayer itu. “Guk!” Jantungku loncat. Burung sialan! Makiku gentar. Bibir tergetar. Tepat saat aku menyerah, dan putuskan turun meninggalkan area kuburan, “Astaga! Di situ ternyata!” desisku. Kulihat sepotong slayer putih terikat di pohon kamboja tinggi dekat pintu masuk. Bulat tekad untuk memanjat. Meski debaran jantung kurasa makin meningkat. Berpijak cabang kedua, kugapai ujung slayer yang menjuntai. “Aku dapat!” desisku. Saat kutarik kenapa berat? Ikatanya terlalu kuat? Air terasa menetes dari slayer basah, aku terperanjat saat kudongakkan kepala, slayer berubah warna serupa tanah. Sesosok pocong dengan kepala rusak, menghantam tubuhku. Aku terpeleset jatuh. Sesaat sebelum semuanya gelap, kudengar suara kikik nyaring.

_

 

AND GO YOUR OWN WAY

AND EVERYTHING WILL BE FINE