Kategori
#Kebumenku391 #UmahGombong narasi

PANTAI SETROJENAR: MENGAIS REZEKI PADA SUASANA IDUL FITRI DI ERA PANDEMI

SENIN, 25 MEI 2020

IDUL FITRI tahun ini terasa berbeda bagi seluruh umat islam di Indonesia bahkan di seluruh benua, tak terkecuali bagi Ibu Nur, Eka anak sulungnya yang merantau di Bandung tak pulang kampung seperti tahun-tahun sebelumnya. 

“Lebaran tahun ini sepi ya, Bu? Ngga boleh mudik sama pemerintah… Kereta, bus, pesawat, semua dibatalkan” ujarku memulai obrolan.

 “Iya, tiket kereta anakku dibatalin, duitnya dibalikin lagi…” jawab ibu Nur sambil mengaduk kopi pesananku,dan menyuguhkannya padaku “…tidak apa-apa, aturan pemerintah  begitu, ya kita ikut saja. Lagi musim Covid-19,” lanjut ibu Nur sambil tekun menggoreng tempe mendoan pesanan pembeli yang lain.

Ibu Nur @Pantai Setrojenar

Meskipun sebenarnya masih dilarang untuk berjualan karena musim corona ini, Pantai Setrojenar ramai sedari pagi, di hari kedua Lebaran Fitri, jelas ibu Nur bercerita. Mau bagaimana lagi, pusing juga kalau sudah sebulan tak ada pemasukan, sementara kita tak tahu kapan corona akan selesai. Ibu Nur juga bersyukur karena di hari pertamanya berjualan lagi setelah sebulan penuh libur, pengunjungnya lumayan. Sesiang itu sudah puluhan tempe mendoan, bergelas-gelas es teh terjual. Tak luput sayuran pecelnya ludes, sampai merebus ke tiga kalinya. Hari itu bisa dipastikan ibu Nur pulang dengan wajah semringah.

SELASA, 26 MEI 2020

“Ora dodolan, Mas. Ngga jualan, lagi ada acara sedekahan: 40 hari meninggalnya paman” kata ibu Nur.

Pukul 09.00 WIB, Aditya anak bungsunya menunjukan sebuah rekaman video yang sudah terunggah di facebook temannya, di video itu tampak ombak Pantai Setrojenar sedang pasang. Warung-warung tersapu ombak, satu-dua orang yang hari itu berjualan terekam lalu-lalang menyelamatkan dagangannya yang mengapung karena terjatuh ketika ombak menerjang. Wah benar saja, saat saya mengecek berita di mesin pencari sudah ada beberapa portal berita daring menuliskan peristiwa itu,

“…di Pantai Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, masih ada pedagang nekat berjualan di pantai. Akibatnya saat ombak tinggi pagi hari dan gelombang pasang, kios-kios mereka pun terhempas ombak. Bahkan barang dagangan mereka juga ikut tersapu ombak.” (suarabaru.id)

Ada hikmahnya juga hari itu tidak berjualan, ombak laut sedang pasang, ibu Nur bertutur.

“Sebelumnya pada senin 25/5 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap telah menginformasikan kondisi gelombang tinggi di perairan selatan Jateng dan DIY. Menurut keterangan prakirawan,  Adnan Dedy Mardika dan BMKG Stasiun Cilacap, kecepatan angin di perairan Kebumen dan Purworejo mencapai 2-15 knot dan gelombang tinggi mencapai 4-6 meter. Bahkan gelombang maksimum dapat mencapai dua kali gelombang yang disebutkan dalam data. Diperkirakan kondisi itu berlangsung selama lima hari ke depan sehingga sangat membahayakan aktivitas nelayan” (suarabaru.id)

RABU, 27 MEI 2020

Pagi sehabis subuh, ibu Nur mengayuh sepedanya ke selatan menuju arah pantai, lokasi ladangnya ada di arah sana, sekalian melihat kondisi pantai, apakah memungkinkan untuk berjualan. Senada dengan informasi dari BMKG kemarin, gelombang laut masih tinggi, pasang menuju pantai, menjangkau warung-warung. Begitu cerita ibu Nur. Jadi hari itu ibu Nur putuskan untuk mengurus ladangnya, menanami bibit cabai dibantu anak bungsunya, Aditya. Sisa hari itu beliau manfaatkan untuk mondar-mandir  di beberapa lokasi ladangnya yang lumayan tersebar.

JUMAT, 29 MEI 2020

Prediksi BMKG akurat. Hari itu gelombang tinggi masih berlangsung, bahkan hari itu seperti puncak tertingginya, ombak pasang jauh ke utara menuju pantai, menghantam warung dengan posisi terjauh sekalipun. Ibu Nur yang terbiasa membawa pulang perlengkapan dagangnya setiap hari tidak kewalahan untuk membereskan sisanya, seperti meja dan baliho. Ibu Nur bahkan sempat mengirim kabar pada tetangganya sesama pedagang di pantai Setrojenar untuk menyelamatkan barang di warungnya. Beruntung tetangganya sigap menuju lokasi dan mengevakuasi perlengkapan dagangnya. Jika saja terekam situasi hari itu amat menegangkan, pedagang berjibaku dengan melawan ombak pasang sebatas lutut sambil menenteng perlengkapan warungnya. Berkali-kali. Suara orang-orang tak henti menyebut nama Tuhan. Merinding. Esok hari dipastikan masih libur berdagang. “Covid-19 belum selesai, ditambah gelombang pasang, manusia benar-benar sedang diuji, cuma bisa nrimo, sabar,” ujar ibu Nur.

MINGGU, 07 JUNI 2020

Sedari pagi Ibu Nur telah meracik dan menata dagangan yang akan beliau bawa dengan keranjang yang disangkutnya di boncengan sepeda.”Cuma jarak sekiloan dari rumah, ngga nyampe malahan. Lima belas menit sampe, ndak repot bawa segini…” ujar ibu Nur. “Nanti siang kalau rame, balik ke rumah ambil lagi…” lanjutnya. Betul saja, wacana persiapan “New Normal” telah digaungkan pemerintah sejak Sabtu, 30 Mei 2020 lalu. Tak dinyana, antusias pengunjung pantai Setrojenar membludak hari itu, Minggu, 07 Juni 2020, hingga beberapa situs berita daring menuliskan peristiwa ini. Salah satunya berita yang berjudul; “Ribuan Pengunjung Padati Pantai Kebumen, Banyak yang Gak Pakai Masker” kontributor: Rinto Heksantoro, Detiktravel, tertanggal 07/06/2020. “Bosan” adalah ungkapan yang tepat saat berbulan lamanya kita berdiam di rumah atas anjuran pemerintah dalam rangka antisipasi pandemi Covid-19 ini. Akan tetapi tak mematuhi protokol juga tindakan bunuh diri pada situasi genting ini. Tak terkecuali ibu Nur, dilema yang beliau rasakan di situasi sekarang ini. Demi mengais rezeki membuatnya melampaui batas. “Alhamdulillah Mas, hari ini pengunjung ramai, penghasilan meningkat berkali-lipat… semoga Covid-19 lekas tuntas…”

SUNRISE @RIFGREAT