APLIKASI: GOM Player – Musik Player Favoritku

Sejujurnya hanya kebetulan saja aku dipertemukan dengan musik player ini. Berhubung musik player yang payah dan tak terampuni. Yup, musik player bawaanku tak dapat membaca semua folder musik. Pilih kasih. Entahlah. Aku sudah pusing mencari tutorial. Berbagai kemungkinan. Solusi. Tetap tak berhasil. Nyerah. Aku cari musik player lain saja di playstore. Dan hampir semua musik player pernah kucoba. Aku instal satu per satu. Hasilnya sama. Nah, pilihan terakhir jatuh pada GOM Player. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Cuma, musik player ini ada fitur menambahkan lirik lagu yang kita mainkan jika belum tersedia di database mereka. Ini seru. Buat ngisi waktu luang. Iseng. Here we go!  

No registered sync lyric. Klik pada bagian itu. 

Kalau belum login, kita akan diarahkan login dahulu. Buat akun. Dan seterusnya. 

Lanjut. Setelah klik bagian tadi. Akan masuk ke halaman berikut. Klik aja ikon “kertas dan pensilnya”

Setelah itu. Akan masuk ke halaman berikut. Enter lyric. Sebelum itu kita sudah menyalin-dan siap tempel lirik yang kita input dong. Mencari di website penyedia lirik lagu seperti AZLyric juga boleh. (jangan lupa copyright, ya, sebagai penghargaan buat penyedia konten) 

Contohnya, begini nih. 

Setelah siap dengan file lirik yang benar. Langsung klik “Sync” dipojok kanan atas ya! Kamu otomatis akan dibawa ke tampilan berikutnya. Penyelarasan antara nada dan lirik lagu. Mudah. Mulai dengan “START”.

Yup, cuma harus jeli pendengaran kita, buat ngepasin si artis lagi nyanyi bait yang mana, kita pindahkan kursornya dengan tanda panah  ke bawah. Dan seterusnya. Sampai selesai. Nah, kalau ada bait yang dirasa kita telat /terlalu cepat saat pindah, klik tombol panah atas, artinya mengulangi ke detik sebelumnya. Bukan dari awal kok. 

Lakukan pemindahan kursornya sampai lagunya habis. Nantinya, kamu akan bertemu dengan dialog “finished editing”, tinggal klik. Selesai. Aplikasi ini akan menunjukkan hasil kerjamu, tepat atau tidak. Otomatis akan memutar lagu yang sedang kamu edit tadi. Mudah bukan? 

Username kamu akan tampil di atas lirik lagu. Dan terlihat oleh user GOM PLAYER lain saat memainkan musik yang sama. 

  • PS: Aplikasi ini kadang menyebalkan, beberapa lagu pas di awal bilangnya “no registered lyric…” tapi pas kita sudah berhasil submit, ternyata sudah ada. Kita bisa tahu dari angka di sebelah username kita. 
  • 1/1: artinya kita yang pertama submit liriknya kalau 1/2: berarti ada yang submit liriknya sebelum kita. (dua orang telah mensubmit lirik pada lagu itu) 1/3, dan seterusnya. 
  • Fitur lainnya banyak sih, ganti tema, ukuran tampilan lirik, shuffle, standar musik player lain. Jadi tidak kubahas ya. 

Nih hasilnya! Selamat mencoba! 

Iklan

Tentang Album Seventeen – 5ang Juara

Hai, sudah enam bulan lebih ini blog tak ada isinya. *bersihin sawang (sarang laba-laba-red) 

Entahlah harus mulai dari mana. Pagi ini setelah dengerin album Seventeen – 5ang Juara, kok rasanya kuingin menuliskan sesuatu. Ini album nyaris tak ada lagu barunya. Correct me, if i am wrong. Kenapa Seventeen? Karena ini band pertama yang pernah kutonton manggung live-nya sewaktu SMK, dan semenjak itu kuikuti perkembangannya. 

Yes, langsung saja, ini listnya (males nulis, jadi ku skrinsyut saja ya) 

Track “Aku Masih Bisa”, ini kalau saya tak salah itu album lama Seventeen – Bintang Terpilih(2003), waktu vokalisnya belum Ifan. Doni kalau tak salah. Begitu juga “Seisi Hati” dari albun Sweet Seventeen (2005) waktu lead vokal masih dipegang Doni pula. 
Kemudian sebagian lain, album LELAKI HEBAT yang didaur ulang. Selalu mengalah, Lelaki Hebat, Jalan Terbaik, Untuk Mencintaimu. Waktu lagi hangat-hangatnya Seventeen berganti vokalis baru. Ifan. Nah, yang ingin kukomentari lagu yang didaur ulang kan biasanya lebih fresh,energik, tapi tidak untuk ini. Aku lebih suka versi pertama. Di album LELAKI HEBAT. Itu album yang melambungkan Seventeen. Nah, Menurutku Seventeen di album ini kehilangan ciri khasnya yang ngerock dan upbeat. Kaya akan kocokan gitar. 

Begitu lagu Jaga Selalu Hatimu, sempalan dari album Penjaga Hati, aku suka yang pertama. O, kelak setelah aku googling, ternyata benar. Gitarisnya si Yudhi hengkang. Oke baiklah. Seventeen sekarang tinggal berempat. Seventeen seperti angka 17 yang kehilangan angka 7-nya. 

Selebihnya, mungkin lagu baru di album itu sendiri. Doh, sebenarnya ini review telat empat tahun. Album 5ang Juara itu realase 2013, sementara tahun 2016 Seventeen pun sudah merelease album barunya. Huh, kenapa baru sekarang? Yak, karena sejak ada acara “lalalayeyeye”  yang berkedok acara musik hadir di televisi, aku makin malas mengikuti perkembangan musik indonesia berlabel. Malahan lebih suka musik indie. *ini review apasih. 

Makin ngelantur. Baiknya, kusudahi saja sampai di sini. 

Kuakhiri dengan beberapa skrinsyut artikel pembuka di wikipedia dan album seventeen. *Oya, menurutmu seventeen bagaimana?  

Penulisan Kata Depan, Kata Ganti dan Partikel Sesuai EYD

TranslationPapers Bali

EYD

Dalam penulisan ilmiah ataupun dalam penerjemahan teks formal, pengetahuan akan ejaan yang disempurnakan dan penulisan yang benar sesuai dengan EYD sangat diperlukan.

Dalam penulisan kata depan (di, ke dan dari), kata ganti (ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya) dan partikel, acapkali kita dibingungkan dengan mana yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau yang mendahuluinya dan mana yang harus ditulis terpisah.

Berikut adalah sekilas tentang tata cara penulisan kata depan (di, ke dan dari), kata ganti (ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya) dan partikel yang dikutip dari Pedoman Umum EYD Permen RI Nomor 46 Tahun 2009.

1. Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.

Misalnya:

Bermalam sajalah di sini.

Di

Lihat pos aslinya 409 kata lagi

Peluru Yang Bersarang di Otakku

Foto: korannonstop

~
DOR! Peluru dari revolver rakitanku melesat, menembus kaki istriku. Tubuhnya ambruk. Berdebam. Darah merembes dari kakinya. Aku kalap saat dia mengabarkan kehamilannya. Padahal seingatku, setiap permainan kami, kukenakan kondom. Tetangga berkerumun, melarikan istriku ke rumah sakit, aku berlari ke kantor polisi menyerahkan diri. Pendeknya, aku divonis sepuluh tahun, meski aku berharap lebih lama dari itu. Tentu saja kautahu maksudku, aku pengangguran. 

Sepuluh tahun ternyata berlalu cepat hanya dalam satu paragraf ceritaku.

Aku harus berjuang untuk hidup,  pikirku. Tak lagi punya tempat tinggal, aku menggelandang. Hingga angin membawaku pada kepala begal. Tiba-tiba…

“Kau bisa menembak?” 

“Bisa.” 

“Bagus. Mari, kau kurekrut jadi anggotaku!”
Begitulah kira-kira, singkat cerita kini aku bagian dari mereka.

Tengah malam beroperasi. Di jalanan sepi, pengendara motor sial melintas, kami beraksi.

Memepet dari kanannya, “Berhenti!” teriak temanku.

Pengendara kalap, memacu motornya, “Bangsat! Tembak saja, Cuk!” usul temanku. Aku bersiap.

Di tengah keremangan kutarik pelatuk, kubidik korban sialan itu. DOR! Revolverku mengenai lengan targetku. Oleng. Beruntungnya, motor itu ambruk ke semak-semak, sementara pengendara terpental, tubuhnya berdebam menghantam aspal. Dalam keremangan kulihat darahnya mengucur. Gegas kuambil alih motornya. “Mampus. Dasar sial!” Aku menyumpah. Misi pertama berhasil. Begitu juga dengan misi-misi selanjutnya. Bertahun-tahun.

Sampai pada akhirnya polisi mengendus aksi kami. Pertempuran sengit terjadi, markas kami terkepung. Kulihat kawan-kawanku lari dalam bingung, sementara aku nyaris limbung setelah peluru nyasar menembus kakiku yang dibungkus sarung. Darah menerus di tengah pelarianku. Terkatung-katung. Tepat di saat napasku tersisa satu-satu, seraut wajah sangat kukenal, dialah mantan istriku. Seketika aku rebah.


“Bangun! Bajingan keparat!” teriakan itu mengembalikan kesadaranku dalam lemas. Aku terkejut, posisiku terduduk, sekaligus terikat dalam kursi. Darah masih menetes dari betisku. Perih.

“Halo, Bajingan, apa kabar?” 

BUK! Dia menendang tulang keringku sepersekian detik sebelum sempat aku menjawab. Aku mengaduh dalam sakit yang tak terkira.

“Kau akan ingat ini,” ucapnya saat menunjukkan benda di balik genggaman tangannya, lalu mengarahkannya ke dahiku. “Persis, kan?” desisnya. 

Aku ingat, itu revolverku yang melepaskan peluru pada betis istriku dulu.

“Jikalau bukan karena aku dinikahi lagi oleh polisi itu…” katanya sambil meneteskan air mata. 

“Kau… kautega membunuh bayiku, Bangsat!” ucapnya dingin. Menatapku tegar. Sambil menarik pelatuk, kulihat tangannya gemetar. Tak peduli aku gusar.

DUAR! Peluru itu bersarang di otakku untuk sekejap lalu keluar.

***

Untuk Prompt #134: Peluru @MondayFF

Ikat Kepala Kakekku

Gambar: Webtoon

”Jangan macam-macam dengan barang peninggalan Kakekmu.” ujar ibu.
“Nggak apa-apa, Bu. Ini kan cuma ikat kepala. Kupakai saja.”

Sejak itu ikat kepala kujadikan jimat keberuntungan. Selalu kubawa kemana saja. 
*
Tengah malam. Hujan gerimis. Rintik menitik bau amis. Langkah kaki berderap-derap, rupanya itu suara langkah kaki Amar dan Amir keliling ronda, mengepul beras jimpitan. Sesekali siul-siul, bernyanyi.
DEG. Mendadak sunyi. Bibir Amar dan Amir tak lagi berbunyi. Tepat di teras rumah yang hanya diterangi bohlam lima watt. Temaram. Sesosok nenek menghadap tembok, sibuk menyisir rambut putih panjangnya. Paling Mbah Yem, batin Amir.
“Lagi ngapain, Mbah? Dhidhis kok tengah malam?” sapa Amar, melangkah-mendekat, mengambil beras di gantungan teras. Geming. Nenek itu tak menjawab. “Permisi…” Gegas Amar mengajak Amir pergi. Seusai berkeliling kampung, saat kembali ke pos, seseorang memberi tahu, rumah itu kosong, ditinggal pergi ke luar kota sore tadi.
**
Kejadian di teras rumahku itu mendarat di telingaku esoknya, saat keluargaku pulang.
Bualan, batinku.
Malamnya, hujan-geluduk turun. Gemerisik nyanyian daun gayam membuatku mengantuk, aku rebah.
Tak… Tuk… Sayup  kudengar suara tetes air menembus genteng bocor. Kuabaikan.
Tuk… Tuk… Suara itu semakin riuh.
Pergelangan kakiku serasa digigiti nyamuk. Nyeri.

Berat, kupaksakan buka mata demi menggaruk. Kutekuk kakiku, agar tanganku leluasa menggaruk. Namun, kurasakan tanganku digerayangi. Astaga! Aku melonjak. Sekumpulan rangrang menggigiti kaki dan tanganku. Terhuyung-huyung, menyeka rangrang di tangan dan kakiku. Banyak. Rangrang terus jatuh dari sarangnya yang terhempas angin, masuk melewati atap genteng yang bocor. Perlahan merayapi tembok, kupandangi dari posisiku berdiri, perlahan membentuk gambar serupa wajah. Entahlah. Aku melanjutkan tidur di kamar sebelah.

**
Malam Jumat, saat tertidur pulas, dalam mimpiku, melintas sesosok makhluk berbaju hitam, tinggi menjulang, hingga tak dapat kulihat wajahnya.  Mengitariku berkali-kali. Tak berhasil kubaca ayat-ayat. Lidahku kelu. Kaki besarnya menginjak leherku. Engap, aku tak  bernapas. Lalu dingin merambat di leherku, seketika mataku terbuka. Kupegang leherku, benda empuk bergerak-gerak. Tanganku refleks melempar. SIAL! Ular sebesar jari tangan baru saja menggerayangiku, menggeliat di jendela saat kunyalakan lampu. Menjulurkan lidah bercabang, seperti mengejekku. Tubuhnya abu-abu, kepalanya merah. Gemas, sigap kuambil gagang sapu. Kupukul-pukul. Kepalanya nyaris hancur. Ekornya menggeliat, melingkar, seperti menyembuhkan kepalanya.

Seketika sekelilingku mendadak gelap. Asap mengepul mengepungku. Kembali dingin merambati kepalaku. Air menetes-netes, baunya anyir darah busuk.

Kudongakan kepala,  dua bola jingga semburat terang menatapku dari ceruk mata yang buyar kelopaknya. Lengkungan mulutnya selebar bulan sabit, gigi-gigi tajamnya terbit. Rambut putihnya menjulai, dari tengkorak yang cerai-berai. Beruntun terdengar desahan menggema di telingaku, “I-kat ke-pa-la-ku…”

___
*Dhidhis : mencari kutu sendiri

Untuk Prompt #131 – Horror @mondayff

 

Apakah Ini Bisa Kausebut Kisah Cinta?

Gambar :@julialillardart

Titik-titik hujan di bulan Oktober membangkitkan kenanganku di masa lalu.

 

Berkelebat kisah waktu titik-titik hujan membasahi seragam Yani, kala berteduh di emperan rumahku sepulang sekolah. Menolak masuk saat kupersilakan. Tampias menderas. Kuputuskan untuk mengantarkan dia pulang. Berjalan canggung, sepayung.

 

DULU, semasa Sekolah Dasar, kami sering bermain bersama. Bersandiwara menjadi orangtua…

 

“Kamu jadi bapaknya ya!” ujar Yani.

 

Aku protes. “Nggak, aku ingin jadi ibunya!”

 

“Tapi…” Yani menggaruk kepala.

 

“Kan, cuma bohongan, ceritanya aku yang hamil.” Aku menjelaskan.

 

“Baiklah.” Yani terpaksa setuju.

 

Cerita berlanjut, aku pura-pura menjadi ibu yang hendak melahirkan, mengelus perut, ekspresi wajah gelisah, lengkap dengan dialognya. Yang kesemuanya kusalin dengan cermat saat menyaksikan keseharian ibuku.

 

Aku tersenyum, teringat potongan kisah itu. Di luar hujan masih bergemericik. Benakku asik menerawang, kenangan terbang membayang…

 

Aku dan Yani telah remaja, masuk SMA berbeda. Kita jarang bertegur sapa. Senyum hanya sekadarnya saat bertatap muka. Yani semakin cantik saja. Sedangkan aku tetap biasa.

 

Sesekali kulihat Yani pulang dengan teman lelakinya. Belakangan hampir tiap hari Yani jalan dengan lelaki yang sama. Kuat dugaanku lelaki itu pacarnya. Setahun aku absen menyapanya. Aku bukan siapa-siapa.

 

Hmmm. Gemericik hujan makin berisik.

 

Tahun kedua di SMA, kudengar kabar Yani dikeluarkan dari sekolahnya. Yani mengurung diri di kamarnya. Lelaki yang sama sesekali menjenguknya.

Sembilan bulan kemudian kudengar Yani melahirkan anaknya.  Saat itu aku baru tahu selama ini Yani menyembunyikan kehamilannya. Aku sedang sibuk bergelut dengan Ujian Nasional. Aku masih bukan apa-apa…

 

Sebulan setelah melahirkan, barulah Yani dinikahi lelaki yang sering menjenguknya. Tiga bulan setelahnya, Yani dicerai suaminya, saat mengetahui bayi itu bukan darah dagingnya, melalui serangkaian tes DNA.

 

 

Seketika aku yakin bayi itu adalah hasil karyaku. Ya, tragedi sepayung berdua waktu itu, sesampaiku di rumah Yani yang sepi, birahiku menggebu, dan kami bercumbu.

 

***

Untuk Prompt #129- Love Story @mondayff

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pesan Untuk Anak Orang Miskin 

​”Pegangin tangan Arif, Rul!”

“Siap, San!” 

“Gue, Bantu!” kata Azis
“Mampus, Lu! Macem-macem, sama gue! Belagu! ”

Buk! Buk! Hasan meninju perutku tanpa ampun.

Setelah mereka melihatku melemah, penyiksaan itu berakhir.

Meninggalkanku sendirian. Dalam jarak sepuluh meter, mereka berhenti. Memaki-maki. 

Badanku panas, jantungku berdetak-detak kencang. Aku ingin balas, tapi tak bisa. Dongkol. Secepatnya kuraih batu-batu di jalan, kulempar ke arah mereka, kemudian lari tunggang langgang. 

Dalam debar ketakutan, kutengok mereka, alih-alih mengejarku, mereka jongkok, berkerumun. 

***

Sesampaiku di rumah, Ibu langsung curiga mendapatiku kucel, berpeluh keringat. 

“Kenapa, kamu?” tanya ibuku, menyelidik.

“Gak apa,Bu!”

Ibu kembali sibuk menyulam pada temaram lampu minyak. 

“Tidur, sana! Besok hari Senin, upacara!” kata ibuku.

***

Tepat saat aku hendak memejamkan mata, kudengar suara bapak-bapak berteriak 

“Mana, anakmu, lempar batu kena muka anakku berdarah! Kurang ajar!”

“Anakku, nggak bakal berulah kalau nggak diganggu duluan!” kata ibu. 

“Alah, mana anak sialan itu?”

“Mau apa kamu?” 

“Pokoknya, awas kalau kejadian seperti ini terulang, aku akan tuntut! Camkan itu, dasar orang miskin!” 

“Ya! Apa urusannya kalau anakku orang miskin?  Yang penting anakku nggak miskin akhlak!” 

Gegas lelaki itu pergi, mengayuh sepedanya. 

Ibuku tak menyadari aku yang sedari tadi mengintip dari lubang pintu. 

Jika aku tak salah, sosok bapak yang meneriaki ibuku adalah bapaknya Hasan.

Malam itu aku tak jadi tidur cepat, ibu menginterogasiku, menanyakan kronologis yang sesungguhnya. Sepulang mengaji tadi, aku disergap oleh Hasan, Azis, dan Haerul,  alasannya mereka mungkin tersinggung saat Pak Kyai memilihku untuk memberi contoh pada yang lain, padahal biasanya itu jatah si Hasan. Entahlah, mungkin ada masalah lain. Ibuku tahu aku berkata jujur. 
Aku ingat pesan ibuku sebelum menyuruhku tidur malam itu, “…jangan marah jika orang lain mengejek kita miskin, jangan jadi patah semangat, terus belajar, dengan ilmu kelak kita akan menjadi kaya. Jangan pendendam.”

Maafkan aku, Bu, aku masih penasaran bagaimana nikmatnya menonjok perut Hasan berkali-kali. 

*

Putih-Putih

​Kakak Denis, tetanggaku punya kelinci. Aku iri padanya. Karena itu, aku minta Ayahku membelikanku kelinci juga. 
“Yah, Nanda mau kelinci kayak punya Kak Denis, boleh, Yah?”
“Hmmmmm.” 

“Dua, Yah?” 
“Hmmmm.”
“Warna putih, Yah!”
“Hmmm. Besok, Ayah belikan.” Ayah mengelus kepalaku. 

“Horeeeee! AYAH, terbaik sedunia!” 
“Mana sayangnya Nanda, buat Ayah?”

Aku sangat senang. Aku cium Ayah. Ayah balas menciumku.
***

Benar saja, esoknya,  sepulang sekolah, dua ekor kelinci putih, lengkap dengan kandangnya, ada di halaman rumahku. Lucu sekali. Kelincinya sibuk menggaruk-garuk hidung. Samar kudengar, ada yang panggil namaku… 
“Nanda…”

Aku celingukan. Heran.

“Non Nanda…”

Ternyata Mbok Yem, pengasuhku. 

“Ayo, ganti baju dulu, nanti dimarahin Ayah loh, kalau seragamnya kotor!”
“Siap, Mbok! Jagain Putih-Putih ya, Mbok!”
“Jangan lupa, makan dulu ya,  Non!” 

Bergegas, aku mengganti baju, cuci tangan, dan makan. Aku tak sabar bermain dengan Putih-Putih. Cepat-cepat aku habiskan makan siangku. Hehehe, kukira nama itu cocok untuk kuberikan pada dua kelinci baruku.
Sejak kecil, Mbok Yem-lah yang mengasuhku, aku kesepian. Mbok Yem tak bisa sepenuhnya bermain denganku, Mbok Yem sibuk ini itu di rumahku. Begitu juga dengan Ayahku,  aku bertemunya saat pagi berangkat sekolah,  dan terkadang malam, itupun kalau aku belum tidur.
Kata Ayah, Ibuku di Surga, aku tak tahu Surga itu di mana. Kata Ayah, Surga itu jauh banget. Entahlah. Dulu, aku sering menangis kalau lihat Kak Denis digendong Ibunya, aku iri. Tapi kata Ayah juga, itu tidak baik. Berdoa jauh lebih baik. 
“Ayo, Putih-Putih, makan wortelnya ya!”

Seharian ini, aku senang sekali bermain dengan Putih-Putih. Mereka lucu, apalagi saat menggaruk-garuk hidung. 

“Non Nanda, kenapa senyum-senyum sendiri?” 
“Ngga, Mbok! Putih-Putih lucu deh!”

“Udah ya, Non Nanda, tidur dulu, sudah larut, nanti Ayah marah kalau Non tidurnya terlalu malam.”
“Siap grak!”
***

Hah? Kututup bibirku dengan kedua tanganku. Aku kaget, satu Putih tiba-tiba saja sudah duduk  di tempat tidurku.

“Sssst! Kuelus punggung putih. Dan tiba-tiba tubuhnya bercahaya, menyilaukan. Seisi kamarku menjadi putih-putih.

Kulihat kanan-kiri. Semuanya putih. 

Putih meloncat-loncat ke arah pintu, aku mengikuti Putih. Pintunya tiba-tiba membuka sendiri. Kulihat sosok bidadari cantik bergaun putih-putih. Putih berhenti di depannya, kemudian Bidadari menggendong Putih. Di tangannya, Bidadari memegang kembang api, berkilauan.

“Nanda, kau sudah besar sekarang, sini Nak!”

Prompt #103 – NYASAR

Tepat sebulan aku mengikuti pelatihan di salah satu perguruan pencak silat. Malam ini kuikuti pelantikan, sekaligus pemberian slayer, tanda keanggotaan resmi. Ya, bukan pemberian yang diserahkan percuma, melainkan dengan perjuangan. Begitu bocoran dari seniorku. Benar, sejak siang kami berada di-area perkemahan?- Karangsambung, Kebumen. Tempat yang baru kudatangi, suasananya asing. Jauh dari perkampungan. Sejauh mata memandang hanya terlihat perbukitan, hutan jati, dan semak belukar. Sumber penerangan yang diizinkan kami bawa, hanya beberapa batang lilin, itupun boleh kami nyalakan saat keluar tenda.

Gerimis, sesekali geluduk juga terdengar. Bulu kudukku meremang dibuatnya. Angin bertiup, menggerakan rimbun pepohonan. Daun bergesekkan, menimbulkan bunyi gemerisik. Perasaan gelisah membuatku tak terpejam, hingga aku sadar ada bayangan melintas tenda. Aku diam. Tenang. Mencoba tak berpikir bahwa itu mungkin hantu. Tapi aku gagal saat bayangan itu makin mendekat, tampak besar. Sukses! Kini jantungku berdebar. “Der…” Kudengar suara bisikan-memanggilku?- “Derry… bangun… keluar… sekarang giliranmu…” bisikan itu terdengar semakin jelas. Kubuka retsleting tenda, kudapati seniorku berdiri di depan tendaku, menenteng petromax. Aku lega. Dia mengarahkanku menghadap senior penguji. Sesampainya di situ, senior mengintruksikanku untuk demontrasi latihan dasar yang kupelajari selama ini; kuda-kuda, dan beberapa jurus dasar lainnya. Selesai. Senior kembali mengarahkanku untuk mengambil slayer di kuburan atas, dengan jarak lurus satu kilometer dari tempatku berdiri. Dibekali dua hio, dan korek api batang. Hio sebagai batas waktuku menemukan slayer. Satu hio kubakar, aroma harum menguar, gegas kutembus keremangan malam tak gentar. Sepi mamring, gerimis belum geming. Sesekali bunyi jangkrik, kodok, berkelindan riuh dengan gemerisik daun pepohonan karena embusan angin. Aku gigil. Sengaja tak menebar pandangan ke pepohonan, malas rasanya jika mendadak menemukan objek dibenak. Aku terus berjalan menunduk, memegangi hio erat. Kuikuti tanjakan yang mungkin mengarahkanku pada lokasi kuburan. Gerimis makin sadis. Tetesannya merah serupa darah. Bau amis. Aku berharap hanya halusinasi. Setengah jam lebih, satu hio habis. Gusar. Gemetar. Aku baru sadar hanya berputar-putar.

Cras! Kucoba menyalakan hio kedua. Sial, apinya mati sebelum menyulut hioku.

Cras! Mati tertiup angin. Mendadak jantungku berdebar tak keruan.

Cras! Batang koreknya patah.

Kuhela nafas. Tiga batang terakhir tersisa. Angin bertiup sepoi menelusup batang leher. Merinding.

Bismillahirrahmannirrahim. Cras! Kutuntun api perlahan menyulut batang hioku. Membara, terbakar. Asap wanginya menguar serupa aroma bunga kamboja. Kuputuskan menuruni tanjakan. Berjalan lurus lagi. Akhirnya, kutemukan bukit berundak, haqul yakin, naik ke situ, kudapati area kuburan. Aku berputar-putar. Coba beranikan diri, meski bulu kuduk meremang semakin riang. Lima putaran, hingga keringat dingin, tak kunjung kutemui slayer itu. “Guk!” Jantungku loncat. Burung sialan! Makiku gentar. Bibir tergetar. Tepat saat aku menyerah, dan putuskan turun meninggalkan area kuburan, “Astaga! Di situ ternyata!” desisku. Kulihat sepotong slayer putih terikat di pohon kamboja tinggi dekat pintu masuk. Bulat tekad untuk memanjat. Meski debaran jantung kurasa makin meningkat. Berpijak cabang kedua, kugapai ujung slayer yang menjuntai. “Aku dapat!” desisku. Saat kutarik kenapa berat? Ikatanya terlalu kuat? Air terasa menetes dari slayer basah, aku terperanjat saat kudongakkan kepala, slayer berubah warna serupa tanah. Sesosok pocong dengan kepala rusak, menghantam tubuhku. Aku terpeleset jatuh. Sesaat sebelum semuanya gelap, kudengar suara kikik nyaring.

_

 

AND GO YOUR OWN WAY

AND EVERYTHING WILL BE FINE

 

 

 

Waktu Yang Mencengkeram

Mendung di langit Wates masih merundung sedari sore. Di serambi depan, Mas Oke asyik masyuk menyesapembuskan kreteknya ditemani segelas kopi.  Aku yang sedari tadi mengabaikan, coba berani menyapanya.

“Mas, hambok istirahat dulu, sudah malam loh.”

Diam. Mas Oke hanya menyeruput kopinya, kemudian kembali menyesap kreteknya.

“Mikirin mbakyumu? Kamu belum mantep, nikahin aku?” nadaku kesal.

Mas Oke menengok sejenak, lalu melengos lagi.

Gereget. Kududuk mendampinginya.

Ngomong, Mas. Ojo meneng wae, bukannya sudah maumu, kalau keluargamu sebaiknya tak diberi tahu besok kita menikah, to?”

“Durhaka besar aku ini, Jum” jeda, “Tapi, kalau aku memberi kabar, sudah pasti mereka tak bakal setuju, apalagi restu” ungkap Mas Oke akhirnya. Matanya menatap lekat mataku, tampak berkaca-kaca. Begitu pun mataku.

Hening.

“Maafkan aku, Jum. Aku bukan calon suami terbaik buat kamu.” Katanya, sambil mengulek puntung rokok di asbak agar baranya mati. Asap kecil mengepul dari situ.

“Aku juga minta maaf, Mas. Tapi dengan keadaanku, Simbok dan Bapakku tak mungkin mengizinkanmu mengulur waktu. Besok pagi, akad harus terjadi, atau…”

“Ya, INSYAALLAH aku siap, Jum!” katanya bergetar.

“Harus, Mas!” selaku, “Ya sudah, aku pamit tidur dulu, Mas. Ngantuk.”

Aku beranjak dari dipan, kembali meninggalkan Mas Oke sendirian. Kutengok Mas Oke, sebelum aku masuk kamar, hanya tampak anak punggungnya, sesekali bergetar karena terpaan dingin angin malam.

Hingga keesokan paginya, pukul tujuh pagi. O Astaga, Mas Oke masih meringkuk,terlelap di dipan tanpa sempat memindahkannya ke ruang depan.

Kuelus tangannya, demi membangunkannya.

“Mas, sudah siang. Satu jam lagi, jadwal kita ke KUA loh, Mas” bisikku, yang telah siap dengan setelan kebaya panjang dan dandanan sederhana.

Matanya terbuka. Gegas kusuruh ia mandi dan bersiap-siap.

Sepuluh menit, Mas Oke telah siap dengan setelan jas hitamnya. Begitu juga Simbok, Bapak, dan saudara-saudara yang mengiring akad nikah kami.

Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya rombongan kami sampai di depan kantor KUA.

Setelah kami dipersilakan duduk berhadapan dengan penghulu, debar dahsyat menghantamku tiba-tiba. Sesaat sebelum ijab, penghulu menjelaskan tata caranya.

Ketika dijabat tangannya oleh penghulu, Mas Oke gugup, tangannya gemetar.

“Saudara, Oke Diantara, Saya nikahkan saudara dengan saudari Jumiatun Binti Rukmana dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dibayar tunai.”

Tergagap.  Alih-alih mengucapkan ijab qabul, Mas Oke justru meneteskan air mata.

Penghulu yang merasa diremehkan, membentaknya seketika. Setelah diberikan jeda waktu, akhirnya proses ijab qabul diulangi. Hingga pada pengulangan ketiga, Mas Oke berhasil mengucapkan ijab qabulnya. Air mataku menetes pada akhirnya. Tak sia-sia aku menyerahkan terlebih dahulu keperawananku padanya, batinku.

 

Untuk meramaikan Posting Serentak #25Januari @mondayFF