#Review: BEE BRILLIANT!

Buat sekadar isi postingan blog saja

Kali ini  saya yang bukan seorang gamer addict mencoba mereview game android: Bee Brilliant! dari Tactile Entertainment. (1)

Lebah pintar ini termasuk dalam genre game puzzle. Cocok untuk permainan anak-anak. Unik. Seru.

Sama seperti game puzzle kebanyakan, setiap level mempunyai goal yang berbeda-beda. Pun setiap kenaikan level kamu akan diperkenalkan dengan karakter baru. Jangan khawatir, setiap kenaikan level dan goal baru, kamu akan dipandu kunci-kunci agar goalmu lekas tercapai.

Serunya, selain kamu dipandu oleh kunci-kunci, kamu  juga akan mendapatkan bonus  boost untuk mencapai goal yang variasi di setiap level. 

Sejauh ini, (saya baru mencapai level 16) tak ada kendala. 

Yang unik dari game ini ialah, tampilan greeting jeda saat goal kamu tercapai dan akan menuju next level. Yup, sekawanan Lebah Pintar ini akan bernyanyi paduan suara, akapela untukmu. Variasinya banyak: dari sekadar acapela, beatbox, jazz, dan lain-lain. Jumlah personel paduan suara berbeda-beda sesuai dengan jumlah bintang yang kamu peroleh tiap level. Meski sebentar, jangan buru-buru mengklik ke level selanjutnya sebelum paduan suaranya selesai. (2) &(3) 

Demikian halnya game puzzle pada umumnya, mencapai level tertentu, jumlah perpindahan lebah-lebah kamu akan dibatasi. Kamu akan mengulang level yang sama jika gagal mencapai goal dan batas perpindahan lebah kamu telah terlampaui, itu artinya jumlah life kamu pun berkurang atau kamu bisa melanjutkan langsung dengan menukar koin emas yang kamu peroleh dari setiap goal yang tercapai setiap level.(4)&(5)

Game yang telah di download sebanyak 1 Juta kali ini memiliki rate  di Google Play Store 4,7.(1) Bagaimana, kamu tertarik untuk memainkannya?

(***)
1.

2. 

3.

4.

5. 

Iklan

(Reduced) Memperkecil Ukuran file pdf via Whatsapp 

Langsung saja, Gaes, setelah reduced -memperkecil ukuran file pdf via online di situs smallpdf.com tidak berhasil (ukurannya masih terlalu besar untuk diupload ke situs rekrut.kereta-api.co.id, dari originalnya 1.5Mb hanya berhasil menjadi 378kb, syarat maksimal upload ke situs rekrut.kereta-api.co.id adalah 200kb) 
Tidak menyerah, saya bereksperimen ini-itu, tapi belum berhasil. Akhirnya bohlam di kepala saya menyala terang, dan hei,  kenapa tidak kucoba via Whatsapp?

Begini langkahnya,

1. Pastikan kamu punya target eksperimen (halah), minta izin teman kamu, iya teman kamu. 

2. Kirim dokumen pdf kamu 

3. Setelah terikirim, klik menu pojok kanan atas pada Whatsapp.
4. Pilih  menu paling bawah “Save as…”(Lihat gambar)

5.Pilih menu “Reduced File Size Copy”

6. Pilih “Smaller File Size” kemudian OK

7. Pilih direktori:terserah kamu, internal boleh, eksternal boleh, pastikan kamu tidak lupa file direktorinya, biar gampang saat upload. (Dalam kasus ini, saya memilih direktori default Internal/whatsapp/dokumen.) jadi saat upload langsung cari folder Whatsapp deh.
8. Selesai. File kamu tersimpan. 
*Note: Dalam eksperimen saya, file yang saya kirim via Whatsapp, beresolusi 378kb, menjadi 178kb, berhasil masuk kriteria ukuran maksimal website rekrut.kereta-api.co.id. Semoga berhasil ya, Gaes!

#DibalikSecangkirKopi : Konspirasi Bapak Dan Anak

Kangen sisa kopi Bapak buatan Ibu…

Beberapa tahun silam saat usiaku sekitar 7, setiap weekend saat Bapak pulang ke rumah. Pagi-pagi Ibuku selalu siap dengan seduhan secangkir kopi hitam untuk Bapak.

Kopi merek lokal khas kota kelahiranku: Kebumen. Adalah kopi hitam, yang kemudian aku tahu itu jenis arabica. (Baca di sini)

Malangnya, Ibu selalu melarangku minum kopi pagi-pagi sebelum sarapan , “O, Ibuku memang tak adil,kenapa Bapak boleh, aku tidak? ” protesku suatu ketika. Bapak senyum, Ibuku hanya diam. Sibuk dengan urusan dapur. Tapi tenang, bapakku, memang Bapak paling keren sedunia, senyumnya tadi memberikan banyak arti. Bapak dengan suka rela-diam-diam berbagi secangkir kopinya denganku.

Berawal dari situlah konspirasi Bapak dan anak terjadi: berbagi kopi.

Pun suatu ketika Bapak juga mengajariku cara lain menikmati kopi dengan cara nguntut kopi; menikmati kopi tanpa diseduh air panas, yaitu bubuk kopi hitam dicampur dengan gula putih kemudian langsung dimasukan ke mulut, sedikit demi sedikit. Entahlah, namun kemudian cara ini menjadi favoritku menikmati kopi tanpa sepengatahuan ibuku. Di sinilah awal kecintaanku pada aroma dan cita rasa kopi.

Konspirasi Bapak dan anak ini terus berlanjut hingga nanti aku SMP.

Setelah masuk SMK, barulah aku tahu bahwa pabrik kopi lokal Kebumen itu terletak di belakang pasar Tumenggungan, nyaris berdekatan dengan kompleks sekolahku.

Benar saja, karena aroma kopi menguar tajam tiap jam istirahat siang.

Lima tahun berlalu sejak aku lulus SMK, dan bekerja di luar kota, berbagai macam kopi telah kurasai. Kini Indonesia telah mengenalkanku pada produk kopi instan yang makin populer, dan menjamur. Moccachino, vanilla, original, seleraku hanya berputar di tiga lini itu.

Hingga pada saat perutku merasakan mulas hebat, pusing, dan mual, aku periksa ke dokter, aku divonis terkena Magg, yang ujung akhirnya, aku disarankan untuk mengurangi konsumsi kopi. Di situ terkadang saya merasa sedih.

White Coffee, adalah alternatif satu-satunya, agar aku tetap bisa menikmati kopi.

Sampai kapan pun, ada kopi, ini baru hidupku!

Tapi aku selalu kangen sisa secangkir kopi Bapak buatan Ibu.

Ah, selalu begitu…
Ini Baru Hidup!
#DibalikSecangkirKopi
****

T:@junioran9er
F:Junioranger Sarif

Teruntukmu: Monday Flashfiction.

Hai MFF, selamat ulang tahun yang kedua. Semoga kita terus bersama di ulang tahun ketiga, keempat dan seterusnya. *cipok*

Seperti aku yang ngga pernah bosan dengan kamu, iya kamu! Kuharap MFF juga ngga bosen denganku. Iya kan? *acungin golok, ngancem*

Terimakasih kuucapkan pada seluruh penghuni MFF beserta founder, co-founder, direksi, dan PIC, dan jajarannya. Kalian orang-orang keren yang membuatku merasa jadi orang keren pun. (maaf ga bisa sebutin satu-satu ya: Ada Mamak Carra, Mamak Latree dengan pesona bintangnya, Mamak Isti dengan fiksimininya yang kemudian kugantikan walau sebentar aku juga diganti :p Mamak Na dengan Bully… Eh Bahas karyanya. Mbak Ranny dengan Book Swap, Kakak Sulung dengan kebahasaan-nya (dulu) sekaligus orang yang berjasa menggiringku masuk ke relung hatimu: MFF, ada Kakak Ajen, dengan komennya yang juara. Saya sukaa. )

Apa iya harus kukenang awal pertama perjumpaan kita hingga terjadi ikatan yang luar biasa ini? Biarlah ini menjadi rahasia. (Padahal udah diceritain juga)

Entahlah, jujur semakin hari aku semakin cinta padamu: MFF. Darimu kubisa belajar banyak hal tentang flashfiction.

Coba tengok, blogku jadi penuh ff itu karena kamu, demi kamu. *Ya… walaupun kualitas ff-ku tak sekeren ff teman-teman yang lain. Justru itu kenikamatannya, bisa membaca ff keren yang lain secara gratis!

Tahukah kamu bahwa notifikasi di facebook, jika itu dari kamu buru-buru ku-klik. *eaaa

Sekali lagi selamat ulang tahun yang kedua buat kamu. Panjang umur. Tambah besar. Tambah solid. Pertahankan keseruan yang telah terjadi selama ini.

Maaf atas salah-salah kata yang mungkin terjadi selama aku berada di wilayahmu.

Tetaplah bersamaku mewarnai hari-hari indah kala aku berkisah.

Tetaplah di sisiku menjadi tumpuan menumpahkah resah.

Kau adalah hal terindah yang memantik gairah.

***

Kindly Regard,

Your Friend.

HAPPY BIRTHDAY MFF

image

#ff250kata: Gaya Hidup

“HP kamu kok gonta-ganti mulu, Rey?”

“Iya. Yang kemarin rusak.”

“Wuidihh. Aipon 5?”

“Hehe.” Rey menyeringai sambil tekun membalas obrolan dengan entah siapa.

Awal aku kenal Rey setahun yang lalu. Dia orangnya perfeksionis. Modis. Fashionable.

Pernah suatu ketika kita jalan, aku di bully habis-habisan karena aku salah kostum.

“Din, baju lo nggak banget! Cupu banget.”

Tapi aku tak pernah ambil hati. Sejatinya, Rey teman yang baik dan peduli. Tapi gaya hidupnya yang mewah buatku jengah.

“Rusak kenapa?”

“Sering hang, restart sendiri.”

Aku takjub. Rey selalu bisa membeli barang ber-merk, apa iya dia bisa menabung? Kalau tak bisa menabung. Kenapa bisa ganti hp yang mahal melulu?

Ah sudahlah.

“Din, kamu ga pengen beli aipon 5 kaya aku ini?”

“Mana mampu aku?”

“Bisa. Gajian sebulan juga bisa.”

“Terus… Aku bayar kontrakannya pake apa? Buat makan gimana?”

“Hahahaha. Iya deh!”

“Kamu enak tinggal sama orang tua. Makan gratis. Kontrakan gratis.”

“Heyyy, makan aku beli sendirilah.”

“Tapi kadang-kadang kan?”

“Din, lihat,  Jogger pantsnya keren,” ujar Rey sambil menyodorkan foto di akun instagram sebuah online shop.

“Berapaan? Pasti mahal?” kataku basa-basi.

“Enggak, cuma 300 ribu.”

“Segitu mahal untuk orang sekaliber aku.”

“Hahaha. Tabunganmu kan banyak, Din.”

“Iya. Udah aku kirim ke kampung.”

“Dikirim ke kampung mulu, mending buat seneng-seneng.” katanya berapi-api. Kubalas senyum simpul.

“Tapi, nggak semuanya kamu kirim, ‘kan? Ada pegangan ‘kan di ATM? A-ku minjem lagi… Gajian bulan depan, aku janji mulai cicil ke kamu deh.”

Aduh. Kugaruk pantat yang tak gatal. Dasar kebiasaan kamu, Rey!


Tema: Kritik Sosial
Genre: Drama

Perjalanan pertama kali ke Bandung

SABTU, 27 DESEMBER 2014

Hari ini saya nekat mau ke Bandung, stasiunnya. Tujuannya sih mau cetak tiket kereta untuk mudik liburan tahun baru nanti. Hayyy kenapa repot-repot ke Bandung? Cetak di stasiun terdekat kan juga bisa?
Jadi begini alasannya, saya harus tahu dulu rute Karawang- Bandung itu seperti apa dan bagaimana. Itu penting. Ini kali pertama saya pesen tiket via st. Bandung.

Harusnya sih kalau ada rute Karawang- Kebumen saya lebih milih itu. Sayangnya, tak ada. Kereta jarang berhenti di st. Karawang, hanya berhenti di st. Cikampek. Hehe

Sempat ngerasa hopeless, karena sedari pagi cuaca hujan rintik-rintik di Karawang, orang yang kuajak jadi teman ngobrol ternyata tak bisa nemenin. Hoahemmm.

Rencana berangkat dari siang batal. Sejatinya sudah mandi dari pagi justru tertidur hingga sore. Pukul 15.00 WIB terbangun, gerimis mereda. Langit tetap mendung. Kuputuskan goes to st. bandung. Sendirian.

Setelah sebelumnya nanya temen yang biasa wara-wiri ke bandung. Aku manut. Naik bus primajasa Ac “Cikarang-Bandung” dari depan Gerbang perum Green Garden. Harga tiket Rp 52000. Berangkat pukul 16.20 WIB sampai di Bandung, terminal Leuwi Panjang pukul 18.30 WIB. itu tanpa macet. Hanya berhenti sebentar di shelter bus KM 57 Tol Jakarta-Cikampek.

Sesuai petunjuk temen, dari terminal Leuwi Panjang naik taxi ke St. Bandung. Bisa ditawar dulu(asal yang biasa jangan yang Blu* Bir*). Harusnya sih kata temen ga nyampe Rp50000, tapi ya sudahlah dri penawaran 75000, kami deal 55000 diantar sampai depan st. Bandung. Lumayan jauh loh!: Leuwi Panjang-St. Bandung.

Pukul 19.00 WIB sampai st. BANDUNG, mampir ke ATM sebentar kemudian ke mesin CTM (Cetak Tiket Mandiri).

Sudah tercapai tujuan utamanya. Kepikiran untuk mengulang rute yang sama untuk kembali ke Karawang sepertinya merepotkan. Akhirnya, iseng liat aplikasi paditrain, adakah KA Bandung-Cikampek. Ternyata ada. BANDUNG- Cikampek, Ciremai Ekspress 95 Bisnis, seharga Rp 70000. Berangkat pukul 19.25 eta sampai pukul 21.15 WIB. Langsung order tiketing, dan ternyata pas bayar harganya cuma Rp 50000. Alhamdulillah. Siap grak! Jadi. Sembari nunggu kereta datang, aku nyempetin sholat isya di stasiun.

Pukul 19.25 WIB, kereta datang dari jalur 3.

Here we go! Getchaaa! 19.35 WIB dari ST. BANDUNG.

Sampai di St. Cikampek ternyata pukul 22.00 WIB.
Hasil nanyain temen lagi, dari st. Cikampek ke Karawang naik bus Warga Baru. Aduhayy, saya belum beruntung ternyata bus sudah tak ada. Tak habis akal, nanya orang sekitar, ada akses angkutan ke Karawang mobil carry. Bayar Rp 12000. Dari pada ojek yang mungkin bisa lebih mahal.

Cikampek- Karawang setengah jam. Turun di Johar. Nah dari Johar saya terpaksa ngojek karena tak ada akses angkot ke Green Garden. Rp 20000.

Selesai. Perjalanan Karawang-Bandung, Bandung-Karawang.

Jadi kalau dikalkulasi total biaya keberangkatan 52000+55000=Rp 107000.
Pulang 50000+12000+20000=82000.

Total keseluruhan PP 107000+82000=Rp189000

Catatan:
*harusnya kalau angkutan kepulangan bisa sesuai rencana naik bis Warga baru mungkin lebih murah? *mungkin saja*
Demikian cerita singkat perjalan pertama kali ke Bandung (Stasiunnya). Besok pada harinya aku mudik bisa tenang sampai di sana.

*Setelah sekian tahun ngga pernah naik kereta karena susahnya pesan tiket, ternyata KA sekarang sudah berinovasi dengan memasang 2 stop kontak di setiap kursi. Bye-bye powerbank. Kalau yang kelas ekonomi kurang tahu siih… (Mungkin kelas bisnis ke atas saja)

Akankah bis berinovasi dengan ini juga?

Makan Bakso

image
Dokumentasi: Mbak Rinrin Indrianie

Suatu siang setelah kegiatan outbond, kini tiba acara bebas family gathering bagi peserta. Ada yang makan, sekadar istirahat, dan sholat dzuhur. Nampak Asep dan Alex berbincang di parkiran bus.

“Lex, lo laper ga?” tanya Asep pada Alex

“Enng…ga sih, emang kenapa?”

“Gue laper, bakso yuk!”

“Emang ada di sini? Ini kan daerah pegunungan.”

“Kata temen gue ada, Lex, setengahan kilometer dari sini”

“Terus, jalan gitu?”

“Iyalah. Ayolah, temenin gue, jarang-jarang kan kita makan bareng pada moment family garhering gini” katanya sok akrab.

“Oke deh. Demi lo nih ya!”

“Asik! Lo baik banget sih, Lex.”
**

Sesampainya di warung bakso, Asep gegas memesan. “Bang, Baksonya dua ya!”

“Sep, gue kosongan ya baksonya.” bisik Alex pada Asep.

“Bang, yang satu kosongan aja ya!” kata Asep meralat pesanan Baksonya.

“Lo kok kosongan gitu, Lex? Kayak gue dong pake mie, lengkap biar kenyang sekalian. ” Asep menyarankan.

“Gue kan udah bilang, ga begitu laper, Sep. Demi nemenin lo doang, mau makan nih…” Alex berdalih.

Sepuluh menit kemudian dua mangkok bakso mendarat di meja Asep dan Alex.
“Lex, Lo laper apa doyan? Kok cepet banget abisnya.”ujar Asep meledek.

“Iya, kan peraturannya yang abis belakangan yang bayarin baksonya.” Alex tertawa jahil.

“Enak aja, Lo. Sejak kapan bikin peraturan macam itu? E, tapi ga apa-apa deh, karena lo udah baik, mau nemenin gue makan, gue rela bayarin deh.”

Continue reading “Makan Bakso”

Banjir

Tanggal 25 Desember di saat tetangga tenggelam euforia Natal, aku justeru tenggelam karena banjir *ini berlebihan.
Ya, sore itu aku yang sedang asyik berlibur, malas-malasan di kamar saja. Ya, karena di luar sedang hujan deras beserta angin. Sejam, dua jam, ternyata hujan belum juga reda. Aku masih bergeming. Tak beranjak dari singgasana. Dan tiba-tiba, *blusshh* air ngalir dari celah pintu. Benar-benar banyu mili. Ya Tuhan, aku panik, tak sempat membereskan barang-barang tak berharga. Akhirnya kasur, bantal, dan CPU terendam. Makin panik karena air sudah masuk sekitar 30 cm namun hujan masih menghujam bumi ini. Teriak malu, ga teriak panik melulu. Mondar-mandir sembari beresin barang-barang *telat aksi

**
Berusaha tak panik dengan merapal mantra “jangan panik, jangan panik, jangan panik“ Sialnya mantra itu tak manjur, ‘hambaMu panik Ya Allah’.

**
Di luar masih hujan. Suasana menuju petang. Kalian tahu apa yang aku lakukan? Ya, nongkrong di watercloset, karena kamar depan sudah tergenang, dan karena toilet area yang cukup tinggi tentunya tak terjangkau air.

**
Air muntlup-muntlup, melambai-melambai padaku yang masih asyik nongkrong di toilet, namun sejatinya kesakitan karena terserang kesemutan.

**
Sekitar tiga jam kemudian hujan reda, kutengok luar, ah gerimis. Semoga hujannya benar-benar reda. Kini waktunya menggiring aliran air ke luar. Ngepel, membersihkan kotoran, membereskan barang-barang yang berantakan.

Pukul 21.00 wib, semuanya selesai. Ya Allah, hamba benar-benar panik but lifes must go on, (artine opo iki?) Berpikir positif. dan ahaa, ini hikmahnya: aku berencana menghubungi Pak RT meminta surat keterangan banjir untuk laporan ke kantor, dari cerita pengalaman yang sudah-sudah, nantinya kita dapat insentif, semacam santunan bencana alam. Alhamdulillah, lumayan.

Bersambung….

25 Januari

mff

“Al, bilangin anak-anak besok kita kumpul seperti biasa“

“Jam berapa Ka, dalam rangka apa?“

“Jam 1 siang gimana? Ya pengen kumpul aja“

“Ok. Nanti aku conversation di BBM ya“

**
“Halo semua, Kaka ngajakin kita kumpul besok“ Sapa Al

“Iya. Kumpul ya, Sabtu jam 1 siang“ Jelasku

“Sabtu? Duh, gue masuk kerja“ Tulis Mel

“Akika juga mau ke kantor polisi, ada urusan“ Tulis Tan

Ah sepertinya rencana gagal. Dengan malas kututup obrolan tadi.
**
Keesokan harinya.

Uh. Hari ini sungguh libur yang membosankan, tanpa acara kumpul bareng teman-teman.
Aku sungguh butuh hiburan. Setelah mandi pagi, lanjut sarapan, kuputuskan pacu motor sekadar jalan-jalan tanpa arah dan tujuan.

Melantunkan lamunan sepanjang perjalanan, hingga tak sadar sampai perempatan. Sial aku tak sadar lampu nyala merah, aku terus terobos jalan.

“Priiit“

Aku gelagapan ketika Polisi membunyikan peluit tanda aku kena tilang.

“Selamat siang Pak, bisa tunjukkan surat-suratnya?“
**
Terseret. Aku digiring menuju pos polisi untuk mempertanggungjawabkan segala pasal pelanggaran.

Tiba-tiba, segerombolan teriakkan mengagetkanku

“Kaka??? Kena tilang juga?“

“Tan, Mel, Al? Kalian ngapain di sini?“

“Selamat ulang tahun Kaka, hari ini 25 Januari kan?“ Sambil menjabat tanganku bergantian.

Jadi mereka memang bersekongkol menolak ajakan kumpul karena berniat memberiku surprise. Tapi kenapa ke tilang berjamaah ya?


“Ditulis Dalam rangka memeriahkan ulang tahun Monday Flash Fiction yang pertama“

Hari Bersamanya

Hari ini mungkin hari terakhirku bisa bercanda mesra dengannya, karena esok sudah di pastikan Dia beranjak dari sini, melanjutkan hidup di lingkungan yang baru katanya. Ya, dia memutus kontrak setelah bekerja dua tahun di sini. Menyebalkan. Oh tidakkah kau bertanya mengapa ini terasa menyebalkan bagiku? Entahlah, akupun malu mengakuinya kalau…

“Lex, makasih selama ini Lu udah banyak bantuin gue…“ Katanya yang datang dengan tiba-tiba mengejutkanku.

“Eh, iya. Sukses ya di luar sana, jangan lupain aku!“ Jawabku berpura-pura tenang.

“Aamiin Lex“

“Nih,“ sambil kusodorkan sebuah bungkusan, dia bingung “Eh, ini ambil, anggep saja kenangan terakhir dari aku Ndi“

“Apaan ini?“

“Buka aja“

Tanpa aba-aba dia langsung merobek bungkusan yang kubuat rapi. Setelah ia tahu isinya ia pun langsung meluapkan ekspresi terimakasihnya dengan merangkulku.

“Makasih Lex, Lu tau aja kalau gue suka Jersey Milan“

“Iya dong, apasih yang nggak aku tahu tentang kamu? Aku tahu segalanya Ndi. Kamu aja nggak pernah menyadari itu.“

“Lex, Lu sahabat gue yang paling baik. Lu orang kedua yang pernah ngasih gue sebuah hadiah“

“Eh…ternyata aku orang kedua?“

“Makasih Lex, ini gue suka banget. Kalau gue pake ini pasti gue inget lo terus!“

“Ahh, lebay. Berlebihan kamu Ndi“

“Serius!“

Baguslah, kalau kamu inget terus sama aku, akupun juga begitu.

“Oh iya Ndi, kamu udah beresin semua barang kamu? Nggak ada yang ketinggalan kan?“

“Beres semuanya Bos! Tapi kalaupun ada yang tertinggal, pasti itu sesuatu yang sengaja gue tinggal.“

“Maksud kamu?“

“Ya kenangan kita, kenangan gue kerja bareng lu pasti membekas,“ Sambil ia menyeringai. Tanpa beban ia ucapkan.

Sepertinya diantara kita memang tidak ada sesuatu, ya maksudku dari sisi dia, kalau dariku jangan tanya, kalau aku sebenarnya….

Mungkin memang dia sudah menemukan jodohnya, meski dia tak pernah antusias menceritakannya padaku selama ini. Tapi apa yang dia katakan ketika kuberikan hadiah tadi sudah cukup buatku berprasangka, walau hanya sebuah praduga.

Ndi, sebenarnya aku tak rela kamu pergi dari sini, aku ingin terus bersama kamu Ndi, bukan hanya di tempat kerja, tapi lebih dari itu, aku ingin bersamamu dalam mengarungi…

“Lex, lu ngapain bengong dari tadi?“ Lagi-lagi ia mengejutkanku. Dan itu yang selalu aku ingini, kau memberikanku kejutan di setiap hariku Ndi.

“Eh, kenapa?“ Sambil kugaruk kepala yang tak gatal

“Lu kenapa? Kayak orang bingung, kesambet ya?“

“Ng…nggak ko, enak aja!“ Sambil kuketuk tuts keyboard acak.

“Gue pamit ya, bentar lagi istirahat makan siang tuh! Sorry nggak bisa makan siang bareng, gue musti buru-buru ngurus berkas-berkas gue di sini Lex“

“Eh iya, nggak apa-apa“ Jawabku malas

“Lu nggak apa-apa kan setelah gue tinggal nanti?“

“Maksudmu?“

“Nggak bakal kangen gue gitu?“

“Eh? Please, jangan mancing perasaanku Ndi,  jangan tambah berat bebanku untuk sekadar melepasmu

Haha. Lagi-lagi ia menyeringai.

“Gue, bakal kangen lu Lex, I love you!“

….