#FFKamis – Perempuan Itu Bernama Kayem

​ 

Sebagai anak sulung, menikahlah satu-satunya cara Kayem meringankan beban orangtuanya. Membantu kelangsungan hidup keluarganya. Benar, Kayem dinikahi Tejo,  pemilik berpetak-petak ladang di kampungnya. Demikian, Kayem mempekerjakan adiknya di ladang suaminya. Dapat upah, juga bonus hasil ladangnya. Setahun kemudian, lahirlah  Syukron, anak pertamanya. Sempurnanya kebahagiaannya. Sayangnya, Tuhan menguji ketentraman hidupnya, Tejo berahi, minta istri lagi. Kayem tak sudi, perceraian terjadi. Kayem memutuskan membesarkan Syukron sendiri. Tuhan menguji Kayem sekali lagi: seminggu demam tinggi, Syukron mati. Kayem tak patah hati, sebulan kehilangan anak dan suami, Dulah datang padanya bermaksud memperistri. Kayem mesam-mesem. Kayem tak habis pikir, keberuntungan apakah yang membuat Dulah kesengsem.

Iklan

#FFRABU: Mbak Susan

Namanya Susan, dia kakak perempuanku. Saat ini usianya 30 tahun. Belum menikah. Atau tepatnya dia gagal menikah dua kali. Dua kali dikhiananti. Ditinggal pergi oleh  dua pria bajingan. Pria pertama, meninggalkan mbakku ke luar Jawa, mengekor janda kaya yang dihamilinya. Pria kedua, meninggalkan mbakku karena diguna-guna wanita. Menurutku itu bohong belaka. Karena dari artikel yang pernah kubaca mengatakan, bahwa pernikahan yang diawali dengan guna-guna tak bisa memiliki keturunan, tapi kabar yang kudengar dari koneksi, pria itu kini sudah beranak-pinak.

Kautahu? Sebagai adik, aku miris melihatnya. Kuharap Mbak segera menikah.
Meski kulihat mbakku bahagia dengan dua anak yang dibesarkannya tanpa suami.

Puteri Panggung

Panggung ke panggung
saya sering bergoyang
Suka dan duka terkadang saya rasakan


“Langsung pulang?” Ujarku
“Iya mas, Uut capek banget” jawab Uut
“Ya udah, mas anter kamu ya!”

Tanpa ba-bi-bu, Uut beringsut masuk ke mobilku. Sudah rutin, aku menemaninya pentas dari panggung ke panggung hajatan.

Sesampainya di rumahnya,

“Mas Joko, makasih ya, Uut masuk dulu” katanya dengan manja, dan tak lupa memberiku ‘bonus’ ciuman mesra.

Kini dialah diva panggung lingkup daerah, dan kabar baiknya awal bulan depan dia ditawari rekaman di studio ternama Ibu Kota.

Hey, dulu aku dan Uut, teman satu SMA, kita teman baik. Aku tahu hobinya basket, dan jago karate. Siapa sangka,  justru sekarang dia menjadi Diva dangdut. Apalah peduliku, itu masa lalunya, waktu Uut masih menjadi Ketut.


diikutsertakan untuk #FF100Kata
*Inspirasi : lirik Puteri Panggung- Uut Permatasari

Mas Dudi

Apa kau tahu rasanya diabaikan? Tak dianggap sama sekali, hanya karena aku ini seorang pekerja rendahan.Sakit bukan? Ya, akulah si tukang cuci gelas bekas ampas kopi.

Adalah Dudi, laki-laki manis yang mencuri perhatianku, menggoyahkan imanku, buatku jatuh cinta. Tapi kenyataannya dia angkuh, tak acuh dengan semua perhatian yang kuberikan.

Tapi aku tak mudah menyerah, cara apapun akan kutempuh, asalkan Dudi bisa berubah jadi cintaku, termasuk menyerahkan keperawananku. Aku terlalu nekat? Tentu tidak, aku cuma bergurau.

Karena kejadiannya, kini Dudi telah bertekuk lutut padaku. Karena Dudi kini sadar betapa tulusnya cintaku?

Ah, aku memang beruntung, ternyata wasiat Mbah Yem tentang jampi-jampi dari bekas ampas kopi manjur.

Kini Mas Dudi bukan lagi majikanku, dia suamiku.


FF ini diikutsertakan untuk #FF100Kata