Ikat Kepala Kakekku

Gambar: Webtoon

”Jangan macam-macam dengan barang peninggalan Kakekmu.” ujar ibu.
“Nggak apa-apa, Bu. Ini kan cuma ikat kepala. Kupakai saja.”

Sejak itu ikat kepala kujadikan jimat keberuntungan. Selalu kubawa kemana saja. 
*
Tengah malam. Hujan gerimis. Rintik menitik bau amis. Langkah kaki berderap-derap, rupanya itu suara langkah kaki Amar dan Amir keliling ronda, mengepul beras jimpitan. Sesekali siul-siul, bernyanyi.
DEG. Mendadak sunyi. Bibir Amar dan Amir tak lagi berbunyi. Tepat di teras rumah yang hanya diterangi bohlam lima watt. Temaram. Sesosok nenek menghadap tembok, sibuk menyisir rambut putih panjangnya. Paling Mbah Yem, batin Amir.
“Lagi ngapain, Mbah? Dhidhis kok tengah malam?” sapa Amar, melangkah-mendekat, mengambil beras di gantungan teras. Geming. Nenek itu tak menjawab. “Permisi…” Gegas Amar mengajak Amir pergi. Seusai berkeliling kampung, saat kembali ke pos, seseorang memberi tahu, rumah itu kosong, ditinggal pergi ke luar kota sore tadi.
**
Kejadian di teras rumahku itu mendarat di telingaku esoknya, saat keluargaku pulang.
Bualan, batinku.
Malamnya, hujan-geluduk turun. Gemerisik nyanyian daun gayam membuatku mengantuk, aku rebah.
Tak… Tuk… Sayup  kudengar suara tetes air menembus genteng bocor. Kuabaikan.
Tuk… Tuk… Suara itu semakin riuh.
Pergelangan kakiku serasa digigiti nyamuk. Nyeri.

Berat, kupaksakan buka mata demi menggaruk. Kutekuk kakiku, agar tanganku leluasa menggaruk. Namun, kurasakan tanganku digerayangi. Astaga! Aku melonjak. Sekumpulan rangrang menggigiti kaki dan tanganku. Terhuyung-huyung, menyeka rangrang di tangan dan kakiku. Banyak. Rangrang terus jatuh dari sarangnya yang terhempas angin, masuk melewati atap genteng yang bocor. Perlahan merayapi tembok, kupandangi dari posisiku berdiri, perlahan membentuk gambar serupa wajah. Entahlah. Aku melanjutkan tidur di kamar sebelah.

**
Malam Jumat, saat tertidur pulas, dalam mimpiku, melintas sesosok makhluk berbaju hitam, tinggi menjulang, hingga tak dapat kulihat wajahnya.  Mengitariku berkali-kali. Tak berhasil kubaca ayat-ayat. Lidahku kelu. Kaki besarnya menginjak leherku. Engap, aku tak  bernapas. Lalu dingin merambat di leherku, seketika mataku terbuka. Kupegang leherku, benda empuk bergerak-gerak. Tanganku refleks melempar. SIAL! Ular sebesar jari tangan baru saja menggerayangiku, menggeliat di jendela saat kunyalakan lampu. Menjulurkan lidah bercabang, seperti mengejekku. Tubuhnya abu-abu, kepalanya merah. Gemas, sigap kuambil gagang sapu. Kupukul-pukul. Kepalanya nyaris hancur. Ekornya menggeliat, melingkar, seperti menyembuhkan kepalanya.

Seketika sekelilingku mendadak gelap. Asap mengepul mengepungku. Kembali dingin merambati kepalaku. Air menetes-netes, baunya anyir darah busuk.

Kudongakan kepala,  dua bola jingga semburat terang menatapku dari ceruk mata yang buyar kelopaknya. Lengkungan mulutnya selebar bulan sabit, gigi-gigi tajamnya terbit. Rambut putihnya menjulai, dari tengkorak yang cerai-berai. Beruntun terdengar desahan menggema di telingaku, “I-kat ke-pa-la-ku…”

___
*Dhidhis : mencari kutu sendiri

Untuk Prompt #131 – Horror @mondayff

 

Iklan