LIBRA

Gambar: Arteide- Eduardo Rodriguez

Jam 9.00, bel berbunyi, waktu istirahat. Gegas aku ke kantin, karena tadi pagi belum sempat sarapan. Membeli sebungkus nasi kuning dan segelas es teh, aku duduk di pojok kantin.

Membawa sebungkus roti, Bono datang menghampiriku.

“Lo beneran putus sama Tono, Mar?”

Sedetik aku berhenti menyendok nasi, “Iya,” jawabku singkat tanpa memandang Bono.

“Bukan karena kemarin lo nemenin gue ke distro kan?”

“Hmmmm.” Sendokkan terakhir, dan nasi kuningku tandas.

“Begini ya, gue sama Tono emang udah tengkar jauh sebelum ini, bukan karena kemarin gue nemenin lo ke distro terus jadi masalah.”

“Syukur deh… lo emang temen yang baik, Mar. Makasih ya, kemarin udah mau dengerin curhat gue.”

“Eh, terus gimana, lo udah baikan sama Lisa?”

“Udah sih, tapi Lisa tetep minta kita udahan.”

“Sabar ya, Bon. Suatu saat lo pasti dapet yang lebih baik.”

Obrolan otomatis terputus waktu bel tanda masuk berbunyi. Bono yang polos dan malang, batinku.

Kuselesaikan hari dengan sepenuh hati. Menyimak pelajaran Bahasa Indonesia dengan tekun. Hingga bel tanda usai pelajaran berbunyi.

Nanti sore, jangan lupa ya, datang ke Ultah adek gue. Bono mengirim pesan.

*

Jam 15.00, aku sampai di halaman rumah Bono. Dia datang menyambutku. Orangtuanya mempersilakanku masuk. Baru selangkah masuk, adiknya langsung menghadangku.

“Hadiahnya mana, Kak?” todongnya. Kuulurkan padanya kotak kado berisi mainan, membuatnya otomatis kegirangan. “Horeee, makasih, Kak Marisa!” katanya sambil mengecup punggung tanganku.

“Sama-sama,” jawabku sambil mengusap-usap kepalanya.

Kembali adik Bono menghambur, bercengkerama dengan teman sebayanya. Berlari-lari.

Bono mempersilakanku duduk.

“Terima kasih ya, sudah mau datang,” katanya. Kuanggukkan kepala. Tak berapa lama, anak-anak menyanyikan lagu beruntun selamat ulang tahun-tiup lilin-potong kue dengan riang gembira. Diawali dengan berdoa sebelum potong kue, semua mengamini dengan khidmat.

Setelah memberikan potongan kue pertama untuk orantuanya, secara mengejutkan adik Bono memberikan potongan keduanya padaku.

“Buat Kak Marisa,” katanya. Serempak tepuk tangan bergemuruh.

Sambil kukecup keningnya kuucapkan “Terima kasih.”

“Kak Ma-ri-sa…” ucapnya terbata, “Kak Bono jom-blo-loh, mau nggak, Kakak jadi pacarnya?”

Sekakmat. Serasa tersedak kue tart, aku tak sanggup berkata-kata. Hingga pesta ulang tahun itu usai.

Aku pamit pulang. Bono mengantarku menaiki Busway bersama. Tak ada percakapan sedikit pun di antara kita.

“Marisa, maaf soal yang tadi dibilang adikku,” katanya akhirnya, setelah sampai di Kalideres.

“Nggak apa-apa, Bon,” jawabku. Kami berpisah di situ.

Sambil menunggu Bus AKAP menuju Poris, aku iseng membeli majalah.
Kubuka halaman demi halaman dengan malas, hingga mataku tertumbuk pada halaman yang memuat ramalan zodiak. Jariku menekuni satu per satu, terhenti pada LIBRA.

… Banyak yang kagum pada Libra… zodiak yang paling suka bergaul…

Mereka pendengar yang baik… namun, tidak begitu tegas dalam memutuskan sesuatu…

Baik pria maupun wanita Libra, umumnya cepat mendapat jodoh.*)

Kututup majalah itu, saat bus Primajasa: Kalideres-Poris menderu di depanku. Kulambaikan tangan pada kernet, gegas masuk menekuni bangku kosong. Setelah aku duduk, bus siap melaju. Begitupun denganku, esok kan kusambut hari baru.

__

*dari zodiaktop

Untuk Prompt #132 – Zodiak @mondayFF