Peluru Yang Bersarang di Otakku

Foto: korannonstop

~
DOR! Peluru dari revolver rakitanku melesat, menembus kaki istriku. Tubuhnya ambruk. Berdebam. Darah merembes dari kakinya. Aku kalap saat dia mengabarkan kehamilannya. Padahal seingatku, setiap permainan kami, kukenakan kondom. Tetangga berkerumun, melarikan istriku ke rumah sakit, aku berlari ke kantor polisi menyerahkan diri. Pendeknya, aku divonis sepuluh tahun, meski aku berharap lebih lama dari itu. Tentu saja kautahu maksudku, aku pengangguran. 

Sepuluh tahun ternyata berlalu cepat hanya dalam satu paragraf ceritaku.

Aku harus berjuang untuk hidup,  pikirku. Tak lagi punya tempat tinggal, aku menggelandang. Hingga angin membawaku pada kepala begal. Tiba-tiba…

“Kau bisa menembak?” 

“Bisa.” 

“Bagus. Mari, kau kurekrut jadi anggotaku!”
Begitulah kira-kira, singkat cerita kini aku bagian dari mereka.

Tengah malam beroperasi. Di jalanan sepi, pengendara motor sial melintas, kami beraksi.

Memepet dari kanannya, “Berhenti!” teriak temanku.

Pengendara kalap, memacu motornya, “Bangsat! Tembak saja, Cuk!” usul temanku. Aku bersiap.

Di tengah keremangan kutarik pelatuk, kubidik korban sialan itu. DOR! Revolverku mengenai lengan targetku. Oleng. Beruntungnya, motor itu ambruk ke semak-semak, sementara pengendara terpental, tubuhnya berdebam menghantam aspal. Dalam keremangan kulihat darahnya mengucur. Gegas kuambil alih motornya. “Mampus. Dasar sial!” Aku menyumpah. Misi pertama berhasil. Begitu juga dengan misi-misi selanjutnya. Bertahun-tahun.

Sampai pada akhirnya polisi mengendus aksi kami. Pertempuran sengit terjadi, markas kami terkepung. Kulihat kawan-kawanku lari dalam bingung, sementara aku nyaris limbung setelah peluru nyasar menembus kakiku yang dibungkus sarung. Darah menerus di tengah pelarianku. Terkatung-katung. Tepat di saat napasku tersisa satu-satu, seraut wajah sangat kukenal, dialah mantan istriku. Seketika aku rebah.


“Bangun! Bajingan keparat!” teriakan itu mengembalikan kesadaranku dalam lemas. Aku terkejut, posisiku terduduk, sekaligus terikat dalam kursi. Darah masih menetes dari betisku. Perih.

“Halo, Bajingan, apa kabar?” 

BUK! Dia menendang tulang keringku sepersekian detik sebelum sempat aku menjawab. Aku mengaduh dalam sakit yang tak terkira.

“Kau akan ingat ini,” ucapnya saat menunjukkan benda di balik genggaman tangannya, lalu mengarahkannya ke dahiku. “Persis, kan?” desisnya. 

Aku ingat, itu revolverku yang melepaskan peluru pada betis istriku dulu.

“Jikalau bukan karena aku dinikahi lagi oleh polisi itu…” katanya sambil meneteskan air mata. 

“Kau… kautega membunuh bayiku, Bangsat!” ucapnya dingin. Menatapku tegar. Sambil menarik pelatuk, kulihat tangannya gemetar. Tak peduli aku gusar.

DUAR! Peluru itu bersarang di otakku untuk sekejap lalu keluar.

***

Untuk Prompt #134: Peluru @MondayFF

#ff250kata: AKU CEMBURU

IMEL Art Printed Express: Semua yang Anda butuhkan untuk kuku yang menakjubkan.

“Jeng, aku mau ganti warna!” Sapaan Minuk mengejutkanku siang ini.

“Ya, mau warna apa, Nuk?”

“Aku nggak pede nih pake warna merah terlalu berani. Warna apa yang cocok?”

“Sebentar, kamu orangnya lembut, cocok nih sama warna rose, beige. Mau yang mana?”

“Beige?”

“Iya, matching loh sama kulit kamu.”

“Baiklah…”

Wait, aku siapin dulu bahannya.”

Aku balik kanan, menuju lemari, mengambil peralatan dan bahan yang kubutuhkan, kemudian kembali lagi.

“Oke, aku hapus dulu cat merahnya.” kubasahi kapas dengan aseton, kuusap kukunya.

“Ini cairan apa? Botolnya gede banget?”

“Aseton.”

“Berapa lama ini hilang?”

“Sebentar kok!”

“Jeng Mel, tahu ndak sih?”

“Apa?”

“Sumpah ya, Anton romantis banget. Kemarin ngajak aku dinner…”

“Eh?” Minuk sialan. Kamu sengaja panasin aku.

“Iya, habis itu dia ngajak nonton…”

Emosiku buncah tertahan. Dadaku sesak seketika.

“Sebentar, aku ke belakang, ada bahan yang belum kuambil,” alibiku untuk menyembunyikan amarah.

Di depan lemari kaca, aku menyeringai. Aku hafal maksud kedatangan Minuk seminggu sekali ke salonku pasti untuk memantik amarahku.

Sejujurnya, Minuk tahu, Anton itu mantan pacarku setahun yang lalu. Hubungan kami kandas tak jelas. Anton lenyap. Hingga akhirnya kembali muncul berstatus kekasih Minuk, janda kembang dengan segudang harta.

Hari ini adalah puncak kemarahanku. Tunggu saja reaksinya, sebentar lagi.

“Jeng…” teriak Minuk nyaring dari arah depan.

Geming. Aku tersenyum sinis di depan kaca.

Sudah bereaksi.

“Jeng… aduh… ini ken… Aaaaak!”

Manjur. Sesuai perkiraanku, aseton itu tak hanya mengiritasi kulit Minuk. Aseton yang mudah terbakar meledak, memanggang tubuh Minuk hidup-hidup saat kuputar tombol penghangat ruangan pada posisi maksimal

.